
Motor yang di kendarai Kanaya, berhenti di depan gerbang sekolah, setelah melepaskan helmnya, perempuan cantik itu menuntun Ezza hingga masuk kedalam kelas.
"Ezza belajar yang rajin ya nak terus jangan nakal! nanti jam sepuluh Bunda jemput." kata Naya sambil mengusap puncak kepala putra kesayangannya itu.
"Ok Bunda, tapi nanti pulangnya beli thaitea ya!" ajak sang putra.
"POkoknya kalau hari ini Ezza pinter nurut kata Ibu Guru, pulang sekolah kita beli itu."
"Hore.... ok Bunda Ezza janji akan patuh sama ibu guru."
"Ok, Bunda ke toko dulu ya sayang."
"Siap."
Setelah mengantarkan Ezza,Naya kembali ke parkiran,tujuannya kali ini adalah ke rumah-rumah warga di sekitar kawasan toko kain untuk mengambil topi-topi yang sudah selesai di jahit.Tiba-tiba saja ponselnya berdering,Naya segera merogohnya dari dalm tas, terlihat naman Sora tertera di layar.
"Asalamualaikum Sora!"
__ADS_1
[Waalaikum salam, Nay bisa tolong aku gak? ada konsumen yang mau datang ke toko, tiba-tiba saja si Ani kecelaaan , aku harus anter dia ke rumah sakit." ] ucap Sora di ujung telepon.
"Innalilahiwainailahi roijun. Ko bisa kejadian?gimana ceritanya?" tanya Naya sedikit khawatir.
[" itu lo Nay, lagi jahit topi taunya jarumnya potong dan kena telunjuk, lumayan dalam, makanya aku mau bawa dulu ke rumah sakit."]
"Ya sudah ,aku langsung ke toko saja kalau begitu, kamu hati- hati nanti ke rumah sakitnya.'
'[ "ok, aku pergi. Asallamualaikum."]
setelah menerima panggilan itu,Kanaya segera naik kembali ke atas motornya dan mulai meninggalkan sekolah itu.
Tiga puluh menit kemudian, Kanaya sudah tampak sedang membereskan tokonya, karena sebentar lagi jam operasional sudah buka, dan pastinya akan ada banyak pengunjung yang berdatangan, entah untuk sekedar melihat-lihat atau belanja.
***
Sisi lain,
__ADS_1
Bumi terus mengikuti kemana pengendara motor itu membawa Ezza, rupanya memang tdiak jauh dari lampu merah tadi, ada sekolah khusus untuk anak-anak usia dini, dan perempuan yang membawa Ezza ternyata mengantarnya ke sekolah itu.
Bumi yang penasaran terus menatap dari balik stir mobilnya, Ia dengan jelas bisa melihat perempuan yang mengantar Ezza itu membuka helm namun tidak dengan maskernya.
Bumi sedikit menghembuskan napas karena kecewa, tidak bisa melihat dengan jelas ibu dari Ezza.Ia kemudian melirik jam di pergelangan tangannya, waktu sudah hampir siang ia harus segera mendapatkan kain-kain pesanan Mamahnya, jika tidak Bu Ningsih pasti sangat kecewa.
Maka, segera saja Bumi menyalakan mesin mobil dan kembali ke tujuan awal.
Bumi masuk dari satu toko ke toko yang lain, mencari bahan kain yang Bu Ningsih inginkan,beberapa kali ia menemukan itu namun ada saja kendala yang membuatnya batal untuk membeli.
Sampai Bumi di sebuah toko kecil namun ia melihat di dalam banyak sekali jenis jenis kain serta corak yang di inginkan sang Ibu, kemudian ia masuk ke dalam,dan mulai meraba-raba permukaan kain itu. Bumi tersenyum sepertinya kriteria kain yang ibunya inginkan sudah ia dapatkan,ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari si pelayan toko, namun tak ia temukan.
"Hallo... pak, Bu saya mau beli bahannya berapa permeter?" tanya Bumi dengan pandangan mengarah pada satu pintu masuk, sepertinya si penjaga toko ada di dalam.
"Ya... tunggu sebentar ya Mas," Sahut seorang wanita dari dalam.
"Degh." Bumi menajamkan telinganya lekat-lekat, ia berusaha memanggil perempuan itu kembali untuk memastikan.
__ADS_1