Jodoh Untuk Kanaya

Jodoh Untuk Kanaya
Bab 81 Tidak seperti yang diduga


__ADS_3

Ezza hanya bisa diam saat Om yang ia temui di restoran cepat saji itu mengatakan kalau dia ayahnya, antara percaya dan tidak, namun ia juga merasakan pelukan lelaki dewasa itu sungguh menenangkan.


"Apa yang Om katakan?" tanya Ezza bingung.


Bumi mengusap air mata di kedua pipinya,lalu kembali menatap Ezza.Ia yakin dan sangat yakin, anak laki-laki itu adalah putranya, Putra yang ia tidak tahu kehadiranya di dunia ini.


"Ezza mash ingat saat di restoran kemarin, Om bilang jika Ezza adalah anak Om?"


pria kecil itu mengangguk.


"Masih Om, kenapa Om bilang begitu.


"Karena Mahija."


"Mahija?" tanya Ezza heran.


"Mahija berarti Putr Bumi, dan nama Om adalah Bumi." jelasnya.


Ezza kecil menutup mulutnya," Benarkah Om ayahnya Ezza?Bunda juga pernah bilang kalau nama Ayah itu Bumi, makanya itu jadi nama belakang Ezza Om."


"Bunda?" Bumi teringat akan sosok wanita kesayangannya.


''Iya."


"Dimana Bunda nak? Ayah mau bertemu!"


"Ada di dalam, lagi kerja."


"Kita kasih kejutan Untuk Bunda ya." Bumi mengangkat tubuh mungil Ezza dan menggendongnya. Kini keduanya telah masuk ke dalam toko.


Di ujung pintu terllihat dengan jelas Kanaya yang tengah sibuk dengan laptopnya, memeriksa semua data data barang dan harga sebelum di jual kembali,tampak disana juga ada Nurul yang tengah membungkus pesanan kain via online.Bumi melihat ruangan itu penuh dengan paket paket yang siap di kirim ke ekpedisi. Ia sangat yakin jika Kanaya selama ini hidup dengan baik dan kebutuhanya terpenuhi.


"Lho Aa datang lagi mau beli kain lagi A? Tanya Nurul.


Kanaya yang sedang sibuk dengan datanya melihat kearah depan.


Ia langsung terlonjak dan kaget, di depannya Bumi sudah berdiri dengan tatapan datar mengarah padanya,bersama Ezza yang ada dalam gendongannya.


"Mas Bu...Mi.." Ucapnya lirih.


Masih terdiam kaku, perahan Bumi menurunkan Ezza dari gendongannya, lalu mendekat pada wanita yang sedang menatap dirinya dengan penuh kerinduan.

__ADS_1


Bumi yakin, perasaan Naya-nya masih sama, ia bisa meihat itu.


Ia semakin mendekati tubuh itu, menatap lekat-lekat dua mata yang selalu membuatnya teduh, dua pipi yang selalu ia usap.


"Kenapa kamu hukum aku dengan kesalahan yang tidak aku buat,Nay? kenapa?"


Kanaya hanya bisa menangis sesenggukan, Sungguh dirinya pun tersiksa dengan keadaan ini.


"Maaf Mas, Naya harus pergi dari hidup kamu.Ini pun bukan maunya Naya."


"Apa kamu gak mikirin dampak yang telah kamu perbuat itu hah? bukan hanya aku yang jadi korban egois nya kamu tapi Altezza juga."


Kanaya mendongakan kepala,


"Mas... kamu?"


"Semua orang yang melihat kami pasti juga bisa menebak hubunganku dan Ezza, apalagi kamu juga memberi namaku di belakang namanya."


Kanaya memejamkan mataya yang telah basah oleg genangan,Ia menunduk menyesal.


"Maaf Mas.Naya terpaksa demi keselamatan putra kita." lirihnya.


"Aku tidak tahu Nay, dosa apa yang telah aku perbuat hingga kamu ninggalin aku begitu saja,Apa terlalu fatal? hem?"


"Kamu masih Naya Ku yang polos dan mau saja di bodohi oleh mereka semua. Tanda tangan di surat itu palsu,Naya.Demi Allah aku tidak pernah menceraikan mu,sampai detik ini kamu masih istri aku yang sah Kanaya Fitriani!"


Tangis Kanaya pecah seketika itu juga,bahkan sampai meraung-raung, membuat Ezza mendekati perempuan itu karena khawatir.


"Bunda kenapa nangis?"


"Bun.." Pria kecil itupun melirik Bumi yang sama ikut menangis.


