Jodoh Untuk Kanaya

Jodoh Untuk Kanaya
Bab 89 selamat datang kembali, sayang


__ADS_3

Dimas mengerutkan dahi amat terkejut melihat Zora sedang bermain dengan seorang anak laki-laki,Dalam hati ia bertanya apakah anak laki-laki tersebut keponakannya atau justru anaknya?


Setahu Dimas,Zora belum pernah menikah dan selama menjadi mahasiswanya Ia juga tidak terlihat dekat dengan lelaki manapun, jadi mana mungkin kan kalau anak laki-laki yang sedang bermain dengan Zora adalah anaknya bukan?


Lagi-lagi itu menggelengkan kepala memikirkan dugaan yang tidak penting untuk ia pikirkan.


Setelah itu Dimas memutuskan untuk keluar mall dan kembali ke rumah .


Setelah puas bermain dan menikmati es krim, Zora dan Eza kembali pulang ke toko, tak lupa mereka juga membawakan oleh-oleh untuk Kanaya juga Nurul yang masih di tempat yang sama.


Zora melihat Kanaya yang masih sibuk dengan pembukuan,mencatat semua barang dan harga barangkali Nurul atau Zora lupa. Perempuan itu rupanya sudah menyiapkan berbagai hal saat dirinya nanti pergi. Agar Zora maupun Nurul tidak kebingungan lagi.


" Nay semuanya udah selesai?" Tanya Zora yang kemudian mendekati Naya dan duduk di sebelahnya.


" Sudah, untuk semua barang-barang catatannya udah ada dalam satu buku in,i aku juga udah menyimpan filenya di laptop nanti kalau kamu kesulitan atau ada yang mau ditanyain Tinggal buka aja." Jawab Naya.


" Terus untuk bahan-bahan topi sama kain yang mau datang besok gimana Nay?''


" Untuk topi tinggal di rumah Ceu edoh,Ce Nining sama Ceu Upun , mereka pengen dibayarnya Nanti aja pas barangnya udah jadi, padahal aku udah nawarin loh buat bayar di muka tapi mereka nggak mau. Jadi nanti kamu tinggal ambil aja kayaknya dua harian lagi juga beres."


" Oh ya sudah berarti udah beres semua ya. Terus rencana kamu gimana mau nunggu Bumi jemput atau kamu mau duluan ke sana?" Tanya Zora lagi.


" Nggak tahu nih bingung melihat Eza Murung terus Aku jadi khawatir Baiknya gimana ya Zo?"


" Ya udah sih Kalian berangkat duluan aja kasih kejutan buat suamimu di Jakarta barangkali dia senang, memang Kasihan juga Eza tadi aja waktu main di mall dia Kurang semangat gitu tetap aja ingat sama Ayahnya."


" Jadi gimana ini Jo Kami pulang duluan ke Jakarta atau nunggu suamiku datang?" tanya Naya lagi dengan bingung.


" Udah besok pulang aja kalian ke Jakarta aku anterin deh, daripada pusing-pusing. Aku juga tahu kamu tuh udah kangen berat sama Bumi."


" kamu tuh bisa aja ya udah deh aku mau balik kemas-kemas dulu di rumah."


" Nah gitu dong."


Malam hari selepas salat Isya Kanaya benar-benar mengemasi barang-barangnya dan juga barang-barang Eza untuk dibawa ke Jakarta, sementara ini mereka hanya membawa sedikit biar Yang lainnya menyusul aja.


Eza benar-benar sangat senang mendengar besok ia dan sang Bunda akan menyusul ayahnya. Eza sudah tidak sabar ingin melihat kota Jakarta terlebih ia ingin bertemu dengan kakek dan neneknya juga.


Pukul Sembilan malam saat Kanaya selesai mengemasi bajunya tiba-tiba bumi menghubunginya.


[" Halo sayang assalamualaikum." ]Sapa bumi dari ujung telepon.

__ADS_1


" Waalaikumsalam Mas udah pulang?" tanya Naya.


[" Belum ini masih di kantor baru beres meeting.


Kamu lagi apa yang, udah makan belum?"]


"Baru beresin baju Udah tadi jam delapan malam, Mas Bumi sendiri gimana?"


[" Belum Yang masakan hari ini lagi nggak enak nggak tahu kenapa tiba-tiba aja Mas lagi kangen sama masakan kamu."]


" Masa sih, nggak boleh gitu loh Mas kalau udah waktunya makan ya Makan."


[ Iya tadi juga makan kok cuman Nggak selera aja."]


" Terus gimana?"


[" Ya mungkin nanti pulangnya mampir dulu ke warung angkringan Beli bebek goreng Pak Slamet masih ingat nggak yang?"]


