Jodoh Untuk Kanaya

Jodoh Untuk Kanaya
BAB 78


__ADS_3

"Bund...Ezza pulang."Teriak Altezza begitu turun dari motor matic milik sang Tante, jangan lupakan bingkisan ulang tahun dari sang pemilik acara, dengan bangga ia akan menunjukannya pada sang Bunda.


Anak lelaki itu langsung masuk kedalam toko kain, dimana sang Bunda akan sibuk dengan para pelanggan dan juga orderan yang ia bungkus.


"Bunda... Ezza pulang...." Teriaknya lagi, namun tak ada sahutan sama sekali dari dalam,karena penasaran sekali lagi Ezza memanggil Bunda Naya nya, sebelumnya ia telah meletakan semua barang-barang yang ia bawa di atas meja.Kemudian Ezza masuk kedalam sebuah kamar,Karena ia yakin di jam -jam segini pasti sang bunda ada di sana.


Dan benar saja, ia melihat Bunda cantiknya tengah duduk bersimpuh di atas sajadah dengan tangan dan kepala menengadah keatas.


Ezza kecil duduk di atas kursi dan menunggu sang Bunda selesai berdoa.Biasanya setelah ini ia akan mendengar suara isakan dari bundanya, entah ia belum tahu apa penyebab ibu yang sudah melahirkannya itu sering menangis dalam tiap sujudnya.


Seperti dugaan,BUnda Naya nya kembali menangis,maka dengan sigap ia berlari menghampiri sang Bunda dan memeluknya.


"Eghhh anak bunda sudah pulang, bagaimana tadi ulang tahunnya senang?" tanya nya.


"Senang Bunda, tadi seru di sana." Ezza menatap wajah Kanaya yang tengah memerah, ia kemudian menagkup kedua pipi wanita cantik itu.


''Bunda lagi kangen sama Ayah ya? sabar ya Bunda kan ada Ezza disini.Kita berdoa yuk buat Ayah , semoga dimanapun ia berada selalau dalam lindungan Allah."


Kanaya tersenyum haru, meski usianya Ezza masih sangat kecil untuk mengerti keadaanya yang sebenarnya namun anak itu selalu membuatnya bangga dengan hal-hal kecil semacam ini.


"Bunda bangga sama Ezza, jadi anak soleh ya sayang."


"Tentu Bunda."


Malam harinya,


Kanaya tengah berbaring di sebelah Ezza , menepuk-nepuk bokong pria kecil itu agar segera terlelap, besok pagi sudah mulai masuk sekolah lagi dan ia tidak ingin jika putranya terlambat untuk bangun.


"Bunda tadi di ulang tahun Kevin Ezza kenalan sama om-om ganteng, orangnya baik banget Bund."


"Oh ya, siapa namanya,ko bisa kenalan sama anak bunda?" tanya Naya.


'Ia tadi Ezza tersesat habis dari toilet, terus di tolongin sama Om Ganteng."Balas Ezza.


'Terus Ezza tahu nama om ganteng itu?"


Ezza memutar bola matanya keatas, mencoba mengingat siapa nama pria itu, namun sepertinya ia lupa.

__ADS_1


"Gak tau Bunda, lupa.Tapi dia bilang kalau Ezza ini putranya.'


"Deghhhh"


'kok bisa." Tanya Naya sedikit kaget.


"Ia kata Om ganteng bilang gitu.'


"Oh ya?Terus Om nya bilang apa lagi?


" Udah cuma itu, tapi dia beliin Ezza kue brownis coklat kismis,Bunda kue kesukaan aku."


Kanaya semakin bertanya -tanya tentang sosok seseorang yang dimaksud oleh sang putra, semoga saja apa yang dia takutkan tidak benar.


"Sekarang sudah malam,Ezza bobo ya, besok kan harus sekolah."


"Ok bunda."


Dalam waktu sekejap saja, anak kecil itu telah terlelap dalam tidurnya, Kanaya menyelimuti dan mengecup kening sang putra sebelum akhirnya dia keluar untuk melanjutkan pekerjaanya.


Keesokan harinya,


Kanaya dan Ezza telah bersiap untuk berangkat sekolah, sebelumnya mereka telah sarapan pagi dulu bersama Sora.


Sora akan langsung ke toko untuk membuka toko dan beres beres di sana, sementara Kanaya akan mengantar Ezza lebih dulu ke sekolahnya,mereka lalu berpisah ketempat tujuan masing-masing.


Sementara itu, urusan Bumi di Bandung telah selesai, rencanannya sore ini ia akan kembali ke jakarta.


