
Ezza tertawa riang sampai perut gendut nya bergetar naik turun, saat Bumi mengajak anak laki-laki itu naik keatas punggung. Seolah seperti seekor kuda, Bumi merangkak kesana kemari.
Dari dapur, Kanaya bisa mendengar suara ayah dan anak itu tertawa dan berteriak dengan gembira, sungguh baru kali ini Kanaya mendengar suara anaknya yang lepas.
Ezza selama ini memang anak yang ceria dan juga asik. Namun untuk tertawa lepas, baru kali ini ia mendengarnya. Mungkin karena Ezza tumbuh di lingkungan dimana sang Bunda harus banting tulang memenuhi segala kebutuhan sehari-hari. Sehingga ia tidak punya banyak waktu untuk bercanda lepas seperti itu.
Menu makan siang telah selesai dimasak. Kanaya telah menata dengan rapi diatas meja. Setelah ini ia akan memanggil dua pria beda generasi itu untuk menghabiskan semua masakannya.
"Ezza ajak Ayah makan ya nak, ini udah sangat siang! " Ucap Naya.
"Nanti Bunda, Ezza masih asik. " Jawab Ezza yang masih saja menaiki punggung sang ayah yang lebar itu.
"Eghhh, kasihan lo ayah dari tadi. Nanti ayah kecapean terus sakit, gimana? " Bujuk Naya lagi.
Pria kecil itu diam sejenak kemudian menatap punggung sang ayah yang sedang ia tumpaki.
Rasanya tidak asik jika ayahnya jatuh sakit hanya karena kelaparan. Mereka baru saja berjumpa dan bermain.
"Ya udah deh, Ayah kita makan yuk. Biar ayah tetap kuat gendong Ezza! " Ucap nya. Anak laki-laki itu kemudian turun dari panggung Bumi.
Bumi melihat Kanaya dengan baju rumahan serta apron hello kitty yang melekat. Sudut bibirnya tersenyum, sudah sangat lama ia tak melihat pemandangan itu, Kanaya-nya masih tetap gadis kecilnya yang imut.
"Mas makan siang dulu ya! " Ajak Naya. Bumi mengangguk setuju ia pun bangun dan menggendong anak lelakinya menuju dapur.
"Ayo boy kita makan, biar kamu cepat tumbuh besar! "
Kanaya menyiapkan nasi ke dalam piring kosong Bumi dan juga Ezza.
"Mas mau makan sama apa biar Naya ambilkan? "
Bumi melihat isi dalam meja, perempuan itu memasak tumis toge dengan tahu, ayam goreng, sambel tomat juga ada telur dadar.
"Apa saja sayang, Mas suka kok. "
"Deghhh." Jantung Kanaya tiba-tiba saja berdetak, panggilan itu sudah sangat lama tak ia dengar, dan sekarang ini entah mimpi atau nyata ia mendengar suara panggilan sayang itu lagi.
"Bunda... Ko melamun?" Tanya Ezza yang memperhatikan Kanaya diam saja. Padahal sang ayah menunggu makanannya.
" Oh.. Ia nak bunda lagi ingat Tante Sora belum makan, pasti dia lapar. " Jawab Naya dengan sedikit salah tingkah.
"Tante Sora bisa pesen GO-FOOD Bunda. " Jawabnya.
" Ayah, ayo makan yang banyak, masakan Bunda sangat enak lo. " Kata Ezza lagi pada Bumi yang sedari tadi hanya mendengar apa yang ini dan anak itu perbincangkan.
__ADS_1
"Oh iya sayang, tentu Ayah sangat tahu jika Bunda itu pandai memasak. Karena ayah dulu juga gak mau makan kalau bukan Bunda yang masak. "
"Oh ya? Berarti dulu Ayah juga tinggal sama Bunda? " Tanya Ezza penasaran.
"Iya donk, Ayah sama Bunda itu tinggal bersama dalam satu rumah sebelum Ezza lahir. Bunda itu paling suka makan pedes, Ezza suka gak? "
Ezza hanya sedikit mengangguk karena antara suka dan tidak masakan pedas itu.
"Berarti mulai hari ini Ayah akan tinggal bareng sama Ezza sama Bunda kan?"
Bumi menatap Kanaya seolah meminta jawaban, ia sendiri sangat ingin tinggal bersama mereka, tapi hubungan nya dengan sang istri masih perlu perbaikan.
Bumi masih harus berjuang agar Kanaya nya yakin dan mau kembali lagi ke rumah mereka tanpa ada rasa takut lagi.
" Ayah sebenarnya ingin sekali tinggal disini, tapi.. "
Ezza melihat tatapan sang ayah pad Bunda nya ia tahu bahwa sang Bunda tidak mengizinkan Bumi untuk tinggal bersama.
"Bunda pasti setuju kok, ayah tinggal disini. Iya kan bund? " Potong Ezza.
"Eghhh nak, Ayah kan sibuk kerja. Jadi Ayahnya Ezza gak bisa tinggal di sini sama kita. " Jawab Naya dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin putrnya terluka dengan perkataannya.
"" Siapa bilang Ayah sibuk, Ayah pengangguran kok." Celetuk Bumi.
