Jodoh Untuk Kanaya

Jodoh Untuk Kanaya
Bab 64 Merubah penampilan


__ADS_3

Bumi keluar dari kamar mandi,namun langkahnya terhenti saat melihat ke arah samping meja rias ia mendapati istri cantiknya yang saat ini tengah bercermin,ia di buat terpana dengan penampilan Naya. Bukan karena make up tebal,atau lipstik yang merona merah, namun baju yang Kanaya kenakan saat ini.


"Subhanallah, ini kamu sayang?' tanya Bumi tidak percaya.


Kanaya menatap sekilas ke arah sang suami, setelah itu ia menunduk malu.


"Jelek ya Mas?"


"Gak sayang, Mas suka penampilan kamu ko, ngomong-ngomong kamu mau kemana dandan kaya gini?"


"Nanti Naya jawab, Mas Bumi pake baju dulu ya biar enak ngobrolnya."


"Ok."


Kanaya memberikan baju yang telah ia siapkan untuk sang suami, satu stel kemeja lengkap dengan dasi dan rompinya. Bumi memang palingmenyukai rompi di banding jas kerja.


Setelah selesai memakai baju, kanaya kembali mendekat membantu sang suami memasang dasi.


ini adalah kegiatan yang paling disukai Kanaya, karena bisa bertatapan dengan intens dari Bumi dan bisa merasakan bahwa pria itu mempunyai banyak cinta untuknya.


"Kenapa mandang Naya kaya gitu,Mas?" tanyanya karena saat ini Bumi tengah menatapnya dengan lama tanpa berkedip.


"Gak boleh ya?"


"Boleh sih, hanya saja kok risih ya."


Bumi tersenyum kemudian mencubit hidung Kanaya  yang mancung itu.


"Gemas banget sich."


"Belum cerita lo, kamu ada kegiatan mengaji dimana? kok gak bilang sama Mas?" ucap Bumi lagi.


"Mulai saat ini saat keluar Naya mau pake hijab.Boleh kan Mas?"


Bumi diam sejenak mencoba mencerna ucapan sang istri saat ini.Namun kemudian senyumnya mengembang.ia sungguh tidak menyangka istrinya akan   seperti itu.


"Mas senang sayang, kamu mau merubah penampilan kamu, cuma satu pesan Mas jika kamu udah berpenampilan kaya gini, jaga marwah ya sayang, jangan sekarang pake besok lepas."


"Makanya dukung Naya ya Mas dan ingatkan jika lupa."


"Siap sayang." Bumi memeluk tubuh ramping Kanaya yang saat ini telah rapi dengan setelan kemeja longgar dengan rok panjang menjuntai, lengkap dengan kerudung Phasmina.


"Sayang, kamu pake ini apa karena kritikan dari Leo kemarin?"


Kanaya terdiam sejenak mendengar pertanyaan dari sang suami.karena sejujurnya semalam ia banyak memikirkan tentang perkataan leo yang memang ada benarnya.Seharusnya setelah menikah ia bisa menutup tubuhnya dan hanya suami yang bisa melihat keindahannya.

__ADS_1


"Diam, berarti benar?" tanya Bumi lagi.


"Maafin Naya ya Mas."


"Kenapa harus minta maaf sayang, kamu gak salah ko." ucap Bumi menghibur.


"Karena gak seharusnya Naya keluar kamar hanya memakai piayama pendek, dan Leo melihatnya."


Bumi memeluk lagi tubuh mungil itu.


"Tidak salah sayang, Mas gak nyalahin kamu kok, lagipula memang dia yang sejak awal punya rencana yang gak baik,apapun yang kita lakukan pasti di jadiin alasan. Sekarang isap-siap yuk kamu ada kuliah pagi kan?"


Kanaya mengangguk.


***


Bu Salimar masih menatap angkuh pada adiknya Bu Ningsih yang dianggapnya tidak becus karena membiarkan Bumi bertengkar dengan putranya hanya karena kanaya.


"Panggil anak kurang ajar itu sekarang bersama istrinya!"


"Tapi Mba, Bumi menghajar Leo karena anak itu sudah keterlaluan."


"Jadi kau masih membelanya Ning, ingat yang membuat Bumi dan Leo berkelahi adalah wanita yang kau pungut itu, ia tidak punya hubungan darah denganmu. Kenapa kau dan anakmu harus membelanya sampai-sampai kau menetang aku dan anakku?"


