
Bumi menceritakan bagaimana nasib tragis yang menimpa Neza yang mengalami gangguan jiwa, dan anak yang di lahirkan mengalami kecacatan.
"Yang menimpa Neza dan bayinya bukan salah kita,Nay.Dia sudah mengalami gangguan jiwa sejak kecil karena pernah mengalami tindakan kekerasan dari orang disekitarnya." kata Bumi.
"Lalu bagaimana keadaan bayi itu Mas, siapa yang merawatnya?"
"Nando datang dan merawat bayi itu, namun dua tahun kemudian mereka mengabarkan jika bayi Neza telah meninggal karena mengalami bocor jantung.Semua yang berbuat jahat pada kita telah mendapatkan karmanya masing-masing,Ayo kita kembali sayang."
Kanaya terdiam, pada akhirnyaa ia hanya bisa membuang muka tidak sanggup menatap mata Bumi.
"Kenapa Nay? kamu tetap ingin seperti ini? memikirkan dirimu sendiri.Tak peduli dengan suami dan keluargamu?"
"Mungkin ini lebih baik Mas,Jika kita bersama akan ada banyak orang yang terluka lagi, aku gak mau." jawab Kanaya.
('Sabar...Bumi.Ingat Kanaya yang kau nikahi dulu adalah gadis baru lulus SMA, berbeda sekarang kepribadiannya sudah jauh lebih matang dari sebelumnya.') bisik Bumi dalam hati.
"Lalu kau juga tidak memikirkan Altezza, kehidupannya tidak sempurna karena kau memisahkan kami,Nay."
Kanaya seakan tersentil dengan ucapan Bumi, namun egonya ternyata masih mendominasi.
"Justru aku aku menjauh dari hidup kalian demi Altezza, aku tidak mau ada yang berbuat jahat lagi, terutama pada anakku, hanya karena ambisi mereka tega berbuat semena mena pada kita, dan yang paling miris anak kita jadi korbannya.AKu tidak bisa lagi menghadapi itu jika Altezza pun jadi sasaran kebencian mereka pada kita."
Bumi memejamkan matanya, sepertinya untuk meyakinkan kanaya tidaklah mudah, Ia akan memikirkan cara lain agar Kanaya nya bersedia puang dan kembali padanya.
"Lalu kau akan menyingkirkan aku sebagai ayah Ezza,Nay?"
Kanaya menggeleng pelan.
"Mas bisa kapan saja datang kesini untuk bertemu dengan Ezza, aku gak akan pernah ngelarang.tapi untuk kembali kesana maaf Mas, Aku gak bisa."
Begitu buruk dan mengerikan kenangan masa lalu,rupanya benar-benar membuat Kanaya takut.
"Baik, aku gak akan maksa kamu buat kembali sama aku,terserah kamu mau berbuat apapun juga.Satu hal yang harus kamu ketahui Naya, sampai detik ini kamu masih istri sah ku, tidak pernah ada perceraian diantara kita. Bukankah suda menjadi dosa jika seorang istri tidak menurut pada suaminya.Semua bergantung padamu."
Bumi beranjak dari duduknya kemudian berdiri menghadap kepintu keluar.
"Tapi, kamu tetap akan mengakui Ezza kan Mas?" ucap Kanaya, sebelum kaki Bumi melangkah keluar.
__ADS_1
"Bukankah selama ini kamu berharap aku ak pernah tahu tentang Ezza,Nay? kenapa kamu harus tanyakan itu?"
mata Kanaya kembali berkaca-kaca, rasanya begitu menyakitkan saat mendengar Bumi mengatakan itu semua. Ini memang maunya agar Ezza terhindar dari orang orang yang ingin berbuat jahat padanya,
Namun, saat Bumi mengatakan kalimat itu, Naya tak akan sanggup melihat putranya hidup tanpa ayah,yang jelas -jelas ada.
"Tapi kamu tenang saja, Nay. aku gak akan mengabaikan kewajibanku sebagai ayahnya, Dia tetap darah dagingku."
Setelah mengatakan itu, Bumi memilih segera pergi dari toko Kanaya, rasanya di dalam sana terasa menyesakan, mengetahui kenyataan Kanaya memilih menyerah untuk cinta mereka sungguh membuatnya sangat terluka.
Berharap akhir dari pertemuan mereka sangat indah,tapi realitanya justru tidak sesuai
"Om." Teriak Ezza, pria kecil itu berlarian menuju kearahnya.
