Jodoh Untuk Kanaya

Jodoh Untuk Kanaya
Bab 62 Pergi dari rumah


__ADS_3

Bumi menghentikan aksinya saat terdengar suara keras dari sang Papa dan raut cemas dari Mamanya. Ia kemudian menghempaskan diri agar terlepas dari beberapa teman Leo yang memeganginya tadi.


Kanaya yang mendengar keributan di luar kamarnya segera mencari tahu apa yang terjadi, ia lalu mendekat ke kamar Leo dan betapa terkejutnya Kanaya melihat Bumi dan Leo sudah babak belur wajahnya.


"Ada apa ini? apa yang terjadi sampai kalian harus berkelahi seperti ini?" tanya Pak Arif dengan tegas.


"Anak ingusan ini sudah berani macam-macam disini Pah, Bumi gak terima." jawab Bumi dengan dada yang penuh emosi.


"Apa yang sudah Leo lakukan nak, sampai kalian harus berkelahi seperti ini. Gak baik nanti apa kata Bude Salimar jika mendengar ini." Sahut bu Ningsih.


Leo tersenyum sinis, ini akan ia jadikan senjata untuk membuat pria arogan yang sudah berani memukulnya itu untuk bertekuk lutut.


Leo tahu bahwa Bumi selalu patuh dengan semua perkatannya Bude nya yang tak lain adalah Mamanya.


"Maaf Mah, Bumi gak bisa nahan lagi, Leo sudah sangat keterlaluan, Mama tahu apa yang ia perbuat kali ini?"


"Apa?" tanya Pak Arif.


"Dia berniat meniduri istriku Kanaya. Aku tidak terima Pah, selama ini dia memandang istriku dengan kotor."


Kanaya menutup mulutnya, terkejut dengan apa yang barusan suaminya ucapkan. Benarkah Leo berniat seperti itu. Pantas saja Leo sangat giat mengajak dirinya untuk pergi berdua atau terkadang mencuri kesempatan saat Bumi sedang tak ada di sampingnya.


Beruntung,Kanaya adalah istri yang patuh hingga ia tidak pernah tergiur sedikitpun pada ajakan Leo.


"Apa? tidak mungkin Leo seperti itu nak,kamu mungkin salah paham." ujar Bu Ningsih. meskipun dirinya juga terkejut namun ia berusaha bersikap adil, karena belum mendengar alasan dari pihak Leo.


"Mama tidak percaya dengan ucapanku? kalau begitu tanyakan saja pada keponakan kesayangan Mama ini,dan mereka juga telah menjadi saksi bagaimana pria kotor ini mengatakan niatnya.Sungguh menjijikan."


Bumi segera meraih lengan Kanaya dan mengajaknya ke luar kamar itu.


"Ayo sayang, Mas minta sama kamu jangan dekat-dekat lagi dengan pria itu.Dia sangat berbahaya dan Mas gak mau kamu kenapa-napa." ucap Bumi.


"Tunggu Bum, kita selesaikan dulu masalah ini. Dengarkan penjelasan leo." ucap Bu Ningsih lagi.

__ADS_1


"Benar apa yang dikatakan Bumi, Le?" tanya Bu Ningsih pada sang ponakan.


"Tidak benar, Tan. Aku gak sekotor itu untuk meniduri kaka iparku sendiri. Lagian jangan salahkan aku jika aku memandang Kanaya mesum.Lihat saja penampilannya seperti itu." Tunjuk Leo pada gadis yang tangannya sedang di gandeng oleh Bumi.


Bu Ningsih dan Pak Arif menatap menantunya yang memakai piyama berbahan satin, tidak seksi dan menerawang, hanya saja bagian celana di atas lutut.


"Apa yang salah dengan penampilan Naya, itu biasa saja." ucap Bu Ningsih.


"Tante jangan pura-pura bego. Apa tante gak lihat tanda merah di leher perempuan itu.Tercetak jelas. Semua orang yang melihatnya sudah tentu berfikir dia hobi berhubungn badan dengan laki-laki dan orang juga akan terpancing ingin melakukannya juga,Tan."


ucap Leo lagi.


Bumi bernapas dengan kasar, ini adalah masalah pribadi yang tak seharusnya di umbar ke siapapun juga, terlebih ada teman-teman Leo yang mendengarnya. Bumi juga takut setelah ini Kanaya akan menjadi malu dan kehilangan muka di depan teman-teman Leo.