"Mas.. "
"Yeayyyy asik Ayah gak kerja, jadi masih bisa main sama Ezza. Boleh kan Bun? "
Kanaya hanya bisa pasrah jika Ezza sudah seperti ini. Ia tidak akan tega mengusir Bumi hanya demi egonya sendiri.
"Baiklah Bunda kalah kali ini.
**
Bumi mengecup kening Ezza, saat pria kecil itu telah ia baringkan di atas tempat tidur, seharian mereka terus bermain, energi Ezza bagaikan terisi full dan tak pernah habis. Membuat Bumi kewalahan tetapi senang. Ia sampai lupa bahwa seharusnya ia sudah pulang ke Jakarta.
Tidak, Bumi memutuskan untuk sementara akan di bandung membujuk istri keras kepalanya agar mau pulang.
Kanaya setelah makan siang, perempuan itu kembali ke toko, mengawasi Nurul yang di tinggal sendiri. Ia janji hanya sebentar, namun nyatanya sudah lebih dari dua jam wanita itu pergi. Bumi yang bosan akhirnya memutuskan untuk keluar ruangan, menatap sekeliling ruang tamu yang tidak terlalu luas itu. Ada televisi yang berukuran 20 inc, serta banyak bingkai foto yang berjejer rapi.
Sudut matanya kembali berair melihat foto Kanaya dengan perut besarnya tengah memeluk boneka panda. Seharusnya yang ada di posisi itu adalah dirinya bukan boneka.
Berpindah ke pigura lainnya. Ada foto-foto Kanaya yang sedang menggendong seorang bayi laki-laki, lalu di sebelahnya foto Kak Naya sedang menjaga seorang anak kecil yang sedang belajar berjalan.
__ADS_1
Rupanya setiap tumbuh kembang Eza selalu diabadikan oleh sang istri.
'Ya Allah betapa Bodohnya Aku tidak menyadari bahwa selama ini istriku berjuang sendiri untuk menjaga dan merawat anak kami. Semoga sekarang hati Kanaya luluh Ya Allah dan memberikan aku kesempatan untuk menjaga mereka seumur hidupku. Serta jauhkan kami dari orang-orang jahat dan ingin memisahkan kami kembali ya Allah.'
Bumi duduk di sofa sambil menonton televisi ia melihat jam di pergelangan tangannya waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 sore seharusnya ia sudah dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Namun demi Eza Sang putra ia membatalkan kepulangannya.Biarkan saja untuk masalah pekerjaan ia akan menyerahkan kepada asistennya di sana.
Saat ini waktunya hanya untuk eza dan Eza. Pukul 17.00 sore Kanaya baru saja memarkirkan motornya di depan rumah. Bumi yang mendengar suara berisik dari arah luar akhirnya terbangun ia sedikit mengucek-ngucek kedua belah matanya dan melihat ke arah jendela.
Hatinya terasa sedikit sakit melihat sang istri turun dari motor dengan beban berat di belakang motornya.
Buru-buru bumi keluar untuk membantu Kanaya mengangkat semua barang-barangnya.
"Ini apa Nay Kenapa banyak sekali? tanya bumi heran, ia melihat beberapa kantong plastik berisikan topi-topi yang sudah dikemas rapi.
"Oh ini Mas ,ni topi-topi yang mau aku jual di toko baru aku ambil dari para pengrajin di sekitar rumah."
"Memang nggak ada yang nganterin ke toko? Kenapa harus kamu? "kata bumi lagi.
"Yah kadang-kadang ada sih Mas, Cuma kan kebanyakan mereka itu para ibu-ibu rumah tangga. ya kalau nggak aku ya Sora yang ngambil ke rumah mereka Mas."
"Keuntungannya Bagaimana Nay? "tanya bumi lagi.
"Lumayan sih Mas soalnya aku ambil dari pengrajinnya langsung jadi harganya lebih murah dari harga pasar aku juga jualnya grosir lagi. untuk pelangganku jual lagi. " terangnya.
"Rupanya Ilmu Manajemen kamu dipakai juga ya Meskipun belum jadi sarjana he..he..he..".Ledek bumi.
"Ada lah Mas yang teringat di otak Kanaya meskipun sedikit. "
"Ayah..ayah.."teriak Eza dari dalam kamar.
Bumi yang sedang membantu Kanaya lalu menoleh ke arah dalam
Nay kayaknya Eza udah bangun aku lihat dulu sebentar ya" Pamit Bumi.
Oh iya Mas silakan Aku juga mau naruh barang-barang ini ke dalam.
Eza sudah berdiri di depan pintu kamar dengan air mata yang membasahi pipi.
"Loh anak Ayah kenapa menangis? "tanya bumi.
Ayah nggak ada di kamar,Eza takut Ayah pulang nggak bilang-bilang.Ezza nggak mau ditinggalin sama ayah lagi. Tolong ya ayah jangan pergi, Eza nggak mau sendiri,Eza nggak mau ditinggalin sama Bunda hanya berdua lagi ya.
Bumi terenyuh mendengar Ezza yang menangisi dirinya takut kehilangan,ia menatap Kanaya yang tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
"Iya sayang ayah janji nggak akan pergi dari Eza. ini sekarang Ayah masih di sini Kan nungguin Isya bangun."
Pokoknya Ayah harus janji nggak boleh pergi lagi dari Eza dan Bunda.