
Kanaya masih mengingat kejadian tadi sampai-sampai tidak fokus saat di jalan pulang. Ia tak sengaja menabrak pejalan kaki lainnya sehingga membuat malu dirinya sendiri. Ia memutuskan segera berlalu dari kampus, karena namanya banyak dicari-cari mahasiswi kampus. Sebagian mereka sangat protes karena Kanaya telah berlaku tidak sopan pada Alex.
"Kenapa? Apa salahku? Pria itu menekanku. Dia pikir dia saja yang menderita, aku juga" gumam Kanaya. Sepanjang jalan, ia tak berhenti menutupi wajahnya agar tidak di kenali orang. Dan tiba ia diperempatan jalan dan melihat seorang nenek yang hendak menyebrang. Karena nenek itu berjalan sangat lambat. Akhirnya Kanaya membantunya. Saat lampu merah ia menggandeng nenek itu. Tanpa disadari, rupanya mobil Alex berhenti tepat di depan lampu merah dan melihat kejadian itu sendiri dan terus memperhatikan Kanaya.
"Kalau dilihat-lihat, dia lumayan juga. Apa dia tidak bisa berdandan seperti gadis lainnya?" gumamnya. Lalu ia sadar sendiri. "Ah, sialan. Kenapa aku memikirkannya. Sebaiknya aku memikirkan cara agar aku terbebas dari kutukan ini. Kali ini aku akan melepaskanmu. Kita lihat nanti apa yang akan aku lakukan padamu" serunya dengan penuh tekad yang bulat.
Lampu merah lantas berganti hijau. Alex menancap gas mobilnya berlalu meninggalkan tempat itu dan segera menunu kantor. Sementara Kanaya menuju rumah kontrakanya. Tiba-tiba Abel menelpon dan marah-marah.
"Hei! Kenapa kau meninggalkanku? Kau berlari secepat kilat!"
"Maafkan aku, aku harus pergi secepat mungkin karena semua orang sedang mengejarku. Bagaimana ini? Apa mereka akan menguburku hidup-hidup?"
"Apa kau sudah gila? Dimana kau sekarang? Tenang saja. Aku akan melindungimu"
"Benarkah? Aku berada di perempatan, cepat datanglah kemari. Aku menunggumu di kafe biasa"
"Aku mengerti. Aku segera meluncur kesana. Pastikan kau aman disana"
"Aku tahu itu. Cepatlah kesini"
Kanaya menutup ponselnya dan mengumpat sendiri. "Ini sungguh gila! Kenapa ini bisa terjadi padaku?" ia memutar video kejadian yang direkam salah seorang mahasiswa sehingga membuat semuanya tersebar. "Bagaimana ini? Semua orang sudah mengetahuinya" keluhnya.
Dan benar saja, semua orang yang berada di kafe tersebut langsung mengenali Kanaya dengan cepat dan mulai berbisik tentangnya. Kanaya menjadi risih, tapi ia harus menunggu Abel. Dan tibalah Abel seakan-akan menjadi pahlawan kesiangan bagi Kanaya.
"Oh tidak dapat dipercaya, kau sungguh berlari secepat itu. Apa kau atlit lari?" seru Abel yang muncul langsung mengoceh. Ia duduk dihadapan Kanaya.
"Maafkan aku. Aku meninggalkanmu sendirian. Aku sungguh tidam tau akan terjadi seperti ini. Aku juga sangat terkejut"
Rupanya para gadis-gadis lain sedang memperhatikan mereka membuat Kanaya dan Abel jadi risih.
"Apa yang kalian lihat! Apa kau pernah melihat sendok ini terbang ke wajah kalian, hah!" seru Abel dengan mata membesar memporoti para gadis yang melihat mereka sehingga mereka tak berkutik dan diam.
Kanaya merasa senang sekali Abel telah membantunya. "Syukurlah ada kau yang membantuku. Secepatnya aku akan menyelesaikan masalah ini. Aku akan memberitahu mereka bahwa ini hanya kesalahpahaman"
"Benar. Kau hampir saja diserang oleh fans club flower boys." seru Abel. "Aku melihat mereka seperti hendak menyerangmu"
"Iya. Aku harus mengakhiri ini. Karena aku juga pihak yang dirugikan. Tidak akan aku biarkan hidupku hancur begini,"
__ADS_1
"Bagus. Aku akan membantumu"
"Ok. Fighting"
"Oh, aku lapar. Ayo kita pesan makanan"
"Ayo"
Mereka memutuskan memesan makanan. Sambil menunggu pesanan Abel kembali membuka suara dan akan bertanya langsung mengenai perihal kejadian tadi.
