
Nesa kembali ke Apartemennya dengan perasaan marah dan benci, marah pada Bumi yang membela dan melindungi Kanaya, benci pada dirinya sendiri yang dengan bodohnya mau saja di manfaatkan lelaki brengsek seperti Nando.
Tak mau kesepian sendirian, Nesa segera menghubungi sepupunya Dimas untuk menemaninya.
Terdengar bunyi nada sambung di ponselnya, namun Dimas tak kunjung mengangkatnya, kemana kira-kira pria itu,mungkin ini yang ada dalam benak Nesa saat ini.
'kenapa tidak di angkat sama sekali, apa dia udah gak peduli lagi sama aku?' ucap Nesa dalam hati.
"Dimas kemana sich? gak bisa dihubungi. Aku gak bisa diam diri terus kaya gini, perutku makin lama makin gede, dan aku sudah tidak mungkin bisa mendapatkan Bumi lagi dengan kondsiku yang sekarang.Apa aku harus gugurin aja kandungan ini?" bisik Nesa kembali.
Nesa juga tidak bisa minta tolong pada orang tuanya karena mereka sedang menghukum Nesa atas ulah cerobohnya membuat malu keluarga saat ia kabur dengan Nando.Oleh karena itu saat ia pulang keIndonesia Nesa di usir oleh Papanya sendiri.
Kini yang jadi tumpuan harapan hanyalah Dimas, sepupunya yang sangat baik itu.
Di sisi lain.
Setelah peristiwa tadi pagi, Kanaya memutuskan mengurung diri di kamar, bahkan bujukan Bu Ningsih dengan iming-iming Seblak yang lagi viralpun tak mampu meluluhkan perempuan itu.Ia masih butuh sendiri.Kata -kata Nesa tentang dirinya yang merebut Bumi dan sebutan anak sialan pada kandungannya sungguh sangat mempengaruhi emosinya saat ini.
"Nay.. keluar yuk,kita makan dulu.Kamu belum makan lo dari tadi pagi." kata Bu Ningsih dari balik pintu. Ia hanya melihat sang menantu pulang dalam keadaan muram tanpa tahu apa yang terjadi.
Bumi terlihat cape, dari tadi pun ia sudah berusaha membujuk istri kecilnya itu.Waktu sudah menunjukan setengah satu siang dan belum satu butir nasipun yang masuk ke perut sang istri.
"Mama masih nyimpen kunci cadangan kan untuk kamar Bumi? kita buka pake itu saja." ucap Bumi akhirnya.
"Oh iya, kenapa Mama gak kepikiran soal itu ya,Emang Naya kenapa sih, Bum?Sebentar Mama ke bawah dulu untuk cari."
Setelah mengatakan itu Bu Ningsih segera turun ke lantai satu, membuka laci demi laci di ruang tamu, berharap mendapatkan benda
yang ia cari.
Senyumnya mengembang kala benda itu tampak terlihat di dalam laci paling atas. Ia segera mengambilnya dan mengantarnya pada Bumi.
"Nak.. ini ketemu." sahut Bu ningsih.
__ADS_1
Bumi lega dan langsung menerima benda itu, ia mulai mencoba beberapa kunci cadangan yang diikat jadi satu oleh Bu Ningsih dan percobaan kunci keempat akhirnya pintu kamar terbuka juga.
Ia melihat tubuh sang istri yang meringkuk di atas tempat tidur, Bumi segera menghampirinya. Hatinya begitu sedih melihat wajah Naya yang begitu pucat dan satu lagi..
"Nay... bangun sayang." ucap Bumi sambil menepuk pelan pipi Naya yang masih terlihat basah oleh air mata. Sebegitu dahsayatnyakah ucapan Nesa hingga Kanaya sampai terguncang seperti itu?
"Sayang, jangan bikin Mas mu kawatir, ayo bangun kita makan ya, kasihan baby."lanjutnya, namun Naya tak juga membuka matanya. Bumi makin panik. di rabanya tangan Kanya yang begitu dingin.
'Nay.. bangun jangan bikin aku khawatir. Ayo Nay..." Terak Bumi.
Bu Ningsih yang melihatpun tak kalah panik.
"Bum cepat gendong istrimu kita bawa ke rumah sakit!"
Seketika Bumi langsung menggendong tubuh kecil itu dan langsung berjalan cepat menuruni tangga, ia sedikit mengumpat karena harus melalui itu.
