
Bu Ningsih menyandarkan punggungnya di dasboar tempat tidur, ia sedang memikirkan nasib putranya yang ditinggal kabur sang istri dalam keadaan hamil.Sungguh Bu Ningsih sangat tahu jika Kanaya bukan orang yang gegabah dalam mengambil keputusan , ini pasti ada sesuatu yang mempengaruhinya. Bu ningsih sangat tahu jika menantunya gampang terpengaruh oleh siapapun,, oleh karenanya bu ningsih khawatir jika memang itu yang terjadi
"Mah..." panggil Bumi dari depan pintu.
"Ia BUm, kamu mau kemana udah rapi gitu?" tanya BU Ningsih yang merasa heran dengaan pemampilan sang putra padahal ini sudah sangat malam untuk sekedar keluar.
'Aku gak bisa tidur Mah, setidaknya mau nyari informasi sama teman -teman SMA Naya, barangkali mereka tahu tentang istriku mah." Jawab pria berhidung mancung itu.
'Ya kau benar Bum, tapi kamu pergi sama siapa? ini sudah sangat malam, Mama tetap khawatir lo."
"Sama Devan Mah, jangan hawatir ya."
"Baiklah, tapi hati-hati dijalan ya."
Bumi mengangguk, sebelum pergi Bumi menyempatkan mencium tangan sang IBu. setelah itu ia meninggalkan kamar kedua orang tuanya menuju halaman rumah, karena di sana Devan sudah menunggu.
__ADS_1
satu hari, dua...hari.tiga Bumi masih mencari informasi keberadaan Naya, bahkan kini BUmi tinggal di bandung di tempat Naya kost, beruntung pekerjaanya bisa dilakukan dengan jarak jauh, hingga dia tidak begitu kesulitan untuk bulak balik bandung jakarta.
Sore hari, Bumi sedang jalan di atas trotoar.Perutnya sedari tadi minta diisi, akhirnya ia memutuskan untuk membeli nasi padang di seberang jalan dekat kampus UNLA tempat Naya kuliah disana.
Senyumnya mengembang saat ditanganya kini telah tertenteng kresek berisi nasi padang, bakso dan seblak. Benar-benar bayi dalam kandungan Naya membuat sang Ayah harus repot karena ngidam.
Ya saat ini Bumi sangat ingin makan jajanan yang sering Naya beli saat masih di bandung.
TIba-tba sebuah mobil berhenti tepat ddi sebelah Bumi,keluarlah dua orang sosok yang sangat familiar.
"Bum...kenapa?kamu gak kangen sama aku? kita udah lama gak ketemu lo." ucap Orang itu.
"Uuntuk apa kangen sama orang yang sudah berkhianat sama aku. Lagipula bukannya kamu ingin mengejar karirimu,kenapa sekarang harus kembali? Aldo gak bisa nyenengin kamu gitu?" ucap Bumi dengan ketus.
"Ayolah sayang maafin aku,please. Aku sungguh nyesel banget udah lakukin itu sama kamu. Aldo gak semenyenangkan itu di banding kamu Sayang. Aku jauh-jauh buang karir aku demi kamu Bum, demi nebus rasa bersalah aku sama kamu." ucap wanita itu yang tak lain adalah Nesa,mantan tunangan Bumi yang kabur saat pernikahan mereka.
__ADS_1
"Maafin kamu? mimpi." ucap Bumi sambil tertawa dengan sinis.
"Bagaimana mungkin aku bisa maafin kamu begitu saja, setelah apa yang kamu lakukan padaku dan keluargaku Nes. Kamu menggampangkan semua urusanmu tanpa peduli orang di sekitar kamu menderita." lanjutnya.
"ia sayang, tolong beri aku kesempatan untuk menebus kesalahan aku.Aku janji gak akan bikin kamu sakit hati dan kecewa lagi."
"Sudah terlambat untuk minta maaf dan menyesal Nes, aku sudah menikah, jadi kita jalan sendiri-sendiri sekarang. Aku udah gak bisa bareng kamu lagi karena di hatiku sudah ada nama wanita lain dan itu adalah istri aku,Kanaya." ucap Bumi dengan lantang.
Nesa mengepalkan tangannya sangat erat hingga terlihat kuku-kukunya yang memmutih. Namun kemudian dia menatap tajam pada mantan kekasihnya itu.
'Aku gak peduli kamu sudah menikah atau belum, bagiku kamu tetap milik aku, dan aku juga sudah menyingkirkan perempuan itu dari hidup kamu. Jadi mari kita kembali bersama sekarang. Mau kan Bum?" ucap Nesa lagi.
'Perempuan sinting, jangan harap aku akan kembali pada orang sepertimu.TIdak akan pernah, camkan itu." Bumi langsung berlalu dari hadapan Nesa yang masih berharap padanya.Dimas hanya bisa menyaksikan saja adegan di depanya dirinya sangat malas untuk mengurusi dua orang yang sudah membuatnya cukup pusing.
"Bumi tunggu, kamu gk bisa memperlakukan aku seenak hatimu. kamu harus tanggung jawab aku lagi hamil!" teriak Nesa dengan tidak tahu malu, padahal saat ini ia berada di keramaian.
__ADS_1