
Hari kedua Kanaya di kurung di sebuah tempat terpencil jauh dari ibukota, Ya Leo memindahkan Kanya ke sebuah villa yang telah ia beli sebelum nya satu atap dengan Nesa.
Leo membawa nampan berisi makanan dan juga air untuk kanaya yang masih di kurung di ruangan kosong.
Saat ia membuka pintu terlihat Kanaya tengah berbaring dengan mata yang terpejam,Sebenarnya ia sangat kasihan melihat wanita itu,tapi demi rencananya berjalan lancar Leo merasa harus tega.
Leo meletakkan nampan itu di atas sebuah meja kecil, lalu menghampiri kanaya dan membuka lakban yang menutup mulutnya.Semalam ia terpaksa menutup mulut wanita itu dengan lakban, karena Kanaya yang selalu berteriak -teriak tidak jelas, hingga menyebabkan telinganya terasa sakit.
"Selamat pagi,Naya. Maaf semalam aku harus menutup mulutmu seperti ini, tapi sekarang sudah kubuka bangunlah Nay!' ucap Leo mengguncang pelan tubuh wanita itu,namun Kanaya tak bergeming.
''Nay bangun sayang, ayo kita makan biar tenagamu cepat pulih."ucap Leo namun tak ada balasan sama sekali dari Kanaya, wanita itu tetap tertidur,
Leo kembali berusaha untuk membangunkannya seperti tadi, namun lagi-lagi Kanaya tak bergeming,Leo menjadi panik dan tak sabar.
"Nay... bangun,jangan bercanda."
bertapa terkejutnya Leo saat ia menyentuh kening Kanaya ternyata sangat panas.
"Ya Tuhan,Nay..."
"Naya bangun, kamu gak boleh sakit,Ny." Leo menepuk nepuk pelan pipi kanaya yang wajahnya semakin memucat.Ia bingung harus bagaimana sekarang.
"Ya Tuhan ku harus bagaimana? mana ke rumah sakit cukup jauh dari sini dan Nesa ,apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Leo berlari keluar untuk mencari Wanita hamil itu, begitu sampai tanpa mengetuk pintu ia langsung masuk
"Hei... kenapa langsung masuk, ketuk pintu dulu lah,Gak sopan banget sich." kata Nesa, saat ini ia tengah memakai handuk sebatas dada karena baru saja mandi."
"Sorry Nes, aku cuma mau tanya kau punya obat demam?"jawab Leo panik.
"Obat demam? untuk siapa?"
"Naya panas banget,Nes.Dia kayanya demam."
"Owh..." Nesa langsung berlari dari hadapan Leo, dengan santai ia memakai bajunya di hadapan Leo.Membuat pria itu menelan saliva melihat tubuh Nesa yang tanpa sehelai benangpun, bahkan dengan jelas ia bisa melihat lekukan tubuh itu dan beberapa aset yang harusnya tertutup.
"Kenapa kamu santai sekali Nes ganti baju dihadapanku?" tanya Leo sedikit heran.
__ADS_1
"Salahmu kenapa kamu datang ke kamarku tanpa permisi."
''Sorry, bagaimana kau ada obat demam tidak.Kanaya sakit dan aku tidak tega."
"kau ini aneh, aku wanita hamil. Jadi tidak mengkonsumi obat sembarangan." ucap Nesa dengan tegas.
"Benar juga ya, lalu aku harus bagaimana?" tanya Leo lagi.
"Tinggal kau kompres dan kau rawat baik-baik.Siapa tahu dengan kau merawatnya,dia jadi luluh olehmu.Sudah sana jangan ganggu aku lagi,berikan dia perhatian yang lebih.!
Leo tersenyum sumringah setelah mendapatkan ide dari Nesa, ia kembali bergegas keluar mendatangi Kanaya.
**
Dengan penuh perhatian Leo mengompres kanaya dengan air hangat, Sekarang kondisi kanaya sudah lebih baik daripada tadi.
"Maafin aku ya Nay, udah bikin kamu jadi sakit gini.Cepet sembuh ya habis ini kita pergi dari tempat ini."Ucap Leo.
"Benarkah? kamu bawa aku pulang ke Mas Bumi kan?" tanya Naya senang.
Leo menggeleng pelan,"Tidak Nay, aku gak bisa lakukan itu.Aku sudah janji sama Nesa akan membuat dia bersatu kembali dengan Bumi,kasihan bayi dalam kandungannya butuh seorang ayah."
"Kau ternyata benar-benar sangat bodoh Leo."ucapnya.Setelah itu ia lebih memilih bersandar pada ranjang tempat tidurnya dan memejamkan mata,sambil menteskan air ,mata.
