Jodoh Untuk Kanaya

Jodoh Untuk Kanaya
Bab 59 ketegangan di meja makan


__ADS_3

Dimas mengepal erat kedua tangan yang ia sembunyikan di bawah meja, mendengar syarat yang di utarakan Nando ,membuat lidahnya kelu dan ia tak mampu lagi berkata-kata.


Nando pria yang sudah meyakini dirinya sebagai ayah biologis dari bayi yang di kandung Nesa ternyata menginginkan sebagian perusahaan dari keluarga besar ayahnya. Tentu hal ini bukan sesuatu yang mudah untuk Dimas lakukan, mengingat Ayah kandung Nesa yang sudah mengusir Nesa dari rumhnya, dan sementara ini wanita itu berada di Malang bersama dengan orang tuanya.


"Aku mesti membicarakan ini dengan keluarga besar." kata Dimas. Sepertinya kedatangannya jauh jauh ke singapura ini tidak akan menghasilkan apa-apa, karena keinginan pria ini terlalu berlebihan.


''Silakan, bicarakan ini dengan keluarga besar. Maaf Dimas bukannya aku ngelunjak. Tai aku rasa permintaaku ini setimpal dengan kondisiku sekarang, aku masih dalam masa penyembuhan pasca kecelakaan.Pastinya aku butuh biaya yang sangat banyak dan lagi aku sudah tidak bisa bekerja."


Dimas mengangguk.


"Ya aku mengerti."


setelah beberapa jam kemudian Dimas berpamitan untuk kembali ke jakarta.


***


Kanaya baru saja pulang dari kampusnya bersama dengan Leo sepupu Bumi yang selalu membuat ulah dengan kaka sepupunya itu.


"Nay, jangan dulu pulang kita jalan-jalan dulu ya.' Pinta Leo begitu mereka keluar dari gedung tempat meninmba ilmu.


"Maaf Le, aku gak bisa.Suamiku sebentar lagi pulang dan aku harus ada di rumah sebelum dia sampai."jawab Naya dengan santai.


"Kamu gak asik,Nay. Bumi itu udah dewasa bisa ngurus dirinya sendiri lo, gak perlu kamu harus melayani dia setiap waktu.Aku BT ni gak ada teman." Bujuk Leo lagi.


Kanaya menghembuskan napasnya kasar, benar kata suaminya, ia harus sedikit menjauh dengan laki-laki yang bernama Leo ini.Meski itu adalah saudara sepupu Bumi sendiri.


"Maaf Leo, bukanya begitu, tapi Mas Bumi suamiku, suka atau tidak.Lagipula belum tentu Mas Bumi mengizinkanku untuk pergi denganmu.Sudah ya, kamu kalau mau pergi sendiri saja. Aku akan pulang dengan naik taksi."


Kanaya langsung berlalu dari hadapan Leo berniat untuk pulang karena suaminya akan segera pulang dan ia sudah rindu dengan suami tampannya.


Leo menedang rerumputan kering tak berhasi membawa Kanaya main sebentar.


"Sial susah sekali mengajak wanita itu."


Kanaya tersenyum pada seseorang yang kini ada di hadapannya, Pria berkacamata memakai kemeja abu-abu dengan tangannya yang di lipat sampai siku.Sungguh sangat membuat ia terpesona melihatnya.Pantas Nesa begitu tergila -gila pada Bumi, karena pria ini begitu maskulin meski hanya menggunakan pakaian sederhana saja.

__ADS_1


Bumi sedang berdiri dengan tentengan plastik berisi cemilan. Kanaya yang sedang rindu semakin mempercepat langkahnya, ingin segera memeluk tubuh yang sedari kemarin sudah sangat ia rindukan, Ya kemarin Bumi ada tugas ke luar kota dan menginap,makanya semalam Kanaya bobo sendirian.


"Kangen Mas," perempuan mungil itu langsung memeluk erat tubuh sang suami.


"Mas bau keringet lo,baru sampai jakarta dan langsung kesini.' ucap Bumi.


'Biain, keringet Mas enak.Naya suka." ucap perempuan itu lagi.


"Tumben... manja. Tapi Mas suka. KIta pulang sekarang ya." Bumi langsung melingkarkan tangannya pada pinggang ramping itu lalu mengajaknya menuju mobil yang tengah terparkir.


"Mas bawa apa ini, bau kencur?" Sedari tadi mata Naya memang tak lepas dari bungkusan plastik yang Bumi bawa, ia yakin itu jajanan kesukaanya.


"Ini aku bawain seblak viral, kesukaan kamu , makan di mobil ya." jawab Bumi.


"Yeayyy Mas tau banget kalau aku suka jajan seblak. Maksih ya Mas." Merasa sangat senang Bumi selalu ingat hal-hal kecil kesukaannya, Kanaya memberikan ciuman di pipi kanan sebagai ucapan terima kasih.


