Jodoh Untuk Kanaya

Jodoh Untuk Kanaya
empT


__ADS_3

"Jadi, apa yang ingin ibu bicarakan padaku? Katakanlah sekarang" kata Kanaya.


"Oh ya, ibu hampir lupa." sahut ibu "Dengarkan ibu dulu. Mungkin kau akan sangat terkejut mendengarnya, tapi kau jangan langsung cepat mengambil keputusan setelah mendengarnya" kata ibu mengawali pembicaraanya.


"Memangnya berita apa? Kedengaranya sangat menakutkan," tanya Kanaya penasaran.


"Kau. Kau. Kau akan segera menikah. Ibu sudah memilihkan jodoh yang tepat untukmu" tutur ibu berterus terang.


"Apa! Menikah?" Kanaya terbelalak kaget. "Apa ibu sedang bercanda?"


"Ibu bilang juga apa. Kau pasti akan sangat terkejut. Ya benar, kau akan menikah,"


"Tentu saja aku begitu terkejut saat ibu mengatakan aku akan menikah. Di siang bolong seperti ini bagaimana mungkin aku mendengar hal konyol seperti itu. Itu jelas tidak mungkin" bantah Kanaya.


"Ibu tidak bercanda. Kau akan segera menikah dengan cucu penerus Sh Grup."


"Apa! SH Grup? Ibu. Sangat tidak mungkin aku menikah dengan keluarga kaya raya itu. Kenapa mereka mau menikahkan anaknya dengan keluarga miskin?"


"Mungkin kedengaran sangat aneh, tapi ini sudah menjadi takdirmu. Kau tidak boleh menolaknya"


"Tidak! Aku tidak mau!" tolak Kanaya mentah-mentah.


"Apa yang harus aku lakukan saat aku tidak sanggup lagi menangani keluarga kita. Kau mau ibumu ini masuk penjara karna terlilit hutang dengan renternir? Kau ingin keluarga kita tetap miskin? Coba pikirkan bagaimana biaya kuliah dan sekolah adikmu."


"Ibu. Tapi bukan begini caranya. Kita pasti bisa melewatinya. Percayalah, aku akan mengubah nasib keluarga kita setelah aku lulus nanti"


"Berhentilah berkhayal! Satu-satunya cara yang bisa kau lakukan adalah menikah"

__ADS_1


"Ini tidak adil. Kenapa ibu seperti ini padaku. Melihat sikap ibu sekarang, aku seperti putri yang sedang dijual"


"Jaga bicaramu. Ibu tidak menjualmu. Tapi menyelamatkan keluarga kita. Kakekmu meninggalkan sebuah wasiat agar kau menikah dengan cucu temanya. Siapa yang tidak menyangka kakekmu meninggalkan wasiat yang begitu penting"


"Apa? Kenapa ibu tidak memberitahuku?"


"Itulah masalahnya. Aku baru menyadarinya saat mereka berkunjung kemari dan menunjukkan wasiat itu. Kau tidak tau betapa kagetnya ibu dan ayahmu melihat surat itu. Rasanya aku sedang bermimpi"


"Itu tidak mungkin!" bantah Kanaya.


"Baiklah. Ibu akan menunjukkanya padamu." ibu bergegas menuju kamarnya untuk mengambil bukti. Lalu kembali dengan membawa sebuah kotak. "Lihatlah sendiri" kata ibu menyodorkan kotak itu.


Tanpa ragu Kanaya membukanya, dan melihat sebuah surat dan foto yang disana tampak jelas wajah yang ia kenal. Yaitu foto kakeknya bersama seorang pria yang sebaya denganya.


"Jadi selama ini kakek tidak bercanda bahwa ia mempunyai teman yang sangat kaya" gumam Kanaya. "Aku pikir itu hanya rekayasa kakek saja"


"Tapi, kenapa mereka baru datang sekarang?"


"Sebenarnya mereka sudah lama mencaritahu keberadaan kita. Saat kakekmu mengalami kecelakaan. Dan ayahmu membawanya kesini agar bisa merawatnya. Kakekmu tidak mengingat apapun setelah kecelakaan itu. Mereka sangat sedih saat mendengar kejadian itu"


Kanaya terhenyak mendengarnya. "Lalu, bagaimana mereka bisa menemukan kita?"


"Apa kau sudah lupa? Minggu lalu kau melamar ke perusahaan itu. Mereka terkejut begitu melihat biodatamu dan disitulah mereka tahu bahwa kau cucu Kun. Karena kau pergi begitu saja dan tidak mengangkat telponmu, jadi mereka memutuskan untuk mengunjungi rumah kita"


"Ah, ya benar. Jadi begitu rupanya"


"Jadi? Apa kau menerimanya?"

__ADS_1


"Tidak. Tidak. Tidak. Aku tidak mau dianggap sebagai wanita yang begitu gampang menerima tawaran ini."


"Kanaya. Coba pikirkanlah baik-baik. Kau yang memutuskan. Dalam waktu dekat kau akan mengunjungi mereka"


"Aku tidak mau!"


"Apa kau sudah gila!"


"Ibu. Apa salahku sehingga kakek begitu yakin ingin menjodohkanku dengan cucu temanya itu?"


"Dulunya itu hanya perusahaan biasa, sekarang siapa yang menyangka bisa menjadi perusahaan besar,"


"Entahlah. Aku tidak peduli dengan wasiat ini. Bukankah ini tidak sah? Aku sama sekali tidak setuju"


"Baiklah. Ibu mengerti keadaanmu. Kau berhak memutuskan pilihanmu, tapi dengan syarat"


"Syarat? Apa?"


"Kau harus bertemu dengan keluarga mereka dan mengenali calon suamimu. Jika nantinya kau menolak, kami akan menghargai keputusanmu"


"Benarkah begitu? Sebaiknya aku tolak dari sekarang"


"Tidak bisa!"


"Ibu. Biarkan aku memimirkanya dengan tenang"


"Ok. Aku akan menunggu jawabanmu biar ibu bisa menghubungi mereka secepatnya"

__ADS_1


"Aku mengerti. Aku pergi dulu"


__ADS_2