
Pagi yang cerah untuk jiwa yang tenang.
Alex sedang membaca koran didepan teras ruang tengah sambil ditemani oleh secangkir kopi hangat. Pagi itu menunjukkan angka tujuh pagi. Udara yang masih cukup segar untuk dinikmati yang merupakan karunia terbesar dari sang pencipta. Kicauan burung masih terdengar bersahut-sahutan di atas pohon halaman rumah.
Berita pagi ini mengenai pemilihan calon presiden yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan. Semua pihak sedang ramai membicarakanya. Sampai anak kecil berumur tiga tahunpun juga mengetahuinya.
Selain itu, berita hangat itu selalu diselingi dengan hal lain yang tak kalah heboh jadi perbincangan dalam minggu ini. Seorang artis cantik yang kembali menapakan kaki kr negara asal setelah sukses berkarir di luar negeri beberapa tahun ini. Sangat banyak masyarakat Nirwana yang menyanjungnya. Mendengar berita kedatanganya membuat para fans antri untuk melihat secara langsung dan rela menunggu berjam-jam lamanya.
Alex tidak menghiraukan berita indah itu. Ia sibuk membaca koran tentang politik.
"Nona Bella sudah kembali ke Nirwana. Hari ini pesawatnya sudah sampai ke bendara Nirwana satu jam lagi. Apa anda ingin menjemputnya tuan? Kita masih ada waktu sekarang" kata salah seorang pelayan memberitahu.
Alex terdiam mendengarkan. Lalu menghempa udara sebagai jawabanya. Tak berkomentar apapun selain mengubah topik bacaanya. Ia membalikan halaman berikutnya. Berita itu menampilkan tentang perusahaanya sendiri. Ia tersenyum tipis.
"Rupanya mereka mengetahuinya dengan cepat" ia berkata sendiri.
Pelayan Rumi melihat isi berita itu dengan jelas, kemudian kembali berkomentar.
"Selamat tuan muda. Perusahaan kembali meraih prestasi di mata dunia. SH Group memang layak mendapatkan penghargaan itu. Berkat kerja keras keluarga Hans dan semua orang yang terlibat didalamnya"
"Tentu saja. Aku juga ikut berperan penting didalamnya" jawab Alex dengan nada sombong.
Pelayan Rumi hanya tersenyum manis sebagai balasanya.
"Apa jadwalku hari ini? Aku ingin menjenguk nenek dirumah sakit lebih dulu, setelah itu aku baru mengunjungi teman-temanku"
Pelayan Rumi segera memeriksa jadwal milik Alex.
"Hari ini tidak ada jadwal apapun tuan. Nyonya Rita sengaja mengosongkan jadwal anda untuk banyak merawat nenek dirumah sakit"
"Baiklah aku mengerti apa maksud ibu melakukanya. Aku akan menurutinya. Aku akan bersiap-siap."
Ya, baiklah tuan"
Disisi lain, di tempat yang berbeda, Kanaya terbangun dari tidurnya dan mendapati ibunya sedang sibuk memasak di dapur.
"Selamat pagi ibu. Ibu sedang memasak apa?" sapanya.
__ADS_1
"Hmm, pagi. Aku sedang menggoreng ikan untuk sarapan pagi kita. Karena hari ini adalah hari libur, jadi aku harus memasak banyak"
"Tentu saja, karena aku yang akan mengahabiskanya semua" balas Kanaya bergurau.
"Anak gadis zaman sekarang tidak boleh terlalu banyak makan, nanti badanmu akan terlihat sangat jelek dan gendut"
"Memangnya apa masalahnya dengan badan yang seperti itu? Aku tidak apa-apa"
"Ibu sangat tidak menyukainya. Wanita muda seusiamu makan tidak terlalu banyak. Makanya banyak mereka yang memiliki tubuh ideal"
"Sudahlah, aku tidak berselera lagi untuk menghabiskannya, aku pergi saja"
"Hei! Apa kau marah?"
"Ibu selalu membandingkanku dengan gadis-gadis lainya. Aku hanya ingin menjadi diriku saja.
"Baiklah. Lakukanlah sesuka hatimu hingga badanmu terlihat gemuk dan laki-laki akan menghindar saat melihatmu"
"Tidak"
"Sebaiknya kau bantu ibu membersihkan piring-piring itu. Sebentar lagi ayahmu akan sarapan."
***
Siang itu, Alex sedang berada di lapangan golf milik temanya Bob. Mereka sudah berlatih keras dari pagi tadi. Tiba-tiba pelayan Sim datang menghampirinya.
"Tuan muda, nyonya besar memanggil anda. Ia baru saja kembali dari rumah sakit"
"Benarkah? Kenapa cepat sekali?"
"Dokter terpaksa mengizinkanya nyonya pulang karena nyonya tidak betah disana"
"Siapkan mobil sekarang juga, kita akan kerumah" Alex bergegas beranjak dari tempatnya.
"Baik tuan"
Sampainya dirumah, Alex disambut hangat oleh neneknya.
__ADS_1
"Alex. Kau sudah datang. Kesinilah nak" sapa sang nenek riang.
"Nenek. Apa nenek baik-baik saja? Kenapa nenek tidak memberitahuku kalau nenek sudah kembali? "
Sang nenek tertawa kecil. "Aku ingin memberimu sedikit kejutan. Aku tidak ingin berlama-lama disana. Disana sangat membosankan. Aku hanya perlu rawat jalan. Kondisiku jauh lebih baik jika berada dirumah" katanya.
"Syukurlah. Mulai sekarang nenek harus banyak istirahat dan mendengarkanku"
"Baiklah, aku mengerti"
"Apa nenek sudah membaca berita hari ini?"
"Tentu saja. Manager Hans sendiri yang memberitahuku langsung. Perusahaan banyak kemajuan berkat kerja kerasmu. Itu sungguh luar biasa. Aku sangat bangga padamu"
"Terima kasih nek. Aku akan lebih giat lagi"
"Kau sudah bekerja keras selama ini. Nah, sekarang kau bisa melanjutkan kembali kuliahmu. Kau pasti merindukan suasana kampus bukan?"
"Aku tidak apa-apa. Aku bisa bekerja sambil menyelesaikan kuliahku. Karena aku ini sangat luar biasa"
"Begini, aku dengar cucu Kun juga kuliah di tempatmu. Dia adalah juniormu di kampus. Aku mengetahuinya saat melihat fotonya waktu itu."
Alex terdiam sejenak. "Maksud nenek gadis..."
Nenek menyela. "Kanaya. Cucu menantuku"
"Entahlah. Aku tidak mengenalnya"
"Mana mungkin kau mengenalnya. Kalian berada di fakultas yang berbeda. Datang dan temuilah dia. Mungkin kalian bisa akrab disana. Aku akan mengirimkan profilnya padamu"
Alex mengangguk dengan ragu. "Ya"
"Ibu, sebaiknya ibu banyak beristirahat. Dokter menyarankan ibu harus istirahat total" kata ibu Alex memotong pembicaraan mereka.
"Aku tahu, tapi aku ingin makan siang dengan cucuku. Habis itu aku akan kembali istirahat"
Alex tertawa kecil melihat tingkah neneknya itu.
__ADS_1
Mereka pun memutuskan untuk makan siang bersama.