
Eza tak henti-hentinya menangis ,ketika melihat mobil sang ayah yang perlahan menjauh dan akhirnya hilang,sampai Kanaya dan Zora kewalahan untuk memberi pengertian.
"Sayang, kan ayah udah biang cuma sebentar, nanti balik kesini ko jemput Eza dan Bunda." ucap Kanaya mencoba menghibur sang putra
"Tapi tadi ayah gak kasih pelukan sama aku, Bund.Ayah gak sayang ya?" Eza terus menggerutu dengan suara terisak-isak,membuat Kanaya semkin tak tega.
"Gak sayang, bukan seperti itu, Ayah sangat sayang sama Eza, mungkin Ayah sedang terburu-buru karena udah ditungguin sama klien di kantornya. Mendingan Sekarang Eza doain ayah ya Semoga perjalanan Ayah ke Jakarta selamat sampai tujuan dan cepat pulang ke sini."
Eza pun mengangguk setelah itu ia menengadahkan tangannya ke atas mendoakan ayahnya tercinta agar selamat sampai rumah.
Kanaya sangat bangga dengan Eza yang sudah mengerti bagaimana cara mendoakan orang tua, tentu karena didikan orang orang terdekatnya.
Pukul tujuh malam Bumi baru saja menghubungi Kanaya jika dirinya sudah sampai. Sebenarnya jam sepuluh siang tadi sudah sampai dari Bandung, namun ia belum sempat memberi kabar karena Bumi langsung meluncur ke kantornya.
Ada banyak klien dan meeting penting yang harus ia hadiri sehingga ia tidak sempat membuka HP.
" Sayang maaf baru menghubungimu Aku baru selesai kerja, ini sebenarnya juga masih di kantor, Eza sedang apa yang?" tanya Bumi dalam aplikasi chat berwarna hijau.
" syukur alhamdulillah kalau Mas Bumi udah sampai. Naya cemas dari tadi soalnya mas belum hubungi kami. Eza masih belajar sama teman-temanya Mungkin sebentar lagi pulang."
" Ya udah nanti kalau dia udah pulang,Mas hubungi lagi ya,Mas kangen mau video call sama dia!"
"Oke Mas."
Setelah Eza pulang mengaji Kanaya langsung menghubungi Bumi kembali dan memberi kabar bahwa Sang putra telah ada di rumah.
Tak menunggu lama Bumi pun langsung menghubungi ponsel Kanaya. Ayah dan anak itu saling berbincang dan bercanda. Eza juga menceritakan kegiatan belajarnya tadi siang, dan mengungkapkan kerinduannya Padahal mereka baru berpisah belum sampai dua belas jam.
Satu jam sudah berlalu mereka berbincang di video call. Saatnya Bumi untuk pulang ke rumah karena bu Ningsih dan Pak Arif sudah menunggu.
" sayang kita ngobrolnya udahan dulu ya, ayah mau pulang dulu nanti kalau sudah sampai rumah Ayah telepon lagi."
__ADS_1
" Oke Ayah hati-hati bawa mobilnya ya." Sahut Eza.
Setelah itu Bumi langsung mematikan ponselnya lalu bergegas untuk pulang.
Bu Ningsih dan Pak Arif sedang menunggu.Mereka sudah tidak sabar ingin mendengar cerita tentang Bumi yang berhasil menemukan Kanaya.
" Assalamualaikum Pak mah Bumi pulang." Ucapnya begitu sampai di ruang tamu.
" Waalaikumsalam nak sini Duduk dulu mama udah nggak sabar dengar cerita kamu." Jawab bu Ningsih dengan gembira.
"Sabar dong mah Bumi capek tuh suruh dia makan dulu atau minum dulu." kata Pak Arif yang juga ikut duduk bersama bu Ningsih,kesehatannya sekarang sudah semakin membaik. Bahkan dokter juga sudah memperbolehkan beliau untuk kembali bekerja. Namun sepertinya Pak Arif akan pensiun lebih awal melihat kinerja Bumi sekarang sudah bagus dan berhasil memimpin perusahaan yang hampir bangkrut itu.
" Mama mau dengar apa lagi sih Bumi udah ceritain semua kan ditelepon kemarin." Jawab Bumi yang langsung merebahkan punggungnya di sofa.
