
Akhir pekan tak terasa sudah berlalu. Kini orang-orang kembali menjalani aktivitasnya di jam kerja masing-masing.
"Ada apa denganmu? Kau kelihatan murung. Apa terjadi sesuatu?" tanya Abel penasaran. Dia adalah teman dekat Kanaya di kampus.
"Tidak. Hanya saja hari ini aku sangat lelah sekali. Pekerjaanku masih belum selesai" sahut Kanaya
"Mau ku traktir makan?"
"Tidak usah. Aku tidak selera makan"
"Kenapa? Apa kau begitu tidak berseleranya hari ini?"
Kanaya mengangguk membenarkan.
"Hei! Alex sudah kembali!" sorak salah satu mahasiswa kampus dengan histeris hingga membuat kegaduhan secara tiba-tiba.
Kampus langsung berubah seperti kapal pecah. Para gadis kampus berbondong-bondong berlarian untuk melihat langsung.
Kanaya dan Abel melongo kaget.
"Apa-apaan ini? Apa yang terjadi? Kenapa mereka berlari ke luar?" Kanaya bertanya.
"Apa kau tidak dengar? Flower boy kampus ini sudah kembali" jelas Abel
Kening Kanaya berkerut. "Flower boy? Apa itu?"
"Dia adalah pria tampan di kampus ini. Banyak gadis yang menyukainya. Selain tampan, ia juga dijuluki pria yang jenius"
"Siapa dia?"
"What? Apa kau tidak mengenalnya?" Abel memberikan pandangan kaget.
Kanaya menggeleng kecil.
"Dia adalah Alex, senior kita dan juga cucu pemilik perusahaan yang terkenal di Nirwana saat ini. Perusahaanya berkembang pesat berkat kemampuanya. Aku ingin sekali bisa bekerja di perusahaanya. Ia benar-benar jenius. Ia benar-benar berasal dari keluarga berdarah biru"
"Perusahaan terkenal? Memangnya perusahaan apa?"
"Sh Grup! Perusahaan yang menciptakan game paling menarik saat ini. Siapa yang tidak mengenalnya adalah orang yang benar-benar ketinggalan jaman, dan kau juga termasuk"
Kanaya kaget bukan main. "Apa katamu? Sh grup?"
"Tentu saja. Bukankah kau juga menyukai game yang mereka luncurkan? Ada apa denganmu, Nay?Apa kau salah makan? Beberapa minggu lalu kau juga melamar ke perusahaan itu"
"Tidak. Tidak. Tidak. Biarkan aku berpikir jernih. Ada yang mengganggu pikiranku. Sebaiknya aku kembali"
"Nay! Mau kemana? Kanaya!" sorak Abel. "Apa kau kecewa karena mereka menolak lamaranmu?"
Kanaya tak menyahutnya. Ia bergegas pergi.
Alex tak sengaja mendengar sebuah nama yang tak asing lagi baginya.
"Apa? Kanaya?" ia bergumam dalam hati sambil menoleh ke sekelilingnya. Melihat siapa pemilik dari nama itu.
Untungnya Abel kembali memanggil dan menyebut Kanaya hingga membuat Alex bisa mengetahuinya.
"Kanaya! Tunggu aku!" kata Abel sembari menyusul Kanaya.
Alex memperhatikan gadis yang dipanggil Kanaya itu. Hanya bisa melihat dengan sekilas. Karena ia dikerumuni banyak orang.
"Ada apa? Kenapa berhenti?" kata Bob.
__ADS_1
"Tidak ada. Ayo jalan" jawab Alex.
Mereka segera menuju ruangan pribadi mereka. Disana sudah ada Joe dan Adam yang sudah menunggu.
"Hei Alex. Kau sudah kembali. Lihat, berapa lama kau meninggalkan kampus ini? Tanpamu kampus ini terasa sepi" sapa Joe.
Alex dan yang lainya tertawa renyah.
"Benarkah? Bukankah kau yang paling sering membuat kehebohan di kampus?" balas Alex.
Mereka kembali tertawa.
"Selamat datang kembali, teman!" sapa Adam.
"Jadi, apa kabar denganmu? Kau kelihatan kurus"
"Sangat buruk"
"Kenapa? Apa kau belum menemukan game terbarumu?"
"Entahlah. Tapi aku telah kembali"
"Itu sangat bagus. Apa kau sudah makan?"
"Aku tidak berselera. Banyak gadis diluar sana."
"Sebaiknya kita makan diluar saja"
"Tidak. Aku ingin mencari seseorang"
"Siapa?"
Alex tersenyum sendiri, dan beranjak dari sana. Ia menuju fakultas bahasa dan membuat mahasiswa disana jadi heboh. Alex tak menghiraukan teriakan mereka dan tetap melangkah menuju suatu ruangan.