"Pikiranmu masih kekanak-kanakan Leo, Kami adalah pasangan suami istri dan berhak melakukan apa saja, selama itu tidak merugikan . orangpun juga tahu bahwa Kanaya adalah perempuan bersuami.Lagipula kamu tidak berhak mengkritik penampilan istriku, dia masih tertutup meskipun belum berhijab. Yang lebih lagi dia selalu menjaga kehormatannya  dari semua lelaki,dengan menjaga jarak."


"Tapi ini tidak adil untuk Naya dan aku Mas?"


"Seharusnya Kanaya itu berpasangan denganku yang lebih segalanya darimu, Bukan malah menjadi istrimu yang hanya punya jabatan rendah."


"Cukup Leo, kamu sudah benar-benar keterlaluan. Benar kamu tidak berhak mengkritik Kanaya, dan kamu juga tidak berhak menghina putra saya seperti itu.Jika kamu memang keberatan dengan kemesraan yang di tunjukan anak dan menantu saya, kamu bisa angkat kaki dari rumah ini. Hiduplah dengan semaumu dan jangan ganggu ketentraman keluarga ini." Bentak Pak Arif kesal.


"Pah." ucap Bu Ningsih.


"Apa Ma, sudah cukup keluarga ini dihina terus menerus, Papa sudah tidak tahan."


"Jangan seperti itu,Pah.Apa kata Mba Salimar jika mendengar putranya pergi dari rumah kita." Cegah Bu Ningsih lagi.


"Kenapa dengan Mba Salimar, apa kita harus di injak-injak terus harga diri kita begitu mau Mama?"


"Tapi Pah, Mama.." Bu Ningsih tak melanjutkan ucapnnya saat sang keponakan sudah lebih dulu menyelanya.


"Coba saja Om mengusirku jika ingin perusahaan Om yang kecil ituMama hancurkan begitu saja."

__ADS_1


Bumi memejamkan matanya dan tangannya mengepal kuat, selalu ancaman seperti ini yang keluargnya dapatkan jika ada salah satu anggota keluarga Salimar yang tersinggung.


"Le, maafkan Om dan Tante ya, kamu sudah jangan marah-marah lagi , baikan sama Mas bumi sekarang ini hanya salah paham kan." Ucap Bu Ningsih.


"Aku bisa saja memaafkan Bumi karena dia telah memukulku Tante, namun dengan syarat."


"Apa itu?"


"Bumi harus menyerahkan Kanaya padaku."


Kanaya terkejut ia langsung mempererat tautan tanganya pada sang suami yang saat ini sedang menahan lonjakan emosi.


"Mas Naya gak mau." bisiknya lirih namun dapat di dengar oleh Bumi.


"Tenang saja sayang, Mas gak akan lepasin kamu." ucap Bumi.


Pak Arief sudah benar-benar murka ia tidak dapat lagi menahan amarahnya.Maka segera ia ingin memukul keponakan kurang ajar itu namun dengan sigap Bu Ningsih menghalangi.


"Sabar pa.. tahan emosimu." ucapnya.


"Bagaimana aku bisa sabar Ma, anak itu sudah tersesat karena tidak mendapat didikan dari orang tua. Tidak ada ras hormat dan kurang ajar pada sepupunya sendiri.Mau jadi apa nantinya anak seperti ini."


"Ia Pa, Mama ngerti. Tapi inget Pah dia anak kakaku dan orang tuanya sudah banyak berjasa untuk keluarga kita."Lanjut Bu Ningsih.


"Jadi gimana Tante dan Om mau menerima tawaranku?"  ucap Leo lagi.


"Aku tidak akan sudi menyerahkan istriku pada lelaki kurang ajar sepertimu, brengsek.Yang bisa memisahkan kami hanyalah maut .Kau dengar itu!!!' teriak Bumi.


"Untuk Papa dan Mama, mungkin ada baiknya aku dan Kanaya pindah dari rumah ini, agar anak itu tidak membuat masalah lagi. Satu hal yang pasti aku tidak akan pernah melepaskan Kanaya hanya karena gertakan anak kurang ajar ini." ucap Bumi.


"Ayo sayang kita pergi, kamu tidak aman berada di rumah ini."


Bumi menuntun lengan Kanaya kembali ke kamarnya untuk bersiap meninggalkan rumah besar milik keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2