
Kanaya hanya duduk sambil memandangi sang suami yang sedang mengemas baju-baju mereka dalam sebuah koper, ia tidak berani untuk berkata apapun ataupun mencegah Bumi mengurungkan niatnya.Saat ini suaminya sedang dalam mode marah dan tidak ingin dibantah.
Setelah selesai dengan semua, Bumi tampak sedang menghubungi seseorang, Kanaya tidak bisa mendengar apa yang Bumi bicarakan dengan orang itu karena pria itu berada di balkon kamar.Ia hanya bisa menghela napasnya, semua pertengkaran ini berasal darinya.Leo mengkritik cara dirinya berpakaian padahal menurut dia sendiri pakaiannya masih dibatas wajar.
"Nay, udah siap kan? Yuk kita pergi sekarang!" ajak Bumi.
Kanaya diam sejenak, sebelum akhirnya dia bertanya."Mas yakin mau pergi dari rumah ini?"
"Sangat yakin sayang, Leo akan semakin menjadi jika kita terus di rumah ini. Mas mungkin kekanak-kanakan tapi ini tidak baik untuk hubungan kita dan orang tua kita nantinya. Harusnya setelah menikah dulu kita memang lebih baik tinggal di rumah sendiri." ucap Bumi.
"Tapi Mas, ini bukan gara-gara Naya kan kita pergi? Naya takut Papa dan Mama menilai buruk tentang Naya." ucap perempuan itu khawatir.
Bukan sayang, kamu gak salah apa-apa. Yuk sekarang kita keluar pamitan sama Papa dan Mama." Ajak Bumi lagi dan Kanaya mengangguk.
Di ruang tamu Pak Arif dan Bu Ningsih tampak terlihat murung, Leo juga ada disana, namun di sofa yang berbeda.Luka di sudut bibirnya telah di bersihkan dan di obati oleh teman-temannya sebelum mereka pergi.
Bumi yang menggandeng tangan Kanaya dan sebelahnya lagi menyeret koper besar berisi baju, Menghampiri kedua orang tua mereka.
"Papah dan Mama , Bumi dan istri pamit pergi.Jangan berfikiran jika kami marah sama Papa dan Mama. Kami hanya ingin menjalani rumah tangga ini tanpa ada campur tangan siapapun apalagi mengkritik caraku berprilaku terhadap istriku atau cara berpakaian istriku."
Bu Ningsih tampak berkaca-kaca rasanya tidak rela jika putra satu-satunya itu pergi dari rumah mereka, teringat saat Bumi di tinggal Nesa saat pernikahanya dan ia yang tiba-tiba serangan jantung.Demi kenyamanan mereka, Pak Arif memutuskan pindah ke rumah baru.Kini Putranya memutuskan untuk pergi, Ibu mana yang tidak akan terluka.
"Bum, apa tidak bisa di pikirkan lagi nak?" tanya Bu Ningsih lirih.
"Mah, Naya dan Bumi hanya pindah rumah. Kita tidak kemana-mana , jika kami rindu kami akan berkunjung dan jika Mama dan papa rindu, kalian pun bisa berkunjung." Ucap Bumi sambil memeluk wanita paruh baya itu.
"Bumi benar Ma, biarkan mereka mandiri dengan caranya, lagipula di rumah ini tidak ada ketenangan dan privasi ituk mereka. Pergilah nak, Papa dan Mama merestui." Sahut Pak Arif yang berkata dengan bijak.
"Terima kasih Pa." Bumi beralih memeluk sang Papa.
"Mah, Maafin Kanaya sudah membuat keluarga ini menjadi berantakan. Sungguh Kanaya pun tidak ingin semua terjadi."
"Tidak sayang, kamu gak salah. Kami yang bersalah karena tidak tegas." Bu Ningsih mengusap rambut panjang Kanaya perempuan yang ia rawat dari kecil.
"Tetap kami anak-anak Mah yang bersalah. Tolong tetap doakan kami ya."
"Tentu Nay, mama selalu doain kamu dan suamimu, semoga kalian selalu rukun.Mama dan Papa mengizinkan kalian pergi."
__ADS_1
"Terimakasih Mah."
Setelah saling berpelukan dan mencium tangan kedua orang tua mereka, Bumi dan Kanaya akhirnya benar-benar meninggalkan rumah besar itu, pergi ke apartemen Devan untuk sementara.
Sementara itu di kamarnya,
Leo mengumpat pada poto yang tergeletak di meja rias di mana itu adalah poto Bumi Mahesa erlangga yang tak lain adalah sepupunya sendiri.
