Jodoh Untuk Kanaya

Jodoh Untuk Kanaya
Bab 73 Kabur


__ADS_3

segala bentuk dugaan dan prasangka terus menghantui pikiran wanita cantik yang sedang belajar hijrah itu, antara percaya dan tidak tentang Bumi yang menandatangani surat cerainya.


'Ya Allah, aku harus bagaimana sekarang? semua berusahaa menjauhkan aku dari suamiku, dan sekarang mereka sedang berusaha untuk meyakinkan aku tentang tipu muslihatnya. Ya Allah tolong yakinkan aku jika ini hanya tipu muslihat mereka agar aku dan suamiku berpisah.' Kanaya bermonolog dalam hati.


"Aku tahu kau tidak akan mudah untuk menerima ini semua, namun kamu harus mempertimbangkan yang lain lagi Nay,selain tentang Bumi Mahesa."


"Apa maksud kamu,Leo?"


Pemuda yang umurnya hampir setara dengan Kanaya itu kembali menyeringai tipis.


"Seperti yang aku katakan padamu kemarin, Nay. Perusahaan Om Arif saat ini tengah mengalami colap, beliau butuh suntikan banyak dana agar usahanya kembali maju."


Kanaya hanya diam saja,mencoba untuk tidak terpengaruh oleh semua ucapan Leo.


"Aku tahu kau tidak akan percaya dengan ini semua, karena  kalian hanya melihat dari sisi luarnya saja, Om Arif tidak menceritakan masalah ini pada keluarga terutama pada tante, dia bisa mati jika tahu kalau keluarganya telah bangkrut, tau sendiri kan riwayat jantungnya seperti apa? Tentu kau masih ingat ucapan dokter sebelum Tante menjalani operasi." kata Leo.


Seketika Kanaya menerawang kembali ke masa lalu dimana dirinya juga ada saat mertuanya dilarikan ke rumah sakit karena penyakit jantungnya yang kumat,ia bisa melihat disana betapa Ayah mertua dan suaminya yang hancur dan cemas melihat keadaan sang ibu.


"Dengar Nay, yang bisa membantu perusahaan Om Arif hanya Ibuku, Salimar. Om Arif sudah berusaha meminta bantuan kepada rekan bisnis dan juga mengajukan pinjaman ke bank namun sampai detik ini tidak ada kejelasan.Hanya perusahaan keluargaku yang saat ini bisa membantu mertuamu,Tidakkah kau ingin menyelamatkan mereka semua?"


Akhirnya Kanaya mulai nemenatap Leo.


"Apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan perusahaan Papa?" tanya Naya.


"Bercerailah dari Bumi,kita pergi dari sini berdua.Tidak ada Bumi ataupun Nesa." jawab Leo dengan mantap.


Kanaya membualtkan kedua matanya, tidak sangka leo akan bertindak sejauh ini,.


Leo memberikan tablet yang berisikan berita tentang perusahann Papa Arif dan juga sebagian aset yang sudah mulai disita, Leo bahkan mempunyai data tentang saham yang sebagian sudah pindah kepemilikan.

__ADS_1


Air mata mulai berjatuhan di pipi Kanaya, ia tidak menyangka mertuanya akan menyimpan rapat-rapat masalah sebesar ini pada keluarga, sungguh saat ini ia merasa begitu berdosa, disaat Papa Arif butuh bantuan dan hiburan, ia maupun Bumi sebagai anak malah tidak tahu sama sekali.


"Dengan sekali saja aku menghubungi Mama dan Papa, makan saat itu juga aliran dana akan langsung sampai pada Papa mertuamu, namun syaratnya hanya satu tanda tangani surat cerai itu."


kanaya memejamkan matanya saat satu kalimat pemaksaan kembali terdengar di telinganya, ia kini diambang kebimbangan antara suaminya atau keselamatan orang tua yang telah membesarkannya.


"Beri aku waktu sampai besok pagi untuk berfikir, namun ada beberapa hal juga sebagai syarta jika aku menyetujui surat perceraian itu." ucaap Kanaya.


"ok sebutkan saja!" jawab leo yang sudah mulai senang.


"Aku ingin perjanjian diatas materai, dan kalian berdua harus menepatinya."


"Akan aku siapakan semuanya, baiklah aku pergi dulu."


Kanaya mengangguk.


Leo dengan riang segera menyiapkan segala sesuatu yang Kanaya inginkan, hanya tinggal menunggu waktu wanita itu akan menajdi miliknya,leo berjanji setelah ini ia akan menjadia manusia yang lebih berguna lagi dan tidak akan celap celup sembarangan di luar sana.Sebentar lagi kapalnya akan berlabuh dan itu adalah Kanaya.


