
Dengan langkah cepat, kanaya kabur setelah berhasil melewati Leo yang tengah menelepon seseorang, Ia bersembunyi diantara semak-semak belukar yang gelap begitu terdengar suara Leo yang memanggilnya.
"Semoga dia tidak menemukan aku tolong aku ya Allah. " bisik Kanaya.
setelah memastikan Leo tak terdengar lagi suaranya,Kanaya buru-buru keluar dari tempat persembunyiannya.
Sementara itu Bumi dan Dimas sudah mulai berusaha mencari keberadaan Nesa dan juga Leo, untuk mempersingkat waktu keduanya memutuskan untuk berpencar, Dimas membawa bebepa orang suruhannya dan Bumi dengan polisi yang baru saja tiba.
"Nay... Kanaya..." Bumi terus berlarian mencari dengan memanggilnya nama Kanaya berusaha untuk menemukan istrinya itu.
"Nay, kamu dimana sayang, ini Mas sudah datang ayo Nay keluar." kata Bumi lagi.
rombongan Dimas tiba di sebuah villa, menurut orang kepercayaannya Villa itu baru saja di beli oleh orang dari jakarta, merasa curiga Dimas langsung mendatanginya.Dan benar saja dugaanya, Dimas menenukan Nesa yang sudah menyeret kopernya hendak pergi dari Villa itu.
"Nesa!!!!" teriaknya.
Wanita dengan perut besar itu sangat terkejut dengan kedatangan sepupunya, buru-buru ia melarikan diri dari Dimas lewat pintu belakang.
"Nesa jangan lari, kau sudah terkepung."
Namun wanita itu tidak menghiraukan, apalagi saat melihat Dimas pria itu tidak sendiri, dirinya sudah ketahuan dan dalam bahaya sekarang,Dimas pasti tidak akan tinggal diam sekarang, ia sangat takut jika sepupunya itu akan mengerimnya ke Nando, ia tidak mau.
"Nesa berhenti... jangan nekad ,ingat kandungan." teriak Dimas sambil mengejar wanita itu, anak buahnya telah berpencar ke kanan dan ke kiri mengejar wanita itu dan akhirnya tertangkap juga karena Nesa terlalu lemah melawan beberapa anak buah Dimas yang lebih kuat.
"lepaskan, apa yang kalian lakukan??" Teriak Nesa berusaha memberontak.Namun ia tak mampu untuk melepaskan diri.
Dimas datang tergopoh-gopoh, "Kau sungguh keterlaluan, Nesa. Apa yang kamu lakukan ini adalah tindakan kriminal.Bukanya bertobat dan memperbaiki diri kenapa kamu malah makin gila?" kata Dimas sangat kesal dengan sepupunya ini.
"Ini bukan urusanmu,Dimas.Aku hanya berjuang mengambil kembali milikku." sangkal wanita hamil itu.
"milikmu yang mana, Nes? bilang sama aku!"
"Kau tidak usah pura-pura tidak tahu Dimas. Kau yang paling tahu jika Bumi adalah milikku."
"Owh jadi kamu juga yang merencanakan penculikan pada Kanaya, begitu? dimana dia sekarang?" tanya Dimas dengan geram.
Nesa memalingkan mukanya tak ingin menjawab pertanyaan sang sepupu.
"Baiklah, kau mau tetap seperti itu kan? jadi jangan salahkan aku jika nanti aku akan berbuat yang lebih untuk membuatmu berhenti mengganggu hidup Kanaya dan Bumi lagi,
__ADS_1
Dimas memberi kode pada dua anak buahnya untuk segera meringkus Nesa, tak peduli wanita itu berteriak dengan keras dan berontak.
"Lepaskan, aku tidak mau ..."
'Kau akan aku kirim pada Nando, dia sudah menunggumu." ucap Dimas lagi.
"Cepat bawa dia."
Anak buah Dimas kembali menjalankan perintah sang atasan dan memabawa Nesa masuk kedalam mobil,Mulut serta tangan sudah di ikat dan di lakban, hingga wanita itu tidak mungkin berontak ataupun berteriak.
Dimas memerintahkan anak buahnya untuk pergi lebih dulu, ia akan bergabung dengan Bumi untuk mencari Kanaya, kerena ia sudah berjanji.
Sementara itu,
Kanaya yang sudah lari jauh dari Leo, melihat beberapa orang yang berlarian, tadinya ia ingin minta tolong, karena sejak tadi ia tidak melihat seorang pun, namun ketika melihat sosok yang sangat ia kenali yaitu Dimas, Kanaya segera mengurungkan niatnya untuk minta bantuan pada orang -orang itu.
