
Bude Salimar menatap pasangan suami istri yang masih muda ini, dalam hati sebenarnya ada sedikit keraguan tentang ucapan Leo yang mengatakan jika Kanaya sempat menggodanya. Leo juga bercerita jika Kanaya sangat tersiksa hidup berama Bumi dan ingin terlepas dari pria itu.
('Mereka tampak mesra dan serasi, di tambah penampilan Kanaya yang terlihat soleha ini sepertinya tidak mungkin jika ia tidak mencintai Bumi dan minta berpisah darinya.Apa Leo mengada-ada?') batin Bude Salimar.
"Duduklah, ada banyak yang ingin Bude bicarakan denganmu dan istrimu."
"Baik Bude."Jawab Bumi.
"Oh ya, sayang kenalin ini Bude Salimar, kamu belum sempat berkenalan dengan beliau kan, karena beliau tinggal di Malang, serta bolak balik California, jadi Bude jarang berkunjung kesini."
Kanaya hendak meraih tangan Bude Salimar namun wanita paruh baya itu seperti angkuh dan tak maumenerima uluran tangan Naya.
"Sayang duduklah."
"Iya Mas."
Setelah beberapa saat kemudian,
"Jelaskan sama Bude apa yang sesungguhnya terjadi, kenapa kamu bisa melukai Leo seperti itu, bagaimanapun dia saudara sepupu yang harus kamu jaga, terlabih dia lebih muda drimu,Bumi!" Kata Bude.
"Mohon maaf Bude, selama ini Bude tahu sendiri kan bagaimana Bumi bersikap pada orang, Bumi tidak akan semena -mena atau arogan pada orang tersebut, jika ia tidak melewati batas."
"Jelaskan lebih rinci! Apa karena Leo ingin mengambil istrimu, ia menuruti kemauan Knaya yang meminta dipisahkan darimu, coba kau tanyakan pada wanita ini jika selama ini dia berpura-pura mencintaimu namun pada kenyataanya dia ingin lepas darimu,Bumi Mahesa."
'Benar-benar flying victim.' bisik Bumi dalam hati.
"Tidak Pernah, Naya tidak pernah berkata seperti itu pada Leo." sahut Naya lirih.
"Kamu mau menyangkalnya, putraku sendiri yang bilang jika kamu minta tolong padanya untuk lepas dari laki-laki ini."
Bumi memejamkan matanya, mencoba bersikap tenang dan sabar. Di hadapannya adalah orang tua yang seharusnya wajib ia hormati, jika ia melawan berarti dirinya sama saja dengan Leo bukan.
"Sepertinya banyak kesalahpahaman yang terjadi disini,Bude.Bumi mohon maaf jika telah membuat Bude marah, sebaiknya kami permisi sekarang."Bumi berdiri dan meraih lengan kanaya, hendak pergi daripada kepalanya makin pening.
"Apa ini cara Ningsih mendidik kamu Bumi, pantas saja Nesa pergi saat kalian akan menikah, ternyata memang kamu tidak bisa di harapkan."
__ADS_1
Bumi mengepalkan tanganya kua-kuat,masih mencoba menahan rasa gemuruh di dadanya yang meletup-letup. Tidak ibu tidak anak semua sama saja.
"Apa maksud Bude kalau Bumi tidak bisa di harapkan? Bude berharap apa? meninggalkan Kanaya dan menyerahkannya pada anak ingusan itu?
"Jaga bicaramu Bumi Mahesa!!! ingat kau sedang bicara dengan Bude mu, jangan karena perempuan itu kau meluapkan siapa keluarga dan tak mau menghormatinya, begitu?" ucap Bude Salimar dengan nada tinggi.
Kembali, Bumi menghembuskan napasnya panjang, sepertinya kali ini perang dingin antar dua keluarga itu akan berlangsung lama.Sebab ia sudah tidak bisa menahan lagi rasa sakit dan jengah dalam hati, di perlakukan semena mena oleh keluarga yang mempunyai kekuasaan itu.
"Sekali lagi Bude, Bumi mohon maaf jika membuat marah keluarga, satu hal yang harus Bude tahu apa yang Leo sampaikan Pada Bude sama sekali tidak benar, Kanaya adalah perempuan yag lembut dan patuh pada suami, dia juga selalu menjaga marwahnya sebagai seorang istri.Mungkin selama ini Leo kesal karena tidak mendapat kesempatan untuk berdekatan dengan Naya, hal itu Naya lakukan agar tidak timbul fitnah di kemudian hari.Hanya itu, kami mohon undur diri,Bude."