Para gadis tetap saja berteriak histeris dan mengikuti Alex pergi. Tibalah ia diruangan radio milik fakultas bahasa. Disana ia menghidupkan sound sistem dan mulai bersuara.
"Tes, tes!" suara gagah Alex terdengar disetiap sudut ruangan. "Aku sedang mencari gadis yang bernama Kanaya jurusan bahasa. Datanglah ke sumber suara sekarang" katanya dengan lantang.
Semua orang terheran-heran. Jelas pemilik nama Kanaya dijurusan mereka hanya satu. Mereka mulai berbisik-bisik.
"Apa? Dia memanggil gadis bernama Kanaya?"
"Untuk apa dia memanggil gadis itu?"
Abel yang berada di dalam ruangan mendengar dengan jelas dan terperanjat kaget bukan main. Saat itu Kanaya sedang menuju toilet. Abel langsung menyusul.
Diluar, saat Kanaya selesai dari toilet, semua orang memperhatikanya dengan wajah keheran-heranan. Untungnya Abel datang dengan cepat.
"Nay!"
Kanaya menoleh. "Hai Abel"
"Gawat!"
"Gawat apanya?"
"Sebaiknya kita ke ruangan radio"
"Untuk apa? Sebentar lagi buk Tin akan masuk, kita bisa terlambat"
"Itu tidak masalah. Ini yang lebih penting"
__ADS_1
"Memangnya ada apa? Kenapa semua orang memlerhatikan kita?"
"Kita harus menemukan jawabanya di ruang radio. Seseorang memanggilmu"
"Apa?"
Setibanya disana, Abel dan Kanaya kaget melihat orang-orang sudah ramai berdatangan.
"Apa-apa ini? Apa yang terjadi? Kenapa ramai sekali"
"Entahlah. Kau harua kesana untuk melihatnya sendiri"
Alex sedang menunggu. Dan datanglah Kanaya dengan wajah polosnya.
"Apa kau yang memanggilku?" seru Kanaya
"Apa kau gadis yang bernama Kanaya?"
"Benar. Kau siapa? Apa urusanmu denganku?"
Alex terkekeh. "Kau tidak mengenalku?"
"Tidak. Memangnya kau siapa?"
"Hei dengar, kau pasti sudah merayu keluargaku agar aku menikah denganmu. Sihir apa yang telah kau gunakan pada nenekku?"
Kanaya kaget, ia tidak habis pikir Alex mengatakan hal itu di depan semua orang disana tanpa ragu. Apa ia sedang mempermalukan Kanaya. "Apa? Siapa yang sedang menyihir nenekmu? Aku tidak mengenal nenekmu. Beraninya kau menuduhku" jawab Kanaya tidak bisa menghindar perkataanya.
"Apa kau sedang mencoba menghindar dan pura-pura tidak tahu?"
"Hei! Perjodohan ini bukan keinginanku. Aku sama sekali tidak mengenalmu. Kau tiba-tiba datang dan menuduhku yang tidak-tidak. Orang-orang akan salah paham denganku" akhirnya Kanaya jadi buka suara.
"Apa kau sudah gila! Jika kau tidak menginginkan perjodohan ini katakan pada nenekku sekarang juga"
"Kenapa tidak kau saja. Aku sangat sibuk"
"Turuti saja perkataanku. Datang dan temui nenekku. Katakannya padanya kau tidak menginginkan perjodohan ini."
Semua yang menyaksikan sangat terkejut mendengarnya. Mereka mulai berbisik-bisik iri. Kanaya mendapati orang-orang sedang memperhatikanya.
"Baiklah. Lagipula aku tidak mau menikah dengan orang sepertimu"
"Apa?" Alex kaget.
"Kenapa?" Kanaya menantang.
"Secepatnya kau memberitahu nenekku"
Alex beranjak dari sana dengan menahan amarahnya. Tak disangka pertengkaran itu menjadi berita yang menghebohkan kampus. Semua beritanya sudah tersebar luas, bahkan ada yang merekam kejadian itu sehingga membuat suasana kampus semakin gaduh. Dan berita itu juga tersebar sampai ke Bella yang merupakan artis cantik yang juga bersekah dikampus ini. Ia baru saja menyelesaikan latihan baletnya dan dikagetkan dengan berita Alex.
"Apa kau sudah membacanya?" tanya Yuri menghampiri Bella di ruang ganti.
Bella mengangguk. "Hmm, aku baru saja membacanya"
"Bagaimana Alex dijodohkan dengan mahasiswi bernama Kanaya itu. Aku dengar ia juga menolak Alex. Bagaimana menurutmu?"
"Entahlah. Selama aku tidak disini sudah banyak hal yang sudah ku lewati. Mengejutkan sekali. Siapa gadis itu? Aku penasaran denganya?"
"Dia adalah gadis polos dan seorang junior di fakultas bahasa." jelas Yuri.
"Benar. Kapan-kapan kita akan mengajaknya makan bersama"
__ADS_1
"Baiklah"