***


Di depannya terdapat banyak tumpukan berkas berserakan juga laptop yang menyala menampilkan perkembangan saham miliknya yang beberapa minggu ini turun drastis.Ia bingung bagaiaman cara mengatasi krisis di perusahaanya, beberapa pemegang saham telah menarik saham-saham mereka. Ia tidak bisa menutupi biaya prosuksi yang semakin meningkat namun pemasukan minim.


"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri tidak akan minta bantuan pada Salimar untuk masalah ini, namun jika sudah begini bagaimana? apa yang harus aku lakukan sekarang, Hanya tinggal menunggu waktu maka semuanya akan hancur." bisiknya


Pak Arif menatap bingkai foto yang terpajang di atas meja kerjanya disana ada gambar dirinya yang sedang mencium pipi sang istri, sedang di belakangnya anak dan menantunya memeluk keduanya, sungguh Pak Arif tidak rela menukar kebahagiaan itu dengan apapun.


"jika Papa bangrut apa Mama dan anak-anak masih bisa tersenyum bahagia seperti ini?" ucapnya lirih.


Detik-demi detik terus berlalu tak terasa Pak  Arif ketiduran selama dua jam di kursi kebesaranyya, ia terbangun saat mendengar panggilan di ponselnya.

__ADS_1


"Hallo."


Dua bola mata Pak Arif melebar begitu mendengar suara seseorang di seberang telepon. Ia bahkan meminta orang tersebut untuk mengulangi lagi perkataanya, agar lebih jelas.Setelah selesai pak Arif menutup panggilan itu.


***


Kanaya membaca lembar demi lembar surat perjanjian yang akan ia tanda tangani dengan Nesa dan juga Leo. Akhirnya ia bersedia menandatangani surat cerainya dengan Bumi asalkan Leo mengembalikan saham milik Ayah mertuanya dan membantu mengalirkan dana agar perusahaan sang ayah mertua kembali stabil.Ia juga meminta aliran dana itu terus ada sampai batas waktu yang tidak di tentukan,point kedua setelah dirinya dan Bumi bercerai maka baik Nesa mapun leo tidak akan mengganggu hidup  Bumi lagi, seandainya setelah ini Bumi tak juga mau menikahi Nesa, maka wanita itu harus menyerah pada Bumi dan membebaskan laki-laki itu.


"Ok, surat perjanjiannya sudah siap,Kau bisa tanda tangan disini!" tunjuk Leo pada kolom kosong,Nesa tampak berbinar-binar saat Kanaya sudah mulai memegang pulpen dan membuka tutupnya.


"Akhirnya mulai saat ini Bumi hanya akan jadi milikku seorang, hanya milikku." ucap nesa senang.Bahkan hatinya semakin senang saat guratan tinta itu sudah Kanaya bubuhkan disana.


"Sekarang tepati janjimu!" ucap Kanaya pada Leo dan juga Nesa.


Leo dan Nesa saling berpandangan sejenak kemudian tersenyum.


"Kau jangan khawatir aku,lima menit lagi kau akan mendapat kabar bagus." leo memberikan ponselnya agar Kanaya bisa melihat perkembangan saham milik keluarganya.


Senyumnya seketika terbit kala melihat pergerakan candlestick mulai menunjukan warna hijau dan semakin meninggi.


 Satu jam kemudain pergerakan candlestick menjadi stabil dan makin meninggi.


"Ayo,sekarang waktunya kita pergi!" Leo mengulurkan tangannya pada wanita itu, Nesa yang melihatnya hanya memutar bola matanya dengan malas, ia juga akan bersiap sekarang, ia akan kembali pada Bumi karena laki-laki itu akan ia milikki lagi.


Sementara itu Bumi dan juga Dimas baru saja sampai di Pulau yang diyakini Nesa dan juga Leo membawa pergi Kanaya, Dimas juga sudah menghubungi polisi untuk membantu mereka meringkus Nesa dan membebaskan istri dari Bumi Mahesa itu.


"Nay... ayo kita tidak punya banyak waktu lagi." teriak Leo dari balik pintu, ia sedang menunggu Naya yang ingin buang air kecil, Mereka sudah bersiap-siap akan pergi dari pulau itu,Leo sudah membeli rumah baru untuk ia dan Kanaya tempati setelah mereka meninggalkan pulau ini.


Namun setelah beberapa saat,Kanaya tak juga muncul,membuat Leo semakin cemas.Maka buru-buru laki-laki itu menyusul Kanaya ke kamar mandi dan ia semakin kaget  saat membuka pintu ternyata kamar mandi itu kosong.

__ADS_1


"Sialllll, Kanaya kau jangan kaburrrrrr!!!"


__ADS_2