
Dalam perjalanan pulang, Kanaya terus bungkam,tak bersuara sepatah katapun, membuat Bumi pun melakukan hal yang sama, bukan karena ia ingin membalas dendam pada Kanaya, namun lebih memberi kesempatan pada wanita itu untuk mengekpresikan kemarahannya.
Ya Bumi tahu, ini gambaran kecemburuannya Kanaya padanya, dan ia dapat memahami itu semua.Bagi Bumi sekarang yang terpenting adalah wanita itu berada si sisinya, untuk rasa marah ia yakin bisa mengatasi itu semua.
"Sayang, udah ya marahnya!" ucap Bumi begitu mereka sudah berada di kamarnya, Eza sudah lebih dulu di tidurkan di kamar miliknya, sekarang waktunya Bumi membujuk istri cantiknya agar tak lagi marah padanya.
"Apa saja yang sudah mas lakukan selama aku gak ada di sisi?" tanya Kanaya dengan cemberut, ia sendiri bingung kenapa bisa bersikap seperti ini pada Bumi, padahal dulu Kanaya adalah seseorang yang mampu memendam perasaanya sendiri.
''Gak ada yang Mas tutup-tutupin dari kamu,Nay. Mas gak bohong,Kamu bisa tanyakan ini pada Doni, selama empat tahun ini Mas hanya menghabiskan waktu dengan anak itu, itupun karena urusan pekerjaaan dan juga mencari kamu, Mas gak melibatkan karyawan wanita,Mas kapok sayang dekat-dekat dengan lawan jenis yang bukan muhrim."
Kanaya menatap suaminya masih dengan perasan kesal, entah sejak Bumi terus terang mengenai Ana yang terang-terangan mengejarnya membuat ia menjadi sedikit tidak nyaman,Ia tidak suka ada wanita lain yang mendekati suaminya.
Bumi menghela napasnya panjang membujuk seseorang yang sedang cemburu itu ternyata butuh kesabaran extra dan ia sedang mengumpulkan itu.
"Ok, Mas akan ceritakan tentang Ana, kenapa Mas pecat dia dari perusahaan dulu."
Kanaya terdiam, menunggu suaminya berbicara tentang mantan sekretarisnya itu.
"Jadi Ana itu sama seperti Nesa, tergila-gila sama Mas, awalnya Mas tidak menyadari itu semua, namun saat ia tahu kamu pergi dari Mas, dia makin gencar dengan aksinya yang terang-terangan menyukai Mas, Sumpah demi apapun Mas gak pernah tanggapi itu semua,Mas langsung mecat dia setelah ketahuan dia menaruh obat kedalam minuman Mas."
Kanaya menutup mulutnya tak menyangka seorang Ana yang terlihat baik ternyata mampu melakukan hal -hal yang memalukan seperti itu.
"kenapa Bisa dia melakukan itu, mas?"
Mas gak tanya detail masalah itu sayang, mas hanya mencegah dia berbuat lebih jauh lagi, makanya Mas langsung pecat dia.' ujar Bumi.
"Makanya mas minta sama kamu agar kamu tak lagi pergi dari sisi Mas ya, selalu jaga dan lindungi Mas dari perempuan-perempuan seperti Ana dan juga Nesa" ucap bumi mencoba meyakinkan istrinya itu.
"Memang kenapa?"
"Kamu jangan jauh-jauh lagi dari Mas, biarin semua orang tahu kalau Bumi Mahesa yang tampan dan ganteng ini sudah ada pawangnya, sudah menikah dan punya anak."
__ADS_1
Kanaya hanya memutar bola matanya dengan malas, suaminya terlalu percaya diri ternyata.
''Eghhh sayang, ngomong-ngomong tadi pagi Mas ngobrol sama Eza, dia setuju lo kalau kita program buat anak lagi. Mas pengen lihat kamu hamil dan melahirkan sayang, mau ya."
Bumi mengedip-kedipkan kedua matannya,membuat Kanaya menjadi geli.
''Gak sekarang Mas, nanti nunggu Eza lebih besar ya baru ngomongin anak." jawab Kanaya,
"Ya sayang jangan gitu donk, Mas pengen punya anak lagi dalam waktu dekat, Mas janji akan jadi suami siaga saat kamu hamil dan melahirkan."
Kanaya hanya bisa menghela napasnya, jika suaminya sudah ingin ia bisa apa, hanya bisa menurut saja bukan.