"Kok Om juga ikut nangis kaya Bunda?"


Nuru yang meihat suasana tidak mengenakan akhirnya mengajak Ezza untuk keluar.


"Ezza sayang, ikut teh Nurul ke Mang Asep yuk. Kita beli basreng!"


"Gak Teh,Ezza mau disini sama Bunda."


"Eghh Ezza di Mang asep juga ada salad buah kesukaan Ezza, kejunya banyak lo Za, yuk beli yuk!" bujuk Nurul lagi.

__ADS_1


Seketika perhatian Ezza dari sang Bunda beralih pada tumpukan keju yang Nurul ceritakan.Ia pun mengangguk dan minta di gendong pada Nurul.


"Teh Naya,toko Nurul tutup dulu ya, kalian butuh bicara berdua.kalau cari kami di kedai mang asep ya Teh." pamit NUrul pada Kanaya.


Wanita itupun mengangguk.


***


Setengah jam kemudian.


Bumi duduk di tepi kolam ikan kecil tempat Ezza jika bosan bermain di depan toko, maka pria kecil itu akan duduk di tepi kolam sambil memberi makan ikan. Hal itu juga di lakukan oleh Bumi.


Kanaya datang dengan secangkir Teh hangat di atas nampannya, tidak lupa juga camilan yang di buat sendiri di rumah.


Kanaya meletakn nampan itu di sebelah Bumi lalu duduk di sebelahnya. Kini keduanya sama-sama menghadap kolam, memerhatikan ikan-ikan koki yang berenang kesana kemari dengan anak-anaknya.


"Mas Bumi apa kabar?" tanya Naya, setelah drama tangis- tangisan tadi kini mereka terllihat sangat canggung,mungkin karena empat tahun terpisah.


Bumi tersenyum masam, dilihat dari muka seharusnya Kanaya tahu betapa waktu empat tahun itu adalah waktu yang tak ingi Bumi lewati, karena terlalu pahit untuknya.


''Menurut kamu setelah di tinggalkan belahan jiwa, apa aku akan terihat baik-baik saja.Sangat buruk,Nay..bahkan lebih buruk dari saat di tinggal pengantinku kabur saat itu."


Seketikan raut wajah Kanaya kembali muram.


"Maaf." lirihnya lagi.


"Apa hanya itu yang bisa kamu sampaikan setelah empat tahun Kanaya kita berpisah.Kamu hanya bisa bilang maaf?" Bumi sedikit menaikan suaranya, begitu kecewa dengan Kanaya yang telah menyembunyikan buah hati mereka. Apa setidak layakkah dirinya hingga wanita itu tidak ingin Bumi ada di sampingnya saat hamil dan melahirkan Ezza


"Semua demi kebaikan semua orang Mas, makanya aku pergi dari hidup kalian, aku juga gak mau terus di ganggu dan di ancam oleh mereka yang tidak suka dengan hubungan kita.Aku udah gak kuat Mas." Jawab Kanaya juga dengan tegas.


"Jadi karena itu kau menyerah,Nay?kamu menyerah begitu saja? Demi kebaikan siapa yang kamu maksud? Nesa atau Leo. Bahkan nasib mereka pun kini kamu gak tau kan?''


Kanaya terdiam. Benar apa ang di katakan Bumi, sudah sangat lama dirinya menutup diri, mencoba bertahan agar tak mencari tahu apapun tentang Bumi dan orang-orang yang telah menyakitinya. Bahkan untuk semua bisnis, rumah dan tokopun atas nama Sora semua. Ia pemain di balik layar meski perannya lebih banyak Naya daripada Sora.


"Jika kamu pikir dengan memberikan tanda tangan di surat cerai palsu kita agar aku bersatu kembali dengan Nesa, kamu melakukan kesalahn besar Naya. karena sampai detik inipun aku tidak sudi menjadi bagian dari hidupnya, Istriku tetaplah kamu seorang. Atau jika kamu sengaja pergi agar bantuan dana dari Bude Salimar untuk perusahaan Papa pun kamu salah, karena pada kenyataannya perusahaan papa bangkit,namun bukan karena Bude, tapi karena usaha kami sendiri.


"Apa maksud kamu mas?" tanya Naya kaget.


"Kamu membuat perjanjian dengan Leo agar menceraikan aku, dengan jaminan perusahaan papa kembali stabil. Pada kenyatanya Bude Salimar tidak membantu sepeserpun pada perusahaan kami."


"Apa?? jadi Leo bohong?"

__ADS_1


Bumi mengangguk.


__ADS_2