**
Sudah dua hari Kanaya tidak kembali ke rumah, membuat Bumi panik dan cemas bukan main, ia tidak bisa menemukan Kanaya dimanapun juga, bahkan di rumah lama yang Kanaya tempati waktu kecil pun tidak ada.
"Apakah Naya pulang ke rumah Eyang putri di jogja ?' tanya Bumi pada diri sendiri.
"Tika mungkin Naya pulang tanpa memberitahuku,kami tidak sedang bertengkar.Lalu kemana dia?"
Bumi saat ini sedang dikediaman Bu Ningsih, sejak kemarin ia bulak balik bersama Bu Ningsih berusaha mencari Naya, dibantu oleh Pak arif juga,meskipun pria itu mencari saat waktu luang saja.Tanpa mereka ketahui memang saat ini Pak Arif sedang dalam kesulitan.Perusahaanya saat ini tengah mengalami kesulitan keuangan dan sedang dalam ambang bangkrut.
"Kamu yakin Bum Naya gak bilang sesuatu sama kamu, barangkali dia kerumah temannya atau kemana gitu?" tanya Bu Ningsih mencoba mengorek sesuatu yang barangkali Bumi lewatkan.
"Tidak Mah.Bumi sudah coba bertanya ke teman-teman kampusnya namun tak ada juga yang tahu." Ucap Bumi lesu.
__ADS_1
"Ya ALLAH Kemana anak itu sebenarnya?"
"Paling dia pergi sama laki-laki lain,Kabur dari kamu,Bum.Sudah tidak usah lagi kalian cari wanita itu,ceraikan saja dia."tiba-tiba Bude Salima datang dan langsung nimbrung bersama Bumi dan juga Bu Ningsih.
Bumi menepuk dadanya pelan berusaha sabar menghadapi perkataan Bude Salimar yang sangat menyakiti perasaanya.
"Kalau Bude tidak berniat membantu Bumi tidak apa-apa, tapi jangan racuni pikiranku dengan hal-hal yang tidak masuk akal.Asal Bude tahu Kanaya di didik oleh Papah dan Mama dengan adab yang baik dan santun, bahkan demi menghormati suaminya dan menjaga martabatnya ,dia telah memaakai pakaian yang tertutup.Apah Bude masih meragukan istriku?'"
"Bude memang tidak setuju kamu menikah dengan wanita miskin itu Bumi,dia tidak sebanding dengan keluarrga besara kita." ucap Bu SAlimar.
Bumi terkekeh pelan.
"Maaf Bude, sepertinya Bude terlalu ikut campur dalam urusan internal keluarga kami.BUde harus sadar bude ini orang luar dan tidak punya ranah sama sekali.Mau seperti apa Kanaya ini adalah urusanku, siapapun tidak berhak menilai dirinya buruk .Papah dan Mama juga tidak berhak apalai Bude yang hanya sebatas kaka dari ibuku."
Setelah mengatakan itu,Bumi memilih pergi,Ia mengambil jas yang ia letakan di atas sofa dan tanpa berpamitan pada Mama dan Bude Salimar ia langsung meninggalkan rumah itu.
"Dasar anak kurang ajar,sama aku saja dia tidak punya rasa hormat.Inikah didikanmu Ningsih?"
Bu Ningsih hanya bisa tertunduk .
"Kau sama sekali tidak pantas jadi seoarng ibu dan istri untuk Arif.Lebih baik kau ceraikan saja Arif daripada dia harus melihatmu gagal menjadi seoarng ibu!"
Bu Ningsih tampak kaget mendengar sang kaka yang menyuruhnya untuk berpisah dengan suaminya,Jika kemarin-kemarin ia masih sabar menghadapi Salimar, namun kali ini ekmarahanya sudah ddi ubun-ubun.
"Atas dasar apa Mba menyuruh saya untuk berpisah dengan Mas Arif? apa karena anda kaka kandung saya? atau karena anda mencintai suami saya?"
Salimar menatap wajah Ningsih yang terlihat sangat marah dengan perkataanya.
"Kau berani menatapku seperti itu Ningsih?"
"Ya, seharusnya memang dari dulu aku bersikap tegas padamu.Bertahun-tahun kau menginjak harga diriku dengan kedudukanmu itu,aku sebenarnya tahu jika kau melakukan itu karena mencintai Arif.Kau iri kan dengan kehidupan harmonis ku dengan suami dan anakku, karena kau dan suami serta anakmu tidak merasakan bahagia seperti yang kurasakan!"
"Plakkkkk!!!"
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Bu Ningsih dan tamparan itu ia dapatkan dari saudaranya sendiri Sallimar.
"Berani-beraninya anak pungut sepertimu berbicara macam -macam padaku Ningsih, kau dan juga Kanaya memang sepantasnya di singkirkan dari muka bumi ini,Beruntung Leo sudah membawanya pergi."
__ADS_1
"APA?????"