Jodoh Untuk Kanaya

Jodoh Untuk Kanaya
Bab 90 Pertemuan haru


__ADS_3

Bu Ningsih menatap haru kepada Kanaya yang sudah lama tak ia jumpai. ia begitu sangat merindukan putri yang telah ia anggap anak sendiri itu.


Mata Bu Ningsih semakin berembun kala melihat pria kecil dalam gendongan Kanaya, ia buru-buru menghampiri perempuan itu dan memeluknya erat.


"Putriku sudah kembali." bisiknya dengan suara terisak.


"Mama.."Kanayapun membalas pelukan sang mertua.


"Maafin Naya, mah.Udah ninggalin Papa dan Mama." ucapnya lagi.


"Sudah Mama maafkan sayang, jangan sekali-kali kamu kaya gitu lagi ya nak, mama gak akan sanggup kehilangan putri mama lagi."


Kanaya menggeleng."Tidak mah, Naya janji gak akan kaya gitu lagi." Kanaya melepaskan pelukannya dari sang Ibu kini berpindah menyalami Papa mertuanya,Pak Arif.


" papa." Sapanya.


" sayang." Kanaya mencium tangan Pak Arif kemudian memeluknya sebentar.


"Maafin Naya ya Pa sudah buat Papa dan Mama banyak pikiran. "


" Tidak sayang kamu nggak salah papa dan mama juga minta maaf tidak bisa melindungimu waktu itu. Kamu juga pergi gara-gara kami maafkan kami juga."


"Tidak t pah Naya yang salah."


"Sudah sudah jangan dibahas lagi Yang lalu biarlah berlalu sekarang kita buka lembaran baru.


Ayo kita masuk papa dan mama sudah kangen sama kamu." ucap Bu Ningsih lagi.


Mereka masuk ke dalam,Bu Ningsih menyuruh Kanaya membawa Eza ke kamar tamu yang jaraknya sangat dekat dengan ruang tamu, untuk menidurkan Eza.


"Dia sama seperti suamimu waktu kecil, Nay." ucap Bu ningsih dengan haru.


"Ia Ma, Eza memang sangat mirip dengan Ayahnya,bahkan kebiasaan merekapun sama." sahut kanaya lagi.


"kamu gak kesulitan kan saat mengandung,Eza? maafin Mama ya Nay. Kalau saja dulu Mama nggak terima Leo mungkin musibah ini tidak akan terjadi. Sampai saat ini Mama sangat menyesal dengan kejadian itu, Nay."


"Mah...udah ya jangan dipikirin lagi semua sudah berlalu. Atau sekarang Kanaya sama Eza juga sudah kembali ke rumah ini di mana seharusnya kami tinggal yaitu bersama mama dan papa."


" Kamu benar sayang setelah ini mama harap kalian bisa hidup rukun seperti dulu dan yang pasti jangan ada lagi pengganggu seperti Leo maupun Nesa."


"Amin Mah."


"Ya udah kita keluar yuk mah, kasihan Zora dan Papa menunggu!" Ajak Naya.

__ADS_1


Di ruang tamu,


terlihat Pak Arif yang sedang berbincang santai dengan Zora, rupanya mereka tengah membahas industri Textile yang di gelluti oleh Zora dan Kanaya.


"Kamu hebat lo Nay, dalam waktu empat tahun udah bisa punya toko dan bantu warga mencari mata pencaharian."


" Bukan cuma aku aja yang hebat Pak tapi zora juga, dia malah yang keliling-keliling ke rumah warga buat nyari produk buatan mereka." Sahut Kanaya.


"Ya pokoknya kalian berdua hebat masih muda tapi udah bisa bisnis Papa salut pokoknya. Terus toko sekarang gimana Nay?" tanya Pak ARif lagi.


"Toko ya sekarang dipegang Sora aja Pak dibantu sama Nurul, mungkin sekali-kali Naya juga datang ke sana kalau lagi weekend." jawab Kanaya lagi.


Pak Arif dan bu Ningsih tanpa manggut-manggut mendengar semua yang diucapkan oleh Kanaya.


" Ya sudah kalian istirahat aja gih, pasti capek habis perjalanan jauh. Nanti kita kumpul lagi pas jam makan siang biar suamimu Mama suruh pulang."


