
Dimas membuka kedua matanya saat sang surya mulai masuk perlahan tangannya menutupi sinar matahari itu.
Mata masih sangat mengantuk, namun ia harus segera bangun karena ia harus kembali ke Bandung untuk mengajar.
"Pukul berapa ini?" tanya Dimas lirih.
Ia kemudian mulai bangun untuk ke kamar mandi, namun tiba-tiba tubuhnya terpaku.
"Tunggu ada yang aneh disini? Dimana aku dan...AAAAAAAAA" Dimas berteriak dengan kencang saat mendapati dirinya yang tak memakai sehelai benangpun. Lebih membuatnya terkejut adalah adanya seorang wanita yang sama-sama tak memakai baju tengah tidur pulas di sebelahnya.
Dimas memegangi dadanya dan mencoba mengumpulkan kepingan-kepingan ingatan saat terakhir sebelum ia kehilangan kesadarannya karena mabuk.
Saat dia mabuk, ada seorang wanita yang menghampirinya, dam setelah itu ia tak ingat apa-apa lagi.
"Sial siapa wanita ini ,kau ceroboh sekali Dimas." umpatnya lirih.
Tak ingin membuang waktu lagi, Dimas langsung berlari ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia mengumpat kesal pada dirinya sendiri yang semalam tidak sadar dengan segala perbuatanya.
Terlalu larut dalam kemarahan atas kata-kata yang Bumi ucapkan membuatnya lari club malam, niatnya untuk menghibur diri. Namun kini malah ia terjebak di dalam kamar hotel dengan seorang wanita yang tak ia kenal.
Dimas tak ingin berlama-lama didalam kamar itu, ia hanya mencuci mukanya dan membersihkan bagian intinya yang pasti telah ia celupkan ke sarang wanita itu. Buru-buru Dimas memakai lagi bajunya.
__ADS_1
Dilihatnya wanita itu masih tertidur dengan pulas, Sepertinya Dimas punya kesempatan untuk kabur.Sebelumnya ia meninggalkan sebuah chek dan pesan singkat untuk wanita itu.
( Aku tidak tahu siapa dirimu, dan maaf untuk semalam aku sama sekali tidak ingat. Uang ini sebagai penebus rasa bersalahku.)
Dimas segera keluar dari hotel itu dan meluncur ke Bandung.
**
Hari minggu pagi ini Bumil dan suami tampannya sedang berjalan-jalan di sekitar komplek. Ini sepertinya akan menjadi kegiatan yang menyenangkan untuk Bumi dan Kanaya tiap harinya.
Saran dari dokter Mia memang, agar Bumi selalu mengajak Kanaya jalan-jalan,meski kandungannya masih terbilang muda, tapi ini baik untuk hormon ibu hamil yang memang kadang naik turun.
''Boleh Mas, tapi Naya mau es cream ya.' ucap Naya dengan suara imutnya.
''Masih pagi sayang, jangan makan es cream, yang lain aja ok?"
"Tapi dedek mau es cream." bantah Naya dengan tangan yang mengusap-usap perutnya yang sedikit menyembul itu.
"Tapi sayang..." Bumi tak melanjutkan kata-katanya saat melihat Kanaya yang sudah berkaca-kaca karena keinginannya tidak di turuti.
Bumi menghembuskan napasnya sedikit kasar, Entah anaknya atau memang Bundanya yang manja, belakangan ini Bumi selalu di uji kesabarannya karena Kanaya yang sangat sensitif. Jika sudah begini maka dirinya akan menjadi bulan bulanan sang mama dijutekin bahkan di acuhkan.
__ADS_1
"Ok baiklah, Bumil boleh makan es cream, tapi karena ini pagi jadi hanya boleh sedikit ya." lanjut BUmi.
Seketika senyum mengembang di sudut bibir Kanaya, Saat sang suami sudah memberinya izin untuk makan es cream favoritnya.
"Hore... Ayah memang ter...ter..." Kata Naya.
"Ter apa? Tanya Bumi heran.
"He...he terbaik, ayah."
Bumi tersenyum kemudian mengacak rambut Naya menjadi berantakan.
'Ighh Ayah jangan jahil ya,rambut Bunda kusut ni." protes Naya.
"Nanti Ayah sisir, ya Udah tunggu dulu disini ya Ayah beli es cream nya dulu untuk Bunda dan dedek." lanut BUmi.
OK Ayah.
Sepeninggalan Bumi untuk membelikan istrinya es cream kini Kanaya hanya duduk sendiri di kursi itu, untuk mengusir jenuhnya ia mencoba mengayun -ayunkan kakinya ke depan dan belakang.
Tiba-tiba seseorang duduk di sebelahnya , penampilannya yang glamor sungguh membuat Kanaya tampak segan untuk menyapanya bahkan Kanaya sampai takut dan bingung.
__ADS_1