
Selama lima menit mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.Namun begitu melihat perut gadis kecil yang membuatnya cemburu sejak dulu itu Nesa tersenyum sinis.
Ia mati-matian merayu dan megejar Bumi hingga membuat pria itu akhirnya jatuh dalam pelukannya kala itu, bahkan Nesa juga pernah menjebak Bumi agar pria itu menidurinya. Seja hari itu Bumi tak bisa lepas dari Nesa dan atas paksaanya juga akhirnya Bumi bersedia menikahinya.
Nesa sendiri menyadari jika Bumi memang memiliki perasaan pada adik angkatnya itu,maka tidak salah bukan jika Nesa menjerat Bumi.
Nando pria brengsek yang memang berniat jahat ingin memisahkan dirinya dan juga Bumi, membujuknya dengan iming-iming jadi model terkenal yang memang impiannya. Maka tanpa peduli apapun lagi Nesa meninggalkan pernikahanya sendiri dan pergi bersama Nando ke luar negeri.
Tak disangka ternyata di sana dia menjadi bulan-bulanan Nando untuk menyalurkan nafsu bejatnya. Nesa melarikan diri dan pulang ke Indonesia.
Ia terpukul saat mendengar kekasihnya telah menikahi Kanaya, gadis yang mati-matian ia jauhkan dari Bumi dan makin depresi saat mendapati ternyata dirinya hamil oleh pria brengsek yang bernama Nando.
"Sepertinya tujuanmu untuk mendapatkan Bumi telah tercapai,Nay.Kau senang bukan karena sudah berhasil merebutnya dariku. Bahkan kau mengikatnya dengan bayi sialanmu itu." kata Nesa dengan sorot mata penuh kemarahan.
"Jaga ucapan mba Nesa, bayiku bukan bayi sialan. Harusnya Mba koreksi diri sendiri, kenapa bisa sampai lari dari akad nikah dan resepsi yang mba minta untuk mengundang banyak orang, dimana hati nurani Mba saat itu. Apa Mba merasakan di posisi Mas Bumi yang hancur dan malu karena mempelainya kabur dengan pria lain saat akadnya, apa Mba tahu Ibu Ningsih bahkan sampai pingsan karena menaggung malu karean perbuatan Mba. Mas Bumi bukan hanya rugi soal materi saja tapi juga harga diri dan perasaanya.Aku pun terpaksa menikahi Mas Bumi atas permintaan Tante Ningsih yang sekarat kala itu. Apa Mba pikir aku bahagia menikah hanya di jadikan pengantin pengganti? tidak Mba.. aku sama sekali tidka bahagia. karena impian pernikahanku tidak seperti itu.' ucap Naya panjang lebar, bahkan dengan berani.
__ADS_1
"Oh kalau kamu tidak bahagia tinggalkan Bumi sekarang juga dan bawa bayi sialanmu itu!" sahut Nesa.
"Tidak akan, dulu memang aku tidak bahagia dengan pernikahanku karena hati suamiku masih pada orang lain, namun jangan harap sekarag aku akan meninggalkan Mas Bumi setelah sadar dia sangat mencintaiku terutama bayi kami. AKu tidak akan melepaskannya hanya untukmu Mba Nesa. Mas Bumi hanya milikku dan milik bayiku."
''Sialan kau Kanaya, dari dulu sifatmu tidak berubah dan selalu mebuatku marah, kenapa kau tidak pernah mau lepas dari Bumi HAH??? Wanita sialan." Nesa langsung menjambak rambut Kanaya yang panjang, hingga membuat wanita itu meringis kesakitan.
"Mba lepaskan aku, apa yang kau lakukan!" teriak Naya sambil memegangi rambutnya yang terasa sakit karena di tarik Nesa.
"APa yang ku lakukan? aku akan membunuhmu wanita hina!!!" jawab Nesa lagi bahkan kini ia tengah berdiri dengan tangan yang menarik rambut kanaya dari belakang, hingga membuat istri Bumi itu menengadahkan kepalanya.karena tarikan Nesa sangat kuat.
Seketika Bumi langsung lari mendekat pada keduanya. ia langsung menyingkirkan tubuh Nesa dan meraih tubuh Kanaya dalam pelukannya.
"Berani-beraninya kau berbuat ini pada istriku? apa maumu?" ucap Bumi dengan muka memerah menahan marah.
"Bum, aku gak ngapa-ngapain. Dia yang udah jambak aku duluan, makanya aku balas." jawab Nesa dengan gagap.
__ADS_1
Bumi tersenyum sinis," kau pikir aku percaya dengan ucapannya yang dusta itu, dengar Nesa.Kamu sudah sering berbohong pada semua orang. Maka jangan salahkan jika selama ini tidak ada yang percaya lagi padamu. Lagian kau mau apa lagi? jangan pernah ganggu hidupku.Kisah kita sudah selesai dari dulu." Ucap Bumi panjang lebar.
"Tidak Bum, kisah kita belum selesai aku tidak menerima kita putus. Kamu tetap milikku."
"Dasar wanita sinting." Bumi langsung membawa Kanaya pergi dari hadapan Nesa.
Wanita itu masih berteriak -teriak tidak jelas, hingga mengundang perhatian para pengunjung taman yang tadinya memang sepi sekaarang sedikit ramai.
"Tunggu Bum, kita belum selesai.Kita masih berhubungan kan!' teriak Nesa lagi begitu menatap punggung orang yang paling di cintainya itu menjauh.
Bumi hanya menggelengkan kepalanya, lalu menatap Kanaya yang sedikit pucat.
"Kamu gak apa-apa sayang, maaf ya tadi Mas kelamaan di supermarketnya." ucap Bumi.
''Gak apa-apa Mas, kamu datang teapt waktu. Mba Nesa hanya menjambak rambutku saja ko." jawab Naya sambil berusha tersenyum padahal hatinya sangat sakit apalagi tadi Nesa menyebut bayinya sialan.
__ADS_1