[" Bebek Goreng Pak Slamet yang di PRJ itu mas?"]


" iya kamu masih ingat kan?'


[" Masih lah Makanya Mas mau ke sana."]


" Ih jahat padahal Naya juga mau."


[" Makanya cepet balik ke sini biar kita bisa jajan."Ujar Bumi.]


" Siap-siap Naya habisin uangnya ya Mas buat jajan."


["Siap. Ya udah Mas pulang dulu ya, kamu cepet istirahat, besok kalau mau ambil barang di rumah warga jangan berat-berat ya sayang, Mas gak tega lihatnya."] Ucap Bumi lagi memperingatkan Kanaya.


Ia masih ingat betul saat Kanaya membawa beban di belakang motornya, dan membonceng Eza di depan,sungguh membuat miris pria itu.


"Gak Mas, semuanya udah di handle Zora sama Nurul."


["Syukurlah kalau begitu, Mas pamit ya sayang, assalamualaikum."]


''Waalaikum salam."


Setelah menutup panggilannya, Kanaya segera menghubungi travel untuk menjemput Ia dan Eza besok pagi.Sengaja Kanaya memilih travel biar lebih nyaman di kendaraan, tidak berdesak-desakan dan juga ia dan Eza tidak perlu antri dan saling berebut tempat duduk di bus.

__ADS_1


***


Pagipun menjelang, pukul delapan, Kanaya Eza dan juga Zora telah berada di travel,perkiraan satu jam lagi mereka telah sampai di jakarta.


Kanaya maupun Eza sudah sangat tidak sabar ingin segera sampai ke rumah Bumi. Zora yang duduk di belakang supir melihat Kanaya dan Eza bergantian dalam hati ia berdoa agar Kanaya dan keluarga selalu di lindungi Allah SWT, dan tak ada lagi orang yang berniat jahat pada mereka.


Sampainya di jakarta, Eza sedikit kesal karena mobil travel yang ia naiki sudah terhadang macet yang lumayan panjang, sungguh membuatnya sangat bosan dan sedikit mual.


"Bun... Masih lama ya sampai ke rumah Ayah? " Eza mual ni. "


"Sebentar lagi sayang, kita tinggal lurus sedikit nanti belok kanan, udah sampai. Eza mau sabar kan nunggu. "


Anak laki-laki itu hanya mengangguk. Kemudian minta air mineral pada sang bunda, untuk membasahi tenggorokannya yang sedikit kering.


Setelah itu Eza merebahkan kepalanya di pangkuan sang Bunda. Dan mencoba memejamkan mata.


Dua jam kemudian, travel yang membawa Kanaya dan Eza serta Zora sudah sampai di depan gerbang rumah megah milik Bu Ningsih. Begitu Kanaya menginjakkan kaki di depan rumah itu, ia kembali terbayang saat-saat manis bersama sang suami dan juga keluarganya


Seorang satpam komplek yang kebetulan lewat menghampiri Kanaya dan ia langsung kaget begitu sadar bahwa wanita yang berdiri menatap bangunan besar itu adalah Kanaya, menantu pemilik bangunan itu.


"Masya Allah neng Naya, Bapa kira siapa? Apa kabar neng? " Tanya pak Adi satpam komplek tersebut.


Kanaya menoleh kearah sumber suara dan menatap pak Adi yang tidak berubah sama sekali meski sudah empat tahun berlalu.


"Eghhh Pak Adi, apa kabar pak? Alhamdulillah saya baik."


"Saya baik neng alhamdulillah, kenapa ga masuk? Bapak sama ibu ada ko di dalam, kebetulan satu jam yang lalu saya baru saja nge betulin keran air yang tersumbat. " Sahut pak Adi lagi.


" Oh ia Pak., ini mau masuk. Kebetulan saya baru saja sampai."jawab Kanaya.


"Mari saya bantu bawakan barangnya neng. '"


"Terima kasih pak. "


Dengan langkah pelan dan hati yang berdebar Kanaya mulai memasuki gerbang dengan Eza yang tertidur dalam gendonganya, Zora dan pak Adi mengikuti di belakang nya membawa koper serta oleh oleh khas Bandung untuk keluarganya.


Ada sedikit keraguan untuk mengetuk pintu rumah itu, Kanaya takut kedua mertuanya sudah tak mau menerima kepulangannya.


Sampai terdengar suara pintu yang di buka dari dalam, Kanaya berdiri dengan kaki melihat orang yang kini muncul di hadapannya.


"selamat datang kembali, sayang. "

__ADS_1


__ADS_2