
Sesuai janjinya tadi pada sang istri, Bumi mengajak Kanaya ke kantornya, karena memang ada berkas yang benar-benar urgent dan ia akan mengerjakannya sekalian di sana, ia juga sudah meminta Ana untuk datang sebentar.
"Kamu duduk dulu ya sayang dsini, Mas kerja dulu sebentar selepas itu kita pergi Ok." ucap Bumi yang terus mengecup kening Kanaya, setelah itu ia duduk di tempat kerjanya.
Kanaya memperhatikan sang suami yang tengah serius dengan alat tulis dan kertas di atas meja, suaminya benar-benar berbeda dari biasnya. JIka di rumah ia akan menjadi pria yang sangat bucin, beda halnya saat di kantor, Kanaya melihat suaminya yang begitu tegas dan gagah.
"Liatin Mas, terus terpesona ya sayang?" tanya BUmi yang memang menyadari jika istrinya tengah memandanginya terus.
"Ighhh Geer.Siapa yang lagi liatin Mas, Gak ya." elak Naya, namun pipinya sudah merah bagai tomat.
"Wajah kamu gak bisa bohong lho Nay sini.." BUmi melambaikan tangan agar sang istri mendekat padanya.
Perlahan Kanaya menuruti permintaan umi, ia mengulurkan tangan dan langsung di raih oleh Bumi.
"Duduk sini sayang." kata Bumi sambil menepuk-nepuk pahanya.
" Jangan Mas, Naya berat lo."
tolak gadis itu.
"Berat apanya sich sayang, badan mungil gitu.Sini Ayah mau nyapa dedek dulu." pinta Bumi.
__ADS_1
Kanaya menuruti apa yang suaminya mau, ia duduk di pangkuan sang suami yang sedang bekerja itu,tangannya juga melingkar ke leher Bumi.
" Susah gak Mas kerjanya, kalau susah Naya turun aja deh, biar cepet selesai." ucap Naya yang memang merasa sangat risih apalagi posisi mereka yang sangat dekat, Kanaya bahkan bisa merasakan deru napas Bumi yang tidak beraturan.
"Biarin kaya gini,Nay.Mas gak kesusahan kok."
Kanaya hanya bisa membuang napasnya, memang Bumi itu sangat keras kepala, jika ia meminta Naya untuk duduk maka ia harus menuruti.
Di sisi lain Ana sedang dalam perjalanan menuju kantornya, saat Bumi tadi mengirim pesan agar ia menyempatkan untuk datang, akhirnya ia menuruti perintah sang atasan. Di perjalanan ia menyempatkan untuk membeli makanan.
Dengan riang Ana mengetuk pintu ruangan Bumi, setelah terdengar suara sang atasan
Wajahnya seketika berubah masam saat melihat ada sosok wanita dengan perut sedikit menyembul tengah duduk di pangkuan Bumi.
"Hai An, kamu sudah datang, maaf ya ganggu waktu libur kamu.' Ucap Bumi sambil memeriksa berkas terakhir sebelum memberikannya pada sang sekretaris.
"Ia pak, tidak apa-apa ,lagipula saya tidak ada kegiatan hari libur ini,Makanya saat Bapak chat tadi saya langsung kemari." jawab Ana, namun tatapannya justru tertuju pada wanita yang tengah tertidur dalam pangkuan Bumi.
Ana sungguh sangat iri melihatnya sudah sangat lama ia memiliki perasaan pada Bumi Mahesa, namun ia tak berani mengatakan karena ia tahu jika Bumi sudah menikah.
(' Kenapa Pak Bumi harus menikah sama gadis ingusan ini,apa coba kelebihannya? pakaiannya biasa saja dan terlihat kampungan.') bisik Ana dalam hati.
__ADS_1
Bumi melihat Ana yang sedang berdiri, pnampilannya jauh lebih glamour dari biasanya.
Dress yang dia kenakan begitu pendek dan ketat, Bahkan Bumi bisa melihat paha Ana yang putih.
"Kamu pasti ada acara ya An? mau ke pesta?" tanya Bumi.
"Enggak Pa, kan tadi saya sudah bilang saya tidak ada acara apa-apa.
"Penampilanmu terlihat berbeda An, saya kira mau ke pesta. Terus itu apa yang kamu bawa?" tanya Bumi lagi saat melihat paperbag berlogokan toko makanan terkenal.
"Oh.. Ini tadi saya mampir beli ini untuk Bapak, silakan cicipi Pak pasti ketagihan lo." Jawab Ana lagi yang langsung menyimpan paper bag makanan itu di atas meja.
"Terimakasih ya, istri saya pasti suka, dia memang lagi pengen makana itu."
('Apaan sih, orang aku ngasih buat Bumi, malah mau buat istrinya.Gak rela sumpah.') bisik Ana lagi.
Kanaya tiba-tiba bangun dan melihat Ana yang tengah memandang suaminya .Naya merasa ada sinyal-sinyal bahaya untuknya.Buru-buu ia mempererat pelukannya pada sang suami dan itu makin membuat Ana kepanasan di buatnya.
Visual Kanaya
__ADS_1