
Bumi menyelimuti tubuh Kanaya yang meringkuk bagai bayi, setelah penyatuan keduanya, Naya memang langsung tertidur karena kelelahan, apalagi ia belum istirahat sepulangnya dari rumah sakit tadi.
Setelah itu Bumi langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan keramas. Di bawah guyuran shower ia tersenyum puas membayangkan permainan sang istri yang penuh kemajuan untuk saat ini,.
Entah Kanaya melakukan ini karena terpaksa karena ingin merayu dirinya yang sedang marah atau karena memang ia sudah ahli karena ia terus mengajarinya? Entahlah yang pasti Bumi sangat puas saat ini.
"Naya, kamu benar-benar membuat Mas mabuk." bisik Bumi.
Tak berapa lama Bumi telah keluar dari kamar mandi, waktu sudah menunjukan pukul 18.17 WIB, Suara Adzan sudah berkumandang. maka ia segera membangunkan sang istri.
"Sayang bangun dulu, mandi lalu kita Shalat bareng." bisik Bumi di telinga sang istri.Naya menggeliat, merentangkan kedua tangannya keatas, tanpa sadar jika dirinya tidak menggunakan pakaian sehelaipun.
"Jam berapa ini Mas?" tanya Naya dengan mata yang masih tertutup karena mengantuk.
"Udah magrib sayang,cepet mandi ya habis itu kita shalat bareng Mas tunggu." jawab Bumi lagi.
"Ok Mas." Kanaya langsung berdiri dan tanpa sadar tidak mengenakan apapun juga langsung ke kamar mandi.
Hal itu kembali mebuat Bumi berdenyut, ia mengumpat kesal kenapa harus jam-jam seperti ini sih Naya begitu seksi.Ralat Naya memang selalu seksi di mata Bumi, apalagi saat wanita itu ada di bawah kendalinya.Benar-benar membuat pria itu geleng-geleng kepala.
Saat Naya sudah selesai mandi junub, ia melihat Bumi sudah duduk di atas sajadah dan suaminya juga telah menyiapkan mukena untuknya. Maka Naya yang sudah memakai baju sejak di kamar mandi ia langsung mengenakan mukenanya.
Pasangan suami istri melaksankana sholat magrib bersama, di lanjut wirid dan membaca Alquran.
Dari balik pintu Bu Ningsih yang akan memanggil mereka untuk makan malam mengurungkan niatnya. Hatinya sangat terharu bahkan tak terasa air matanya menetes. Mendengar anak dan menantunya yang sedang mengaji bersama.
''Tidak salah ibumu menitipkanmu padaku Nay, dan aku beruntung memilihkanmu jodoh putraku sendiri. Karena aku tahu kalian akan saling melengkapi seperti ini." bisik Bu NIngsih.
"Lho Mah, kok diam saja, katanya mau panggil Bumi dan Naya?" tanya Pak Arif yang sengaja menyusul sang istri ke lantai atas.
Bu Ningsih menempelkan telunjuknya di depan bibir, agar Pak Arif tak lagi berisik.Karena penasaran pria paruh baya itu mendekat dan menepelkan telinganya di daun pintu kamar putra dan menantunya.
sama halnya dengan sang istri, bibirnya mengulum senyum tipis. Hatinya sungguh gembira mendengar Bumi yang sedang mengaji bersama Kanaya.
__ADS_1
"Kita makan dulu saja,biar nanti mereka makan berdua." Ajak Pak Arif yang di angguki oleh sang itri.
"Ayo." lanjutnya.
Pasangan paruh baya itupun segera kembali turun ke lantai satu dan mereka makan malam tanpa mengajak putra dan menantunya.
"Bi tolong pisahin ini untuk Mas Bumi dan Mba Naya ya, mereka akan menyusul makan nanti." perintah Bu ingsih pada salah satu asisten rumah tangganya.
"Baik Bu."
***
Tanpa sepengetahuan Kanaya, Bumi telah pergi ke Bandung untuk mengurus kepindahan kuliah Kanaya, ia tidak ingin menjalani rumah tangga dengan jarak jauh lagi, makanya ia akan memindahkan Kanaya untuk kuliah di jakarta saja. Tentu dengan pilihan kampus terbaik dan jurusan yang sama seperti yang Naya pilih di Bandung.
Semua urusan telah selesai, ketika Bumi akan keluar area kampus tak sengaja matanya bertatapan dengan mata Dimas, pria yang telah terang-terangan menyukai istrinya.