"Dimas adalah sepupu Nesa, tidak menutup kemungkinan ia juga terlibat pada penculikanku.Tidak... aku tidak mau bertemu dengannya.Mereka pasti sedang mencariku."
Kanaya bermonolog sendiri, sambail bersembunyi di balik pohon.
Bumi telah menemukan villa tempat persembunyian Leo dan juga Nesa, disana hanya ada Leo saja yang sudah di ringkus oleh polisi. pria itu tertangkap saat sedang mencari kanaya di luar Villa.
"Plak." Satu tamparan langsung mendarat di pipi sepupunya yang sangat kurang ajar itu.
"Kau anak bau kencur, berani-beraninya melakuan ini padaku." kata Bumi.
Leo hanya tersenyum sinis, meski dengan mulut yang sedikit mengeluarkan darah karena tamparan dari Bumi cukup keras.
"Dimana istriku hah...."Teriak Bumi lagi.
"Ha...ha... istri??? yakin dia masih istrimu?" Kata Leo.
"Apa maksudmu?" ucap Bumi dengan emosi.
"Ha...ha...ha... Bumi..Bumi dia disini denganku sudah berapa hari? kau pikir apa saja yang kami lakukan selama ini?"
Bumi meraih kerah pria itu hingga tubuhnya sedikit terangkat.
"Kau, apa yang kau lakukan pada istriku??? aku tidak akan memaafkanmu bajingan!!'
__ADS_1
"Bughhhh...Bughhh" Bumi melayangkan pukulan demi pukulan pada sepupunya itu, tak peduli dengan tali persaudaraan mereka, Bumi sedang di penuhi emosi.
"Berhenti memukuli sialan, kau tidak akan bisa mendapatkan Kanaya lagi, dia sudah jadi milikku." ucap Leo. Ia memang tidak bisa melawan karena tangannya telah di borgol polisi.
"Tolong berhenti saudara Bumi, sudah cukup anda memberinya pelajaran,Sekarang biar kami yang menanganinya." ucap kepala polisi yang ikut dalam pencarian itu.
"Pria brengsek, dimana kau sembunyikan Kanayaku? katakan Hah!!!!"
Meski dihalangi beberpa polisi, Bumi belum bisa mengendalikan dirinya, rasa khawatir dan juga marah mendengar kata-kata Leo tadi sungguh mengusik pikirannya saat ini.
"Sudah aku katakan aku tidak akan mengatakan dia ada dimana. Selamat menikmati waktu sendirimu Bumi Mahesa.ha...ha..." Leo tertawa dengan keras apalagi saat pria itu di giring ke mobil polisi yang tidak jauh terpakrir di sana.
Bumi tertunduk lesu, bahkan ia sampai berlutut di tanah rasa kecewa dan putus asa menghinggapinya, Kanaya nya belum di temukan, karena si penjahat tetap bungkam saat di tanya keberadaan istrinya.
Bumi menangis meraung dengan tubuh bersujud di lantai.
"Ya Allah, kemana lagi aku harus mencari kanaya."
Dimas datang dan saat Bumi masih bersujud, ia langsung memanggil pria itu.
"Bum ayo kita cari kedalam villa barangkali dia ada disnaa!"
Bumi langsung menoleh dan segera bangkit,benar apa yang dikatakan Dimas ia belum mencari Naya ke dalam villa.
Begitu melihat Leo ia langsung menghujani sepupounya itu dengan pertanyaan tentang Naya.
"kau cari di sebelah sana, aku sebelah sini." Ucap Dimas lagi bergitu dirinya sudah berada di dalam.Bumi mengangguk.
"Kanaya...Nay..." teriak Bumi,Ia membuka pintu ruangan satu persatu mencari keberadaan istrinya itu.
"Sayang, kamu dimana? jangan bikin Mas khawatir,yUk kita pulang." lanjaut Bumi lagi.
Namu tak terdengat suara Kanaya atupu sosoknya disana.
"Nay.. please.."
Bumi masuk kedalam ruangan dimana ia melihat piring yang berisi makanan masih terliuhat utuh, air mineral dan seutas tali serta kain penutup.Ia sangat yakin sekali jika istrinya pernaha menempati ruangan itu.ketika ia akan keluar tak sengaja matanya melihat sebuah amplop berawarna coklat, ia yang penasaran akhirnya membuka amplop itu.
Matanya tercengah begitu melihat isi dalam amplop itu,sebuah surat perceraian yang istrinya tanda tangani.
__ADS_1