Namun sebelum itu Bumi berencana untuk ke pusat perbelanjaan kain yang paling terkenal di Bandung, ia berangkat pagi-pagi sekali.


Selain untuk menghindari kemacetan di beberapa titik lampu merah yang memang durasinya sangat lama, ia juga berharap jika sore ini sudah sampai di jakarta.


Baru saja melewati dua titik lampu merah, dugaan ternyata benar,kemacetan panjang sudah ada di depannya. Bandung sekarang ini sudah seperti Jakarta, macet dimana-mana.Bumi memaklumi itu, mungkin karena hari ini jam karyawan berangkat kerja.


Senyumnya mengembang melihat beberapa pengamen jalanan yang sedang menunjukan keahlian mereka dalam bernyanyi.


Jika biasanya para pengamen akan berkeliling naik ke dalam angkot ataupun bis umum, namun di beberapa titik mereka diam di tengah-tengah lampu merah yang sepertinya sudah di sediakan untuk mereka.

__ADS_1


Penampilan mereka pun sangat rapi, semua yang sedang menunggu lampu hijau menyala akan di suguhi oleh nyanyian mereka dan pertunjukan lain, tentunya hal ini menjadi hiburan tersendiri bagi para pengendara yang kebetulan ada di sana.


Bumi menurunkan kaca jendela, ketika salah satu dari mereka menghampiri mobilnya dengan kantong kresek berisi koin-koin rupiah yang mereka kumpulkan dari para pengendara.


seorang remaja memakai kaos putih di padu rompi bahan rajut,serta topi hitam yang bertengger di kepalanya dibuat melongo saat Bumi meletakan lembaran uang berwarna merah di plastiknya.


"Ka,maaf belum ada kembalian, kami baru mulai mengamen." Ucapnya.


"Ambil saja semuanya, bagi juga sama yang lain ya.Suara kalian bagus dan saya sedikit terhibur." jawab Bumi dengan santai.Pemuda tersebut sangat senang mendengar pujian yang di lontarkan pengendara yang sangat tampan itu, ditambah uang yang baru ia terima.


"Terima kasih ka untuk pujiannya dan semoga rejeki kaka makin bertambah dan apa yang kakak harapkan segera terwujud."


"Amin.Oh ya saya mau bertanya kalau ke pusat perbelanjaan kain dari sini saya ambil lurus ,kanan atau kiri? tanya Bumi, kebetulan untuk tujuan kesana ia hanya mengandalkan Gps pada ponselnya.


"Oh kaka tinggal lurus saja, nanti ada lampu merah satu lagi, ambil kiri maju sedikit lalu belok kanan, dari sana kaka ikutin saja jalan tersebut sampai ketemu gapura Selamat datang di kota wisata kain XXX.,Dari sini lampu merah selanjutnya gak terlalu jauh kok ka, kalau misalnya kaka bingung,Kaka ikutin saja angkot yang warna kuning itu, kebetulan itu jurusan kesana."ucap pemuda itu menerangkan.


Bumi manggut-manggut tanda mengerti.


"Baiklah, terimakasih untuk bantuannya ya."


''sama -sama ka."


Bumi kembali menaikan kaca jendela mobilnya,karena lampu hijau telah menyala Bumi kembali menjalankan mobilnya mengikuti petunjuk dari pengamen yang ia temui tadi.


Benar saja, sepuluh menit kemudian, ia melihat gapura yang besar di tengah-tengah jalanan yang ia lewati, kemacetan kembali terjadi di sana, dan dengan sabar ia mengikuti laju kendaraan di depannya.


Tiba-tiba seorang pengendara motor berhenti di sebelah mobilnya, tampaknya si pengandara akan mengantar anaknya untuk pergi ke sekolah, Bumi bisa menebak karena sang anak yang memakai seragam sekolah.


Senyumnya mengembang saat melihat wajah anak itu, Ya itu adalah Ezza.ANak laki-laki yang berdiri di depan ibunya itu sangat Bumi kenali dan ia tidak akan lupa wajah yang menurutnya sangat mirip dengannya.


Ada yang menarik perhatian Bumi yaitu, seseorang yang membawa Ezza, itu bukanlah wanita yang datang bersama Ezza kemarin.


"Siapa wanita itu? apakah dia yang di panggil Bunda Nay?" bisiknya lirih.


Bumi tidak bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas karena selain memakai hijab, wanita itu juga memakai masker serta helm tertutup.


Tanpa sadar, Bumi mengikuti kemana arah motor itu pergi, entah ia hanya merasa ingin mengikutinya saja.Ada sesuatu yang menariknya dan Bumi tidak tahu apa.

__ADS_1


__ADS_2