Jodoh Untuk Kanaya

Jodoh Untuk Kanaya
Satu


__ADS_3

Malam harinya, tepat pukul tujuh malam, Kanaya datang kerumah. Ia begegas pulang setelah mendapat telepon ibu tadi siang.


"Aku pulang!" ia bersorak dari luar rumah memberi petanda kedatanganya. Tampak wajah lelah selama perjalanan tadi.


"Kau sudah datang" sambut sang ibu muncul dari ruang tengah.


"Hh, sangat melelahkan sekali. Hari ini aku sudah menguras tenaga untuk belajar banyak. Badanku rasanya sakit semua" Kanaya menghempaskan badanya di sofa panjang.


"Jangan terlalu dilebihkan. Kau hanya perlu istirahat beberapa menit saja, tenagamu akan kembali. Kita harus makan malam. Ayah dan adikmu sudah menunggu tidak sabaran dari tadi di meja makan"


Kanaya kikuk mendengar sindiran ibu barusan sehingga membuatnya malu dan terpaksa bangkit kembali menuju meja makan. "Baiklah. Ayo kita makan!" serunya dengan semangat.


Kanaya bergegas menuju ruang makan. Disana sudah ada Galang yang ternyata sudah mengunyah makananya dengan lahap dan tidak mempedulikan kedatangan kakaknya.


"Hei! Apa kau tidak melihatku! Kau malah asik makan sendiri" seru Kanaya. "Kenapa kau tidak menungguku dulu. Dimana letak sopan santunmu"


"Aku sudah kelaparan menunggumu satu jam yang lalu. Duduklah, dan makanlah cepat sebelum aku yang menghabiskanya" sahut Galang dengan enteng.


"Coba saja kalau kau menghabiskannya. Aku yang lebih dulu akan menghabisimu"


"Baiklah, aku mengerti. Kakak selalu mengancamku dengan kata itu"


Lalu ibu datang jadi penengah.


"Jangan ribut! Apa kalian akan terus jadi tikus dan kucing yang selalu bertengkar saat makan? Sepertinya aku salah mendidik mereka" keluh ibu seraya menyendok nasi untuk suaminya.

__ADS_1


"Sudahlah. Ayo makan. Kau pasti lapar" sahut sang ayah dengan tenang.


"Ya baiklah," jawab Kanaya menurut.


Galang hanya bisa tertahan tawa melihat sikap sang kakak. Akhirnya mereka memutuskan untuk makan malam. Tidak cukup beberapa menit, ibu sudah menunggu momen yang pas untuk kembali bicara.


Ia berdehem-dehem sebentar. Melihat sekeliling bagaimana respon mereka. Kanaya menoleh dan langsung sigap mengambil segelas air.


"Ibu pasti tersedak. Minumlah air ini" katanya.


Sang ibu hanya menuruti. Ia meneguk minumanya dan berkata. "Tidak. Aku harus mengatakanya padamu sekarang"


"Maksud pembicaraan ibu tadi?" Kanaya langsung paham dengan kata ibunya barusan.


Sebelum ibu kembali melanjutkan pembicaraanya, tiba-tiba ponsel Kanaya berdering. Sebuah panggilan masuk.


"Oh tidak! Aku harus mengangkat telpon ini, kalau tidak aku akan kena masalah" seru Kanaya panik.


"Siapa yang menelponmu malam-malam begini?" tanya ibu.


Kanaya memperlihatkan ponselnya pada ibu, dan langsung terkejut melihat nama yang tertera dilayar ponsel itu yang bertuliskan "Dosen killer".


"Apa dia orang yang kau bicarakan itu?"


Kanaya mengangguk. "Benar. Besok saja kita lanjutkan ibu. Aku berbicara dengan prof" Kanaya bangkit dari tempat duduknya. Ia beranjak ke kamarnya segera untuk mengangkat panggilannya.

__ADS_1


Tak dapat mengelak, akhirnya kali ini sang ibu yang mengalah. Ayas ikut penasaran lalu bertanya pada istrinya.


"Siapa itu?"


"Dosen killer" kata ibu


"Apa? Benarkah? Kenapa dia menelpon putri kita?"


"Entahlah. Kanaya selalu mengatakan kalau dosenya selalu menghubunginya untuk meminta bantuanya karena dia murid yang bisa diandalkan"


"Begitu rupanya. Wah, putriku sangat hebat. Dia meniruku"


"Tentu"


"Ayah, bagaimana denganku?" tanya Galang.


"Tentu saja aku menurunkan ketampananku padamu" gurau sang ayah membuat istrinya tertawa.


"Oh ya. Ayah benar juga" sahut Galang setuju dengan itu.


"Tentu saja. Darimana kau dapat wajah tampan itu kalau bukan dari kami berdua" timpal ibu sambil tertawa.


Secara tidak sengaja suasana ruang makan terasa lebih ceria kembali.


"Ayo lanjutkan makanya"

__ADS_1


__ADS_2