Bu Ningsih menghembuskan napasnya panjang, sungguh jika di tanya apakah dia jengah dengan keadaan ini maka jawabannya adalah ia,sangat jengah.


Sementara itu di atas tangga,Leo baru saja menguping pembicaraan Ibu dan tantenya di ruang tamu, Bibirnya tersenyum puas, rencana memanggil Bumi agar kembali ke rumah nampaknya akan berhasil.Setidaknya tanpa turun tangan , ibunya sendiri yang akan memisahkan antara Bumi dan Kanaya,setelah itu ia akan mengambil Kanaya dan membawanya pergi.


"Mereka akan datang nanti sore,Mba. Bumi masih kerja dan Kanaya juga masih di kampusnya." Ucap Bu Ningsih.


Bu Salimar tak menaggapi lagi omongan adiknya, dia lebih memilih sibuk dengan ponselnya,Entah dengan siapa ia sedang mengirim chat.


Sore harinya, setelah selesai bekerja Bumi langsung bergegas kembali ke Apartement untuk menjumpai istrinya, sebenarnya sedari pagi ia masih merasa cemas memikirkan Kanaya yang sendirian,khawatir jika Leo akan mengambil kesempatan mencelakai istri cantiknya itu.


Sepertinya ia sedikit menyesal telah mengajak pindah Kanaya, bukan karena ia yang  tak bisa hidup tanpa orang tua, atau numpang hidup, tapi ia merasa saat dirinya bekerja tidak ada yang menjaga Kanaya.


"Sayang sudah siap?" tanya Bumi begitu melihat istrinya ekluar dari kamar.


"Sudah, Mas mau makan dulu tidak?" tanya Naya, karena ia tahu Bumi baru saja sampai dan pastinya lelah dan juga lapar.


"Tidak sayang, Mas belum lapar ko,Ya udah yuk berangkat biar gak kemalaman. Atau kamu mau nginap di rumah Mama?" tanya Bumi lagi.


"Nurut apa kata Mas aja deh. kalau Mas mau nginep ayo kalau gak juga gak apa-apa."


"Eummm gemas."

__ADS_1


Bumi mengambil lengan Kanaya dan membawanya pergi ke rumah besar milik orang tuanya.


Di maobil, Kanaya mengeluarkan kotak makanan dari dalam paperbag, ada nasi bakar cumi dan semangkuk salad. Sengaja memang Naya membawanya agar sang suami bisa makan saat di mobil.


"Kamu bekal sayang?' tanya Bumi dengan mata yang terus fokus ke tengah jalanan.


"Sengaja mau nyuapin suami. Buka mulut Mas?"


Bumi tersenyum ia langsung membuka mulut menerima suapan nasi yang beraromakan rempah-rempah itu.


"Enak."


"Mas sambil nyetir sambil makan ya, Naya tau ko sebenarnya Mas lapar, kalau  Mas nunggu nanati di rumah Mama, takutnya Mas udah kehilangan selera."


Bumi menoleh sebentar,"Terima kasih ya sudah pengertian."


"Sama-sama sayang."


"Coba bilang lagi sayang!"


"Yang mana?" tanya Naya malu.


"Yang tadi?"


"Gak ada siaran ulang, udah aghhh fokus nyetir nya."


"Awas ya , ntar malam Mas hukum lima ronde."


"Mas..." Ucap Naya manja, membuat Bumi semakin gemas dan mengacak kepala sang istri.


"Ighhh Mas nanti jilbabnya kusut."


"Maaf sayang."


Satu jam kemudian,


Bumi dan Kanaya sudah sampai di rumah orang tua mereka, Bu Ningsih sangat kaget melihat penampilan Kanaya yang saat ini memakai hijab, meski belum memakai baju syar'i, tapi ia sangat senang dan bersyukur, menantunya mau menutup aurat.


"Semoga istiqomah ya sayang, Mama senang."


"Terimakasih Ma, doakan Naya selalu."


"Pasti sayang."


Mereka langsung di ajak menemui Bude Salimar di halaman belakang, sengaja Bu Ningsih memilih tempat disana, selain nyaman dengan pemandangan air kolam dan taman mini, mereka juga sepertinya akan lebih leluasa untuk bicara.

__ADS_1


"Bude." Sapa Bumi pada perempuan anggun nan elegant itu.


__ADS_2