" Eh jangan ma,jangan bilang apa-apa sama Mas Bumi kalau saya udah ada di sini soalnya mau bikin kejutan." ucap Kanaya sambil tersenyum malu.


" ya sudah Mama nggak bilang apa-apa sama suamimu."


Sementara itu di kantor,


Bumi sedang dipusingkan oleh satu orang klien yang dari kemarin. Surat kontrak kerjasama yang harusnya beres di tanda tangani ternyata mengalami penundaan karena client tersebut tak sengaja menjatuhkan minuman ke atasnya. Alhasil mereka harus membuat lembar kontrak yang baru. Dan masalahnya adalah klien tersebut susah sekali untuk ditemui bahkan terkesan enggan ditemui.


" kamu yakin Bu Lita nggak mau ketemu sama kamu, Don?" tanya Bumi pada sang asisten,


" Ah bikin ribet aja nih orang, padahal cuman tinggal tanda tangan aja kan, susah amat sih." Bumi menyandarkan punggungnya di kusi kerja, sambil memijit pelipisnya yang tidak sakit,


" jadwalku dua hari ini apa aja?"


Doni membuka tabletnya untuk melihat jadwal Bumi yang sudah ia catat di sana.


" Bapak hanya ada pertemuan dengan PT Dirgantara lalu meeting bersama PT Nusantara Jaya,dan terakhir Bapak akan menjemput Ibu Kanaya di bandung."


Mendengar nama kanaya di sebut membuat Bumi sedikit semangat. Iya ingin pekerjaannya cepat beres agar segera menemui istri dan putranya di Bandung.


"ya audah Don, kamu atur pertemuanku dengan Bu Lita biar masalah cepat kelar, mandeg ni urusan ada di dia semua."


"Siap Pak."


Doni segera berlau dari ruangan Bumi, kembali ke ruanganya, sebelumnya ia sedikit menggoda Rini, sekretaris Bumi.


"Hai cantik , weekdend ini ngedate yuk."

__ADS_1


"Rini hanya melirik dengan ekor matanya setelah itu ia kembali fokus pada layar laptop tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Doni.


" Ih sombong nanti jatuh cinta lo sama aku." Ucap Doni sambil terus berlalu.


" bodo.: Sahut Rini.


Setengah jam kemudian,


"Kring."


"Kring."


terdengar bunyi telepon yang sangat nyaring, menghentikan kegiatan Bumi yang sedang membaca email. ia segera mengangkat panggilan itu.


"Halo."


["Halo Pak , malam ini bu Lita ada waktu untuk bertemu."] ucap Doni dari seberang sana.


" Ya udah kamu atur aja tapi jangan sampai malam ya Don aku nggak mau kelamaan."


[" jam setengah tujuh malam gimana Pak?"]


''Ok deh."


[" Baik pak akan saya sampaikan ke asisten beliau."]


setelah itu Bumi meletakan gagang telepon itu dan kembali melanjutkan pekerjaanya.


Kembali ke rumah,


Eza telah bangun dari tidurnya dan mendapati dirinya di sebuah kamar luas dan nyaman, ia mengucek-ucek matanya untuk memperjelas penglihatanya. Merasa sendirian di kamar itu,Eza memanggil sang Bunda.


"Bunda...Bunda.." panggilnya,merasa tak ada sahutan Eza akhirnya mendekati pintu dan keluar kamar.


Mulutnya menganga lebar melihat ruang tamu yang sangat luas juga mewah, di tambah tv yang sangat besar beda sekali dengan tv di rumahnya.


"Wah ini besar sekali tv nya, Eza mendekati sofa dan menepuk nepunya.


"Wah sofanya juga empuk adan wangi." ucapnya lagi.


"Gimana,Eza suka gak di sini?" Suara berat seorang laki-laki mebuat ia sedikit terperanjat. Ia menoleh kearah sumber suara, dilihatnya seorang lelaki paruh baya yang sering ia lihat saat video call.


"Kakek???" teriaknya.

__ADS_1


Pak Arif berjongkok menyambut cucu laki-lakinya, sejak kedatangannya tadi ia sudah sangat ingin memeluk Eza namun terhalang karena anak itu sedang tertidur pulas.


"Ia Nak ini Kakek. " Ucapnya lagi.


__ADS_2