"Sialan, aku kurang hati-hati menyusun rencanaku ini, gara-gara kebodohan teman-temanku hingga Bumi mengetahui segala rencana yang ku buat. Sekarang untuk bisa mendekati Kanaya akan lebih sulit karena mereka sudah tidak tinggal di sini." bisik Leo.
"Mba, tenang saja aku akan menjauhkan Kanaya dari Bumi dan membiarkan pria itu kembali padamu. Seperti janjiku." Bisiknya lagi.
**
Mobil yang di kendarai Bumi dan Naya sudah berada di parkiran besment apartement milik Devan, melihat Kanaya yang diam saja membuat Bumi sedikit khawatir dengan istrinya itu.
"Sayang, ayo!" ajaknya.
Kanaya hanya bisa tersenyum datar,apalagi saat keduanya telah sampai di depan unit milik Devan itu.
Meski peristiwa itu sudah berlalu, namun apabila di ingat terasa membuka luka lama, teringat kembali saat Bumi acuh dan tak peduli padanya.
"Sayang kok diam, sini masuk." Ajak Bumi ketika mereka telah sampai di kamar itu.
"Mas.. aku..."
"Kenapa? Kamu gak betah disini? kita hanya sementara kok, besok Mas akan cari rumah yang nyaman untuk kita tempati. Kamu gak apa-apa kan?"
"Gak apa-apa Mas.
pelan-pelan Kanaya mulai melangkah mendekati ranjang yang dimana pernah menjadi saksi dirinya bersatu dengan Bumi.
"Kamu tunggu disini ya, Mas ke dapur dulu."
Sepeninggal Bumi, Kanya berdiri di depan jendela besar yang menghadap pemandangan kota Jakarta dari ketinggian.Ia teringat dengan ibu dan ayah mertua yang sudah seperti orang tua sendiri.Berharap mereka baik-baik saja sekarang.
Tiba-tiba sepasang tangan kekar melingkar di pinggang rampingnya,membuat Kanaya sedikit terperanjat, namun beberapa detik kemudian ia mulai tenang saat ia mengenali harum parfum yang tercium.
__ADS_1
"Mas bikin kaget." Ucap Naya.
"Kenapa? kamu gugup sayang."
"Ti-dak."
Bumi hanya tersenyum simpul merasakan kegugupan istri mungilnya itu, ia merasakannya sejak tadi hanya saja ia berpura-pura tidak tahu.
"Mas tahu apa yang sedang kamu rasain, gugup kan?"
"Mas sok tahu."
Bumi terkekeh, " Yakin gak gugup, aku aja gugup lo sayang, kamar ini tempat pertama kali Mas..."
Kanya menutup mulut Bumi dengan tangannya berharap pria itu tak lagi melanjutkan kata-katanya.
"Jangan dikatakan Mas, Naya malu."
"Naya keinget Mama, dia akan baik-baik saja kan di rumah?" lanjut Naya.
"Mama akan baik-baik saja Nay, besok pagi kita video call ya, sekarang kita bobo. udah sangat larut ni, atau kita mau..."Bumi menyeringai licik dan detik itu juga dia langsung membopong Kanaya seperti karung beras dan melemparnya ke kasur.
****
Karena peristiwa dan hasutan dari Leo, kemarin hari ini dengan menggunakan pesawat pagi Ibu Salimar atau tepatnya Bude Salimar datang ke tempat Bu Ningsih, kebetulan Leo dan Pak Arif sudah pergi, dan di rumah hanya ada Bu Ningsih dan beberapa asisten rumah tangga saja.
Bu Ningsih tampak tidak berucap apa-apa saat Bu Salimar yang ternyata adalah Kakaknya sendiri tengah berbicara dengan lantang padanya.
"Mba gak tahu apa jalan pikiran Bumi hingga dengan berani melukai Leo sampai seperti itu,Ning.Ingat dia putraku dan aku menitipkan pada kalian juga karena keinginan Leo."
"Maaf Mba ini benar-benar di luar dugaan kami, mereka hanya salah paham."
"Salah paham gimana sih Ning, jelas-jelas Leo bilang bahwa istrinya Bumi itu banyak nge rayu dia,di kampusnya juga jadi wanita gampangan malah kamu belain. suruh Bumi ceraikan wanita itu. Mba udah siapkan calon yang lebih baik untuknya!"
Bu Ningsih mendongakkan kepalanya, ada rasa nyeri di hati kala sang kaka menilai satu peristiwa hanya dari satu sisi dan ia langsung berprasangka tanpa mendengar pihak satunya lagi.
"Mba Salimar salah paham."
__ADS_1