
Pak Arif jongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Eza, dipandanginya anak lelaki itu lekat-lekat, sungguh mengingatkan ia pada Sang putra yaitu Bumi Mahesa.
" kamu sangat mirip sekali nak sama ayahmu?." Ucap pak Arif sambil mengusap pipi sang cucu.
" Benarkah kakek aku mirip ayah?" tanya Eza.
" benar ayahmu sangat mirip sekali sama kamu gantengnya juga. Ngomong-ngomong Eza lapar Tidak soalnya semenjak sampai dari Bandung tadi Eza belum makan dan minum loh?"
" Lapar kakek sama haus juga, Bunda mana kek?" Tanya Eza mencari ke kanan dan kiri sang Bunda.
" Bunda ada di dapur sama nenek Sayang, yuk kita susul." Pak Arif mengangkat dan menggendongnya kemudian ia membawa anak lelaki itu ke dapur menyusul istri dan menantunya.
Mereka sedang membuat seblak makanan favorit Kanaya,saat mereka tinggal di sana dulu.
" Eh.. anak bunda udah bangun?" ucap Kanaya begitu melihat Eza dalam gendongan pak Arif, mereka kini duduk di kursi kosong, di atas meja telah banyak makanan yang telah di masak oleh Kanaya, Bu ningsih juga Zora, tiga perempuan itu ternyata dari tadi sangat asik masak sambil bercerita sampai mengabaikan Eza yang tengah tidur.
" Bunda Eza laper."Ucapnya sambil mengusap usap perutnya.
" Eh cucu Nenek laper ya Bentar ya nenek ambilkan nasinya "sahut Bu Ningsih, yang langsung mendekati Eza begitu Pak ARif datang tadi.
" ini Neneknya Esa Bun?" tanyanya dengan polos.
"' Iya sayang ini neneknya Eza, maaf ya kita baru ketemu hari ini," ucap Bu Ningsih dengan haru. Iya tak kuasa untuk tidak memeluk cucunya itu. Tak percaya jika saat ini Bumi telah menjadi seorang ayah dan Sang putra yang memiliki wajah serta paras mirip dengan cucunya, bu Ningsih dan Pak Arif tidak akan ragu bahwa Alteza atau akrab dipanggil Eza adalah anak dari Bumi.
" Tidak apa-apa nek, Eza mengerti kan kemarin Kakek sedang sakit jadi belum sempat jenguk istri sama bunda di Bandung."
" Tapi Eza selama di sana nggak nakal kan?"
Eza menggeleng," Enggak dong Nek, kasihan Bunda kalau eza nakal."
"Bagus itu cucu kakek,pinter.Ya udah yuk kita makan sekarang, kalian pasti lapar."
Bu Ningsih segera menyuruh semua yang ada di sana untuk makan.
Selesai makan mereka semua kembali berkumpul di ruang tamu.Pak Arif dan Bu Ningsih sejak tadi mengawasi Eza naik mobil-mobilan yang baru saja di beli Bumi kemarin.
Eza sangat suka dengan mainan anak itu karena saat di Bandung ia belum pernah mendapatkannya.
Zora menatap haru melihat keponakanya yang sangat bahagia, ia tenang dan lega karena keluarga Bumi sangat menyayangi kanaya dan juga Eza.
__ADS_1
"Nay,besok aku pamit pulang ke bandung ya, kasihan Nurul sendirian di sana." Ucap Zora.
keduanya sedang duduk di belakang rumah dekat dengan kolam renang.
"Yah... harus secepat itu ya zo? aku agak cemas ni kamu sendirian disana.' ucap kanaya terlihat sedih, selama 4 tahun ini mereka terus bersama, apalagi Semenjak itu orang tua Zora meninggal,Kanaya adalah orang yang paling dekat dengan Zora.
"Siapa bilang aku sendirian Nay, kan ada Nurul juga. AKu akan sering telepon kamu kok." ucap Zora. Dalam hati sebenarnya ia juga mengakui itu, pasti akan sangat kesepian.
"Kamu tenang saja Nay, nanti kalau ada waktu luang aku juga baka sering jenguk kamu kok."
Kanaya hanya bisa menghela napasnya, pasrah. perpisahan seperti ini memang lambat laun pasti terjadi, dan mungkin ini saatnya.
"Janji sama aku ya Zo, kamu akan baik-baik saja.Cepat cari pendamping biar kamu gak kesepian lagi!"
Zora terkekeh pelan, bicara soal saat pendamping pikirannya jauh menerawang ke masa lalu.Dimana saat ia masih kuliah. Ada seorang laki-laki yang selalu mencuri perhatiannya namun sampai detik ini ia tidak bisa mengungkapkan perasaan itu. Karena Zora tahu kalau sang lelaki tidak tertarik padanya.
**
Setelah shalat magrib Bumi dan Doni segera bersiap-siap untuk bertemu Bu Lita di restoran yang telah wanita itu Tentukan. Begitu ia masuk ke dalam restoran terlihat Bu Lita sudah menunggu.