Tak ingin terlalu jauh menanggapi omongan Bude Salimar, buru-buru Bumi menarik lengan Kanaya dan mengajaknya pergi.
Di ruang tamu, bu Ningsih *******-***** jarinya, cemas dengan keadaan putra dan menantunya yang sedang di taman belakang.Begitu terlihat Bumi sedikit tergesa-gesa menyeret Kanaya, wanita paruh baya itu segera menghampiri.
"Bum, makan malam disini kan? Mama udah masak sayur lodeh kesukaan kamu lo." ucapnya.
"Maaf Mah, sebaiknya kami segera pergi dari sini, rumah ini selagi ada orang -orang toxic seperti mereka akan tidak nyaman Mah."
"Tapi Bum, dia Bude mu."
Bu Ningsih menunduk sedih, benar apa yang putranya ucapkan.Tidak sepantasnya mereka selalu menindas dirinya dan keluarga hanya karena balas budi.
"Mama harus apa, Bum?"
Mendengar suara lirih ibunya Bumi menjadi tidak tega, diraih pundak sang ibu lalu Bumi berkata," Mah, mulai sekarang Mama harus tegas. Keluarkan apa yang menurut Mama tidak suka.Jangan lagi menuruti semua omongan Bude. Mama bisa kan?"
Bu Ningsih mengangguk.
Kini ketiganya duduk si sofa ruang tamu, Kanaya dan Bumi masih beusaha menghibur Bu Ningsih yang masih bersedih.
"Mama mau Naya buatin Seblak gak?" Kata Naya, sebab ia paling tahu jika Ibu mertuanya sedang sedih, Bu Ningsih selalu memakan makanan pedas, sama seperti dirinya.
"Boleh, yuk kita bikin bareng.''
Kanaya mengangguk setuju.
__ADS_1
"Naya sama Mama ke dapur dulu ya Mas, kita pulang malam gak apa-apa kan?'' ucap Naya.
"Boleh sayang, gak apa-apa,tapi kamu nyaman kan disini?"
"Nyaman Mas, udah aghhh Mas nonton tv aja dulu,Naya ke dapur."
Kanaya memeluk pinggang Bu Ningsih dan membawanya ke dapur.
Tak ingin Bude nya menganggu, ia pun ikut menemani dua kesayangannya itu.
Di dapur, Bu Ningsih sedang ngomel-ngomel tidak jelas karena kesal dengan tontonan televisi tadi pagi yang menurutnya sangat bikin emak se-Indonesia emosi.
"Memang Mama nonton apa sih?" Tanya Naya sambil mengulek bumbu cabe, bawang putih dan kencur.
'Itu loh Nay, masa ada perempuan mantan Dj, dia kan hamil beberapa tahu lalu, terus dia koar koar di televisi kalau ia di hamili sama aktor terkenal, terus si aktor ini tes DNA dan terbukti bukan ayah biologis si bayi. Lah sekarang tu perempuan muncul lagi di media minta tes DNA ulang, mama kan jadi kesel lihatnya kaya gak punya harga diri banget jadi perempuan."jawab Bu Ningsih sambil mengiris -iris sosis dan bakso untuk campuran seblak.
''Lgaian Mama ngapain sih nonton acara kaya gitu, kaya gak ada kerjaan aja." sahut Bumi.
"Makanya, kalian usaha lagi donk bikinin Mama cucu biar Mama ada kerjaan."
Seketika raut muka Naya berubah sendu, mendengar kata cucu ia jadi teringat janin yang belum sempat dilahirkan itu pergi. Namun beberapa saat kemudian Naya kembali tersenyum lebar.
"Doain kami ya Ma, biar cepat dapat momongan." ucapnya.
"Tentu, Mama selau doain kalian.
"Tenang Mah, cucu untuk Mama lagi Otw, Kanaya sekarang pinter banget Mah manjain Bumi, semalam saja di Apartement dia minta nambah sampai 3 ronde."
"Mas jangan sembarangan ngomong." teriak Naya merona.
"Tuh Ma, menantumu pipinya merah karena malu, soalnya beneran Mah, semalam dia minta 3 ronde." sahut Bumi lagi sambil tertawa,
"Naya kasih ulekan ni ya mulutnya biar gak ngomong lagi." Seketika Kanaya menghampiri Bumi yang sedang duduk di kursi dekat meja makan dengan membawa ulekan berisi cabe.
"Eghh sayang kok beneran," Bumi dan Kanaya berlarian kecil mengitari tubuh Bu Ningsih, membuat wanita itu tertawa terpingkal-pingkal dengan kelakuan mereka.
__ADS_1