"Omong-omong, apa benar kau akan menikah dengan senior Alex?" tanya Abel dengan tenang dengan nada pelan.
Kanaya mengangguk membenarkan. "Aku juga sangat terkejut saat aku tau dijodohkan dengan pria itu" bisik Kanaya berterus terang. "Bagaimana bisa aku dijodohkan dengannya? Jelas itu tidak mungkin terjadi," keluhnya.
Abel terbelalak kaget. "Benarkah? Jadi kau dan Alex dijodohkan! Wah, lihatlah aku merinding mendengarnya. Bagaimana bisa itu terjadi? Sebenarnya keluargamu memiliki hubungan seperti apa?"
"Entahlah. Semua itu berawal dari wasiat aneh mendiang kakekku. Mereka menjodohkan cucu mereka untuk mengikat pertemanan mereka sebagai keluarga. Wasiat apa itu! Itu tidak mas akal. Aku akan menolak wasiat konyol itu!"
"Bagaimana kau bisa berkata seperti itu? Hei, kau bisa dalam masalah jika membuat kekacauan mengenai wasiat itu. Jelas itu wasiat mendiang kakekmu. Lagipula kau akan menikah dengan pria kaya dan juga tampan"
"Tidak akan aku biarkan itu terjadi. Aku tidak mau menikah dengannya. Pokoknya tidak mau! Aku tidak peduli kalau dia sangat kaya dan juga tampan. Aku tidak tertarik dengannya"
Kanaya kikuk dibuatnya. "Itu tidak mungkin aku masih menyukainya. Kau tau kalau kakkak sudah punya pacar kan. Jadi tidak ada harapan untukku," sanggahnya dengan terbata-bata. Jadi nampak jelas, Kanaya hanya berpura-pura membantahnya. Abel tak mudah termakan oleg omonganya.
"Jangan berbohong, aku bisa lihat dari matamu kau masih menyukainya. Sadarlah! Kau bisa melupakannya sekarang dengan menerima perjodohan itu"
"Apa?"
"Aku ingin membantumu. Katamu kau ingin move on dari seniot Raka. Inilah cara yang tepat!"
Pesanan mereka datang.
"Kenapa kau berbicara seperti itu? Kau senang aku menderita seperti ini?"
"Tidak. Hanya saja ingin memberitahumu kenyataanya agar kau cepar sadar. Sampai kapan kau akan mengakhirinya. Kalau begini terus, kau akan jadi wanita lajang seumur hidup!"
"Aku tahu. Aku akan berubah. Tunggu sedikit lagi."
__ADS_1
"Sudahlah. Keputusan ada padamu. Aku akan mendukungnya. Ayo makan dulu"
"Baiklah. Aku juga sudah lapar"
***
Dirumah, Alex langsung disambut oleh neneknya yang berada di ruang tengah.
"Coba lihat, siapa yang sudah kembali lebih awal. Cucuk Alex rupanya"
"Siang nek" sapa Alex.
"Kenapa kau ada dirumah di jam seperti ini? Bagaimana dengan kuliahmu?"
"Tidak apa-apa. Semuanya berjalan baik. Aku hanya ingin istirahat dirumah. Perusahaan juga sudah aman"
"Benarkah? Tidak biasanya kau seperti ini. Apa terjadi sesuatu? Ceritakan padaku"
"Tidak ada yang perlu ku ceritakan nek"
"Tapi, aku baru saha mendapat berita yang begitu menghebohkan. Seseorang telah membuat kegaduhan di kampus"
Alex kikuk dibuatnya.
"Entahlah. Kegaduhan apa? Aku tidak tahu"
"Apa kau tidak lihat videonya? Semuanya sudah tersebar luas. Wah, aku sungguh sangat terkejut."
"Nenek melihatnya?"
Sang nenek mengangguk.
"Tentu. Seseorang telah mengirimkanya padaku. Apa sungguh itu kau, Alex?" kata nyonya Retno. "Kenapa kau bersikap tidak sopan sama sekali terhadap wanita. Kau sungguh membentaknya di depan umum? Aku menyuruhmu menemuinya untuk mengenalnya, bukan mencari masalah. Bagaimana ini, semua orang sudah mendengarnya kau akan menikah"
"Nek. Maafkan aku atas kejadian ini. Semua ini benar-benar kesalahanku. Aku terbawa emosi saat gadis itu menolakku"
"Lalu? Apa kau memakasanya untuk me
__ADS_1
"Tidak ada. Aku benar-benar baik saja."