" Selamat malam Bu Lita apa anda sudah menunggu lama?" sapa Bumi begitu mereka sudah di deka Bu Lita.
Doni menatap Client bosnya itu dari ujung kaki hingga ujung kepala,wanita berumur namun penampilannya sangat glamour.
"Terimakasih."
" Mau minum apa Pak Bumi,Saya pesankan." ucap Bu Lita lagi.
Bumi sebenarnya sangat risih berada di sana, apalagi tatapan Bu Lita yang terlihat sangat tertarik dengannya itu, bukannya dia kepedean ,tapi Doni pun merasakan hal yang sama.
" Tidak usah Bu Lita lagi pula Kami tidak akan lama.Apakah lembar kontrak yang baru sudah anda bawa kita langsung saja pada intinya!" Bumi menjawab dengan sangat hati-hati, agar tak membuat tersinggung wanita yang berumur beberapa tahun di atasnya itu.
"Lho kok gitu, saya sengaja meluangkan waktu biar bisa berbincang sama kamu.Ayolah..."
Dengan tak tahu malu Bu Lita meraba permukaan celana Bumi, bahkan sampai naik keatas.
Seketika Bumi segera menjauh, tak mau di perlakukan seperti itu.
"Jaga perilaku anda Bu Lita, sepertinya saya telah salah datang kesini.Jika anda tidak mau memberikan surat kontrak yang baru, tidak apa-apa, tak masalah, saya anggap kerjasama kita batal!" Ucap Bumi lagi.
__ADS_1
"Kamu jadi orang jangan sok jual mahal, saya tahu kamu sangat membutuhkan kerja sama ini. Jadi saya minta imbalan untuk itu semua!'
" Bukankah sudah ada dalam perjanjian kontrak mengenai persentase keuntungan yang nanti akan Bu Lita dapatkan jika bekerja sama dengan perusahaan saya. Sepertinya itu sudah cukup dari imbalan."
" No,bukan itu yang saya inginkan."
" lalu anda ingin apa Bu Lita?"
" Saya ingin kamu menemani saya selama kerjasama Kita berlangsung, Saya tahu kamu lelaki kesepian.Begitu juga dengan saya. Suami saya sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan biologis saya, bukankah kita berdua akan sama-sama saling menguntungkan?"
" Maksud Anda apa ya?"
Bu Lita memutar bola matanya malas, padahal dia sudah sangat terbuka mengutarakan keinginannya.
" Bukankah pernyataan saya tadi sudah cukup menjelaskan apa Keinginan saya, Bumi?"
Bumi tampak terdiam sebentar, sebelum akhirnya ia berdiri dari tempat duduknya membuat Bu Lita tercengang.
" Sepertinya saya tidak bisa lagi melanjutkan kerjasama ini. Mungkin bagi orang lain bekerja sama dengan anda akan meraup banyak keuntungan. Tapi kini Saya mengerti kenapa mereka mau banyak keuntungan karena mungkin tawaran yang menggiurkan dari Anda seperti yang Anda tawarkan pada saya sekarang. Tapi mohon maaf saya bukan pria yang seperti itu, lagi pula saya bukan lelaki yang kesepian Saya punya anak dan istri yang sekarang menunggu saya di rumah, Anggap saja kita tidak pernah bertemu dan kita tidak pernah menjalin kerjasama."
Bumi lalu merobek map yang Doni bawa tadi, sebagi tanda ia sudah membatalkan kerjasama dengan perusahan Bu Lita.
" Saya permisi dulu bu LIta, selamat malam."
Bumi dan Doni akhirnya meninggalkan Bu lita yang pasti saat ini sedang dongkol karena keinginannya tak terpenuhi.
Di dalam mobil Doni hanya bergidik ngeri membayangkan seseorang yang setara dengan ibunya meminta dia untuk berhubungan.
" Ya Allah jauhkan aku dari orang-orang seperti itu." bisik Bumi lirih.
" Pak sepertinya Bapak harus segera menjemput ibu di Bandung Daripada nanti Bapak disangka Pria Kesepian lagi."Ucap Doni yang sedang mengendalikan stir mobilnya.
Bumi duduk di jok belakang memijit pelipisnya yang tidak sakit. Keputusan sepihak tadi pasti akan berdampak pada perusahaan nantinya, namun ia tak mau menggadaikan harga diri demi hal duniawi seperti ini.
" Diam kamu Don, Jangan mengejek aku kalau tidak ingin aku pecat."
"Maaf Pak, soalnya bukan cma Bu Lita saja yang bilang Bapak pria kesepian tapi para pegawai kita juga lo pak."
"Aishhh... kamu ya bikin kepala saya tambah pusing. Tambah kecepatan Don, saya ingin segera sampai rumah, pening kepala saya dengar ocehan kamu itu."
__ADS_1
"Siap pak.He...he."