Sungguh membuat mood Bumi kembali rusak hanya dengan menatapnya seperti ini.Maka Bumi langsung meneruskan langkahnya meninggalkan pria berkacamata itu.
"Aku yakin Kanaya tidak akan bertahan lama denganmu Bumi Mahesa, dia masih sangat muda dan labil. Aku akan mudah untuk mempengaruhinya. AKu hanya perlu bersabar sampai bayinya lahir. Maka aku akan langsung mengambilnya darimu." ucap Dimas tiba-tiba.
"Rupanya kau dan Nesa sama-sama tidak tahu malu.Dimana wibawamu sebagai seorang dosen yang di kagumi banyak mahasiswa mu? Apa kamu mau menghancurkan citra cemerlang mu dengan mendjai pebinor?" ucap Bumi.
"Aku tidak peduli dengan citraku, yang terpenting adalah aku bisa mendapatkan wanitaku." jawab Dimas tak kalah sengit.
"Ha...ha..ha.. wanitamu? kau berani mengklaim istri orang sebagai wanitamu? sungguh para manusia tidak tahu malu.Dengar tuan Dimas yang terhormat. ingat pesanku. Aku tidak akan melepaskan Kanaya begitu saja apalagi memberikannya padamu. Naya adalah milikku dan selamanya akan sepeti itu. Lagipula kami di persatuan dalam ikatan suci atas nama Yang Maha Kuasa, jangan rendahkan lagi harga dirimu."
Stelah mengatakan itu Bumi buru-buru meninggalkan kampus tempat Kanaya meniti ilmu. Setelah ini Bumi bertekad akan benar-benar menjaga Kanaya, kalau perlu pria itu akan tetap menempel pada istrinya, karena setelah ini ia yakin akan ada Dimas- Dimas lain yang akan mengincar istri cantiknya.
Bumi sampai rumah ketika hari sudah malam, setelah perjalanan dari Bandung tadi, ia langsung pergi ke kantornya untuk memeriksa berkas penting dan menandatanganinya.
"Mas Bumi kok malam banget pulangnya?" Kanaya menyambut kepulangan sang suami, sedari tadi ia sangat cemas karena Bumi hari ini sulit di hubungi.
"Maaf sayang, tadi pagi Mas keluar kota, pulang dari sana langsung balik kantor.Maaf juga ponselnya mati, Mas lupa isi daya." jawab Bumi merasa bersalah karena tidak mengabari sang istri seharian ini.
__ADS_1
Bukan sengaja Bumi melakukan itu hanya saja belum ada waktu buat memberi kabar pada Naya. perjalanan dari jakarta-Bandung, Bandung-Jakarat ia nyetir sendiri, belum lagi ngurus dokument kepindahan Naya ke kampus baru membutuhkan waktu.
"Ya udah Mas mandi ya, Naya siapin air hangat dulu."
''Gak usah sayang biar Mas aja yang siapin, kamu duduk manis nanti di ranjang sambil nungguin Mas ok."
"Ok Mas."
Terlihat Bumi yang merangkul pinggang Naya, dan keduanya menaiki tangga secara bersama-sama.
Kembali pemandangan ini menjadi tontonan Pak Arif dan Bu Ningsih yang sejak tadi ada di ruang tamu.
"Mereka tampak bahagia ya Mah." ucap Pak Arif.
''Ia Pah, Mama seneng banget lihat mereka seperti ini.Semoga pasangan ini awet sampai maut memisahkan." Kata Bu Ningsih.
"Amiin."
Sementara itu di Bandung.
Dimas sedang duduk depan meja bartender,sambil meneguk minuman yang mengandung kadar alkohol tinggi. Perkataan Bumi siang tadi sungguh melukai harga dirinya.
jika jujur ia juga tidak mau ada dalam situasi seperti ini, mencintai wanita yang sudah menikah sungguh bukan keinginannya. Namun saat melihat Kanaya, ia langsung terobsesi dan ingin memiliki wanita itu.
"Naya... kenapa kamu harus jadi milik pria brengsek itu.Kenapa kita terlambat bertemu?' racaunya .
seorang wanita berpakaian seksi tampak menghampirinya, ia kemudian duduk di sebelah Dimas.
"lagi patah hati ya?" tanya wanita itu.
Dimas melirih dengan mata yang sudah berkabut karena mabuk.Namun beberapa detik kemudian,
"Naya??"
__ADS_1
Bersambung