"Kita serahkan Pada Allah SWT ya Mas, semua sesuai kehendaknya saja,Naya pasrah."
Bumi melebarkan senyumnya, "Itu artinya Naya mau hamil lagi anak mas?"
Dengan menunduk Kanaya mengangguk meng iyakan.
***
Hari ini hari pertama Eza masuk sekolah baru, sudah dari pagi anak lelaki Bumi itu begitu heboh karena akan menempati kelas baru, meski kemarin saat ia kesana,Eza dalam keadaan tidur.
"Ayah... ayo cepetan sarapannya, nanti aku terlambat ke sekolah." ucap Eza yang dangat sudah tidak sabar ingin segera berangkat, sedangkan sang Ayah masih menghabiskan sisa sarapannya.
"Sayang, tungguin donk Ayah selesaikan dulu makannya ya, habis itu antar Eza." ucap Kanaya.
"Udah gak apa-apa Bunda, ayah udah siap ko.Yuk berangkat!"
Kanaya mengambil tas kerja sang suami, sementara Bumi langsung mengangkat bocah itu untuk ia gendong, sebelumnya Eza telah berpamitan pada kakek dan neneknya yang juga ikut sarapan bersama di ruang makan.
Dalam perjalanan ke sekolah, Eza terus saja berceloteh ria, seperti ada saja bahan pertanyaan yang harus orang tuanya jawab, terutama Bumi. Eza paling banyak bertanya pada pria itu karena kanaya sering sekali menjawab daripada Bumi.
__ADS_1
Tak terasa mereka telah tiba di sekolah, Bumi kembali menggendong tubuh kecil itu, setelah turun dari mobil, dan Kanaya mulai mengikutinya di belakang, mereka terlebih dulu masuk ke ruang kepala sekolah, sebagai laporan bahwa murid baru yang bernama Alteza sudah siap untuk belajar.
Kepala sekolah itu memanggil seorang guru yang mempunyai paras yang cantik, Kanaya langsung waspada melihat paras orang yang akan menjadi guru untuk putranya itu.
"Bu Anyelir, ini Alteza murid baru yang akan masuk ke kelas Tk A." Ucap Bu kepala sekolah.
wanita yang bernama Anyelir itu tampak berjongkok dan mulai memperkenalkan diri pada Alteza, tampak Eza menyambut ramah orang yang akan menjadi gurunya itu, setelah itu Anyelir juga berkenalan dengan orang tua Eza.
*
"Maaf untuk Mama dan Papa, kalian mengantarnya hanya sebatas disini saja ya, percayakan Alteza pada kami sebagai wali kelasnya dan guru yang akan mengajar." ucap Anyelir, setelah mereka sampai di depan kelas Alteza.
"Baik, Bu Guru." ucap Kanaya dengan ramah.
"Kalau begitu Papa dan Mama bisa tunggu di sebelah sana!''Tunjuk Anyelir pada sebuah ruangan khusus untuk wali murid atau perwakilan yang menunggu anak-anak mereka belajar.
"Namun, jika Papa dan Mama mau meninggalkan putra dan putrinya juga tidak masalah, kami akan menjaga mereka dengan baik, dan saat jam pulang kami akan memberitahukan lewat wa grup.Maaf sebelumnya,Mama dan papa sudah masuk dalam wa grup sekolah kan?" tanya Bu ANyelir lagi.
"Sudah Bu Guru, tadi malam ibu kepala sekolah sudah memasukan nomor saya dalam grup." Ucap Kanaya lagi, Bumi sedari tadi hanya memperhatikan lingkungan sekolah tanpa berniat ikut nimbrung pembicaraan Kanaya dan guru baru Eza itu, baginya cukup sang istri saja yang berinteraksi.
"Untuk hari ini mungkin saya akan menunggu dulu Bu, sampai Eza sudah terbiasa." Lanjut Kanaya.
"Baik kalau begitu, saya masuk dulu ya Papa dan Mama.' pamit Bu Anyelir.
"silakan Bu."
Kanaya mengajak Bumi untuk duduk di ruang tunggu sambil berbincang santai, suaminya akan ke kantor setelah mata pelajaran selesai dan mengantar keduanya kembali ke rumah.
Kanaya menghentikan langkahnya saat melihat Ana juga berada di ruangan itu, apakah wanita itu juga punya anak? dan saat ini tengah menunggu anaknya belajar.
Seketika Mood Kanaya menjadi berantakan.
__ADS_1