Bumi tersenyum haru melilihat sang putra yang begitu tampan, ia melebarkan keduan tangannya berharap Ezza kecil akan lari dalam pelukannya.
Hatinya terasa hangat saat tubuh mungil itu, kini benar-benar ada dalam dekapannya.Altezza-nya tengah memeluknya erat.
"Om, kata teh Nurul, Om beneran ayah aku?" tanya Ezza polos, keduanya kini tengah didepan toko Kanaya.
"Ezza seneng gak kalo ternyata ayah Ezza adalah Om?"
"Oh ya darimana kamu tahu,Nak?"
Dari ponsel Bunda, tiap hari Bunda selalu nangis ayah, bilang rindu dan berharap ayah segera berkumpul sama kami. kemarin, gak serangan lihat ponsel Bunda dan ada foto Om di sana."
Bumi menyeringat tipis mendengar Ezza bercerita sepertinya ia sudah punya cara agar Kanaya mau kembali padanya.
Ia sendiri tidak sungguh -sungguh meninggalkan istri dan anakknya ,Bumi hanya memberi kesempatan pada Naya untuk memikirkan ulang tentang keputusannya.
"Karena Ezza sudah tau kalau Om ini ayahnya Ezza, boleh donk panggilanya di ganti jadi Ayah."
Sambil menahan tangisnya Ezzapun mengagguk.
"Iya ,Ayah."
Pecah sudah tangis keduanya,mereka saling berpelukan melepas rindu satu sama lain.
__ADS_1
"Maafkan Ayah ya nak, karena terlalu lama menemukan Ezza dan Bunda.Sungguh Ayah tidak tahu kalau Ezza itu ada di dunia ini.Maaf." tutur Bumi sambil mengciumi puncak kepala Ezza yang sangat wangi beraromakan anggur itu.
"Ezza udah maafin ayah, Tapi janji setelah ini jangan pergi-pergi lagi, jangan tinggalin Ezza dan bunda lagi ya,Ayah."
" Ya , ayah janji gak akan tingglin kalian lagi, terima kasih Ezza sudah mau terima Ayah."
"Sama-sama,Ayah.''
Mereka kembali berpelukan dengan haru.
Di balik pintu, Kanaya melihat semua yang terjadi antara Bumi dan juga putra mereka.Hatinya begitu hangat melihat pemandangan itu, namun saat ingat kata-kata Bumi tadi, ia menjadi bimbang apakah keputusanya untuk tetap seperti ini tepat?
"Teh, Nurul gak sangka lelaki kasep itu ternyata ayahnya Ezza. Meni terharu lihatnya Teh, Ezza gak akan di ejek lagi sama temen ngajinya kalau dia gak punya ayah."Ucap Nurul terharu.
Kanaya ingat saat ia masih mengandung Ezza, banyak para tetangga yang mencibirnya tidak punya suami bahkan ada yang mengecap dirinya perempuan tidak benar, namun Kanaya tidak ambil pusing.
"Ezza waktunya makan siang, kita makan dulu yuk!"
Kanaya mendekati keduanya,mencoba membujuk sang putra untuk makan.
Ezza gak mau makan,mau sama Ayah saja." tolak Ezza sambil memeluka erat tubuh Bumi seakan tak ingin lepas.
'Ini sudah sangat siang lo nak, nanti perutnya sakit." Bujuk Naya lagi.
"Pokoknya gak mau, Ezza mau sama Ayah aja." Pria kecil itu tetap bersikeras tidak mau makan, ia hanya ingin memeluk pria dewasa yang sangat dirindukannya ini.
"Bagaimana kalau makan siangnya bareng sama Ayah, mau?" Bumi yang melihat Kanaya tampak bersedih menjadi tidak tega.
"Mau Ayah, tapi Ezza mau makannya di rumah aja bareng ayah gak mau di toko, bosen."
Bumi menatap Kanaya seakan menanyakan apakah boleh jika mereka makan di rumah.
"Tentu boleh sayang, ayo kita ajak Ayah untuk makan di rumah." jawab Kanaya.Membuat Ezza tersenyum sumringah.
'Bener Bunda, ayah boleh ke rumah kita?"
"Boleh sayang, ya sudah kita pulang yuk."
__ADS_1
"Ezza mau duluan aghh sama Ayah, Bunda susulin kami ya." UCap Ezza. Ia menarik tangan Bumi, melangkah girang ingin pamer pada semua orang bahwa dirinya juga punya seorang ayah.