" jadi Kapan kamu mau bawa Naya sama anak kamu ke sini Bum, Mama udah nggak sabar? "
" secepatnya mah Naya Lagi urus dulu kepindahan sekolah Eza, dan Bumi juga mau nyiapin dulu buat keperluan mereka di sini mah, paling dua minggu lagi Bumi udah bisa jemput mereka kok."
" Amin." sahut Bumi dan Pak Arif serentak.
" Terus rencananya kamu mau tinggal di sini atau di apartemen Bum? tanya Bu Ningsih penasaran.
" Kayaknya untuk beberapa hari Bumi sama Naya mau tinggal dulu di sini mah, pasti Kalian juga kangen kan dan pengen ngerasain berkumpul sama sama Eza? '
" Bagus kalau kamu tahu Bum. Emang kami pengennya begitu." Sahut Pak Arif.
" Tapi Bumi sebenarnya udah nyiapin rumah Mah ya walaupun masih kosong paling nanti sama Naya aja belanja buat isi-isi di dalamnya. Pokoknya tenang aja Papa sama Mama pasti puas deh bermain sama Eza Nanti sebelum kami pindah rumah."
" Pengennya sih kamu tetap di sini Bum,nggak usah pindah-pindah." Bu Ningsih yang sudah sangat senang akan kedatangan cucu dan menantunya, menjadi murung begitu mendengar Bumi akan pindah.
" kalau tetap di sini Bumi nggak ada privasi dong mah Bumi kan juga pengen ngerasain berduaan sama Kanaya."
__ADS_1
" Ya udah kamu berdua sama Naya tinggal di rumah kalian aja nggak apa-apa biarin Eza tinggal di sini sama kita ya nggak pa?'
" Betul itu." Sahut Pak Arif memberi tanda setuju pada sang istri.
***
Selama ditinggal oleh sang ayah Eza menjadi lebih pendiam dari biasanya. Ia juga tidak begitu banyak bermain bersama teman-temannya. Selain buat belajar waktu yang ia habiskan adalah menunggu sang ayah menghubunginya.
Hal itu membuat Kanaya menjadi prihatin ia sangat cemas dengan keadaan Eza yang sekarang.surat kepindahan Eza telah selesai, untuk urusan bisnis dan toko Kanaya juga semuanya sudah diserahkan pada Zora. Kanaya hanya tinggal menerima laporan saja setiap minggunya.
Zora yang melihat Eza selalu duduk termenung di depan toko menjadi sangat khawatir kemudian ia menghampiri anak lelaki yang sudah dianggap sebagai ponakan sendiri itu.
" Eza temenin tante ke mall yuk Tante lagi pengen beli es krim nih!" Ajaknya.
" Males tan,Eza lagi nungguin Ayah buat telepon." jawab Eza dengan lesu.
"Ya Jangan gitu dong Za, Tante jadi sedih nih, kapan lagi coba aja main sama tante kalau bukan sekarang seminggu lagi kan Eza udah dijemput sama papa Udah tinggal di Jakarta tante Sendirian. Ayo dong sayang kita makan es krim dulu." Bujuk Zora.
Eza nampak terdiam sejenak mencoba memikirkan ajakan dari sang tante,memang benar setelah ini pasti mereka bakal Jarang Bertemu.
"Baiklah tante Ayo kita pergi buat beli es krim."
" Nah gitu dong."
Zora dan Eza kemudian berpamitan pada Kanaya, mereka pergi memakai sepeda motor, karena jarak dari toko ke mall hanya lima belas menit.
Sesampainya di mall, terlebih dulu Sora mengajak Eza untuk main di playground, arena bermain anak-anak ini sangat disukai oleh Eza. seperti biasa, ia akan menemani pria kecil itu memainkan semua wahana di playground.Jika ada yang melihat pasti banyak yang menyangka jika Eza adalah putra zora.
Dari kejauhan seorang pria tampan baru saja keluar dari supermarket, ia yang sedang membawa keranjang belanjaan tak sengaja melihat Zora di balik kaca tengah bermain di wahana mandi bola bersama para anak kecil.
Sudut bibirnya tersenyum, ia sangat tahu sosok perempuan sederhana, yang berhasil lulus kuliah dengan nilai terbaik itu.Dan dia sangat bangga pernah menjadi dosennya.
__ADS_1