Bumi tersenyum istri cantiknya sekarang sudah lebih agresif dari sebelumnya.


'Iatriku sekarang sangat seksi." bisik Bumi di telinga Naya, membuat perempuan itu tersipu malu.


"Ighhh siapa? gak ya." Bumi mengelak.


'"Ighh gak mau ngaku lagi yang suka bilang,Nay.. ayo keluarkan suara indahmu,..ya begitu Nay.. itu siapa coba kalau bukan Mas yang minta tiap malam seperti ini." ucap Naya, tanpa sadar. membuat Bumi terbahak-bahak. Perkataan Naya itu mengingatkannya jika mereka sedang berhubungan Bumi memang selalu menginginkan Kanaya nya bersuara biar ia lebih bersemangat saat berpacu.


"Eummm, sepertinya istri Mas ini lagi kangen ya.' gaoda Bumi.


Wjah Kanya langsung memerah mendengarnya. ia lalu tersenyum malu.


Sesampainya di rumah Bumi langsung mengajak Kanaya masuk kedalam kamar mereka, karena bukan hanya Kanaya saja yang tengah merindu ia pun sama.Rencananya setelah ia selesai mandi dan makan Bumi akan langsung mengurung wanita itu.


**


Malam harinya, seperti rencananya tadi siang ia langsung mengurung istri kecilnya di kamar untuk melepas rindu karena dua hari tidak


tidur bersama.Mereka baru keluar saat makan malam tiba, itupun karena Bu Ningsih yang mengetuk pintu kamarnya.

__ADS_1


"Makan malam dulu,Bum. Jangan di gempur terus istrimu, kasihan dia." goda Pak Arif saat keduanya sudah duduk di kursi masing-masing.


Kanaya langsung merah padam, mendengar sang mertua sepertinya tahu apa saja yang mereka lakukan selama di dalam kamar. Tentu saja pak Arif dan Bu Ningsih tahu, karena Bumi banyak memberikan tanda cinta di leher Kanaya tanpa wanita itu sadari, dan sialnya Kanaya mengikat tinggi rambutnya hingga bekas merah keunguan itu terlihat dengan jelas.


"Katanya Mama sama Papa ingin cepat-cepat dapat cucu, berarti aku harus lebih keraja keras lagi donk." Ucap Bumi sambil menyuapkan nasi beserta potongan daging pada mulutnya.


Kanaya yang tidak sadar jika banyak orang yang menatapnya seperti itu, tetap asik makan malam sesekali membagi makanan pada suaminya.


Leon menatap kesal pada pasangan itu,apalagi pada Kanaya yang sok jual mahal.jual mahal karena tidak bisa ia ajak keluar bersamanya.


Bumi menyatukan kedua alisnya menatap sepupunya yang sedari tadi diam saja,namun karena ia tak ingin berdebat ia memilih mengacuhkannya.


"Oh ya sayang, bagaiman kuliahmu, lancar?' tanya Bumi masih di tengah suasana makan bersama mereka.


"ALhamdulilah lancar,Mas.Dosennya juga baik." jawab Naya singkat.


"Gak ada yang gangguin kamu kan. Awas cincin nikahnya selalu kamu pake ya, biar teman-teman kamu tahu kalau Kanaya Fitriani itu sudah bersuami." Ucap Bumi lagi.


"Harusnya tuh Mas Bumi sadar jangan terlalu mengekang Kanaya seperti itu. Memang Mas gak kasihan istrinya gak pernah gaul sama teman-teman sepantar. Mas Bumi pengen Kanaya jadi ibu rumah tangga mengurus rumah, cucian dan bau bawang serta peralatan dapur begitu?" ucap Leo tiba-tiba.


Bumi yang hendak minum akhirnya hanya bisa mencengkram gelas itu dengan erat. kemudian menatap dingin pada adik sepupunya itu.


"Kenapa bisa seyakin itu jika aku mengekang Kanaya dalam pergaulnnya.Kau tahu dari mana anak ingusan?"


"Tentu saja aku tahu , kanaya sendiri yang bilang ia tidak mau keluar tanpa seizinmu. padahal aku hanya mengajaknya main sebentar, jangan seperti itu lah Mas, Kanaya itu masih muda , masa depannya masih panjang." jawab Leo dengan enteng.


Kanaya yang namanya di sangkut pautkan menjadi pucat apalagi di hadapan seluruh anggota keluarga,


Ia memegangi tangan Bumi, agar pria itu tidak emosi menghadapi Leo yang masih kekanak-kanakan.


'Jawab aku Kanaya, apa selama ini aku mengkang dan melarangmu untuk pergi bermain bersama teman-temanmu?' tanya Bumi dengan dingin.


Kanaya menggelang."Tidak Mas, Naya menolak ajakannya karena Naya buka perempuan single, Naya sudah bersuami dan kemanapun pergi harus dengan izin Mas, itu saja." Ucap Kanaya dengan lirih.


Bumi

__ADS_1



__ADS_2