Beruntung Pak Asep sedang ada di halaman, saat melihat Bumi berjalan tergopoh-gopoh dengan istrinya yang dalam gendongan, Pak Asep langsung membukakan pintu mobil, ia langsung bergerak duduk di kursi depan.
"Pak langsung ke rumah sakit ya, yang terdekat saja.!" perintah Bu ningsih.
"Mah ini apa?" tanya Bumi mengangkat tanganya yang terkena noda darah.
Bu ningsih memperhatikan itu kemudian memeriksa bagian belakang Naya. tubuhnya seketika menegang dan sedikit pucat.
"Ya Allah, selamatkan mereka." ucapnya lirih.
"Kenapa Mah?" tanya Bumi masih penasaran, sebab sang ibu belum memberikan jawaban apa-apa atas pertanyaannya tadi.
"ini darah dari jalan lahir, Bum. semoga saja mereka baik-baik saja."jawab Bu Ningsih.
':Pak Asep lebih cepat sedikit ya!" perinta Bumi kali ini.
Pak Asep supir pilihan pak Arif untuk mengantar kemanapun Bu ningsih bepergian langsung menambah kecepatan mobilnya, apalagi setelah mendengar tuan mudanya yang menangisi sang istri. Sejujurnya ia sedikit panik, namun demi keselamatan para penumpang, Asep berusaha fokus pada kendali mobilnya.
__ADS_1
Hanya lima belas menit akhirnya mobil yang dikendarai pak Asep berhenti di depan ruang UGD. Bumi langsung turun dan memanggil beberapa tim medis untuk membantunya mengangkat Kanaya.
Secepat kilat para perawat langsung mendorong berangkar dan memindahkan Kanaya dari dalam mobil, Mereka semua langsung bergerak membawa ibu hamil itu ke ruang tindakan.Bumi tak lepas menggemgam tangan sang istri sambil terus berkata-kata."Sayang terus bertahan ya... jangan bikin aku cemas."
Detik-demi detik terus berlalu, Bumi dan Bu NIngsih masih menunggu di depan ruang UGD, beberapa perawat tampak keluar masuk silih berganti namun tak ada satupun yang bisa Bumi tanyai mengenai kondisi sang istri.
sampai beberapa menit kemudian, seorang dokter wanita keluar, Bumi tahu itu dokter yang menangani istrinya, maka ia langsung menghampiri sang dokter.
"Bagaimana istri saya,dok?" tanya Bumi dengan cemas.
Dokter itu memperhatikan Bumi dari ujung kaki sampai ujung kepala."Anda suami dari Ibu Kananya?"
Bumi mengangguk," Betul dok, bagaimana istri saya sekarang?"
Dokter yang di ketahui bernama Inara itu diam sejenak, lalu menepuk bahu Bumi dengan pelan.
"Kami mohon maaf tidak bisa menyelamatkannya."
bagai suara metir yang menggelegar, meruntuhkan dunia Bumi seketika.Harapnnya dan dan bahagianya hilang sudah, bu Ningsih yang sedari tadi mendampingi Bumi pun tak kalah kaget,ia sampai menitikan air matanya.
"Maksud dokter apa? saya tidak mengerti." ucap Bumi dengan sisa tenaganya.
"Ibu Naya kondisinya baik-baik saja, hanya saja kandungan Bu Naya sangat lemah, hingga ia tak mampu bertahan.Kami mohon maaf." jawab dokter Hendra lagi.
Bumi menjatuhkan dirinya ke lantai, ia sudah tidak bisa menahan lagi air matanya, janinnya yang baru berusia tiga bulan, impianya dan Kanaya harus berakhir dengan cara seperti ini.Apa yang akan ia katakan pada istrinya nanti.
"Apa tidak ada cara lain, dok? untuk menyelamatkan bayi saya?" tanya Bumi lagi masih dengan suara yang gemetar.
Bu Ningsih menepuk pundak Bumi mencoba menenangkan putranya.
"Kami mohon maaf Pak Bumi, sepertinya Bu Naya mengalami goncangan hebat, emosinya selama hamil juga sangat berpengaruh. Apa anda tahu apa saja yang di lakukan Ibu selama kehamilannya?"
Bu Ningsih menyuruh Bumi untuk berdiri karena posisinya yang masih terduduk dengan lemas di atas lantai,"Bangun Bum, kamu harus kuat untuk Naya!"
__ADS_1
"Aku suami dan ayah yang tak berguna Mah, tidak mampu melindungi anakku.Bahkan dalam saat nyawanya dalam bahayapun aku tidak ada."
"Apa maksud kamu?"