Jodoh Untuk Kanaya

Jodoh Untuk Kanaya
BAB 44


__ADS_3

Ana benar-benar dibuat kesal dengan tingkah laku Kanaya. Ia benar-benar kepanasan melihat istri bosnya itu.Dalam hati dia benar-benar mengumat


('Sialan banget ni cewek, kalau tau dia ngintil kesini sama Bumi gak bakal mau gue datang mana udah tampil semaksimal mungkin lagi. Sialll.') ucap Ana dalam hati.


"Sayang bisa lepas dulu pelukannya,ini Ana bawa makanan buat kita, bukalah bukannya kamu sedang menginginkan ini?" ucap Bumi sambil mengangkat paperbag yang Ana letakan di atas meja.


"Terimakasih Mba Ana karena sudah membawakan ini untukku, tau aja kalau bayi nya mas Bumi sedang menginginkan ini." Ucap Kanaya sambil mengusap perut buncitnya seakan pamer jika pria yang sedang memangkunya itu adalah miliknya dan sudah membuatnya hamil.


Dengan sedikit masam Ana tersenyum dan mengangguk."Tidak masalah kalau untuk atasan." jawab Ana.


"Saya bukan atasannya Mba Ana, tapi istrinya atasan." lanjut Naya dengan menekankan kata istri agar sekretaris suaminya itu sadar, kalau ia tidak boleh mengganggu Bumi lagi yang sudah punya pasangan.


"Maaf maksud saya tidak masalah untuk istrinya Pak Bumi."


"Nah gitu donk." Ucap Naya yang langsung menggigit kue bertopingkan coklat pemberian Ana tersebut.


"Oya Pak, senin depan sekretaris Bu Silvi sudah mengkonfirmasi waktu pertemuan kita, Beliau setuju asal pertemuan dilakukan di tempat yang sesuai keinginannya." ucap Ana lagi.

__ADS_1


Bumi mendengarkan dengan wajah yang sumringah, client yang satu ini memang sedang di nanti-nanti untuk jawaban kerjasama, namun hingga detik ini belum ada Konfirmasi apapun, makanya saat Ana menyampaikan kabar itu, Bumi sangat antusias.


"Oh ya dimana tempat yang ia inginkan An?" tanya Bumi lagi penasaran.


"Bali Pak, Asistennya menyampaikan itu kemarin sore, mohon maaf saya baru mengabari Pak Bumi hari ini.Soalnya ketika saya menelepon Bapak, tidak di jawab." balas Ana.


Bumi mengerutkan dahi,"Kapan kamu hubungi saya?' tanya Bumi penasaran.


'Kemarin malam,Pak sekitar jam sepuluh malam." jawab Ana.


Bumi melirik Kanaya yang sedang asik mengunyah kue itu.


"Enggak sayang.Teruskan makanmu." jawab Bumi lagi.


"Ya suah tolong atur keberangkatan saya kesana An."


"Baik Pak akan saya konfirmasi ulang ke pihak Bu Silvi sekarang juga." Jawab Ana dengan riang. Karena itu artinya dirinya akan ikut berangkat bersama Bumi ke Bali dan hanya berdua tanpa makhluk yang sedang ada di pangkuan pria yang sedang ia taksir itu.

__ADS_1


Bumi memberikan berkas yang sudah selesai ia periksa dan tanda tangani pada Ana agar wanita itu segera memberikannya pada yang bersangkutan.


"Satu jam lagi saya keluar dari kantor An, kamu mau kerjakan di ruangan atau di bawa pulang kerjaanya?"


"Di ruangan saya saja Pak,saya permisi dulu." ucap Ana yang langsung pergi dari ruangan Bumi.


Sepeninggalan Ana, Bumi masih melirik Kanaya yang sudah menghabiskan separuh kue itu dengan nikmat. Ia lalu menarik ujung hidung istrinya.


"Nakal ya istri Mas ini." ucap Bumi.


"Ighhh apaan sich Mas,Naya gak ngapa-ngapain ko di bilang nakal." ucap Naya tanpa rasa bersalah.


"Dengan cara tidak menjawab panggilan Ana semalam di ponsel Mas, itu yang disebut gak nakal. Padahal pesannya lumayan penting lo sayang.Jangan ulangi lagi ya..!"


"Maaf Mas, habis si Mba Ana itu bikin kesel, masa ngirim pesan ke atasan pake tanda love segala. Apa itu maksudnya coba? mau menggoda? Gak akan Naya biarkan ya bibit-bibit pelakor berkeliaran di sekitar suami Naya."


Bumi menarik sudut bibirnya, istri kecilnya ini sudah sangat pandai melindungi suami ternyata.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2