Jodoh Untuk Kanaya

Jodoh Untuk Kanaya
Bab 93 Takut


__ADS_3

Ketika subuh menjelang Eza membuka kedua matanya, Iya begitu gembira ketika mendapati sang ayah Tengah tidur memeluknya dan juga sang Bunda yang ada di sebelahnya. Eza sedikit mengucek-ngucek matanya memastikan bahwa penglihatannya benar, bahwa itu adalah sosok yang tengah ia rindukan beberapa hari ini. Setelah memastikan ia tidak bisa mengendalikan diri lagi untuk tidak berteriak.


"AYAH! " teriak Eza. Bumi Yang masih tidur dengan nyenyak akhirnya terperanjat, Ia pun terbangun dan mendapati sang putra yang tengah bersorak gembira.


"Lho anak Ayah udah bangun Ini masih jam 04.30 pagi loh. ucap Bumi yang langsung memeluk putranya itu,


"Kangen sama Ayah." rengek Eza,


Bumi mengusap-usapTubuh mungil itu dan mmbawanya kedalam pamgkuan.


'Ayah juga kangen sama Eza."


Ia melihat Kanaya dengan mata yang masih tertutup kemudian ia mengajak putranya untuk ke kamar mandi mengambil air wudhu.


" kita wudhu terus salat yuk jangan berisik tapinya nanti Bunda bangun kasihan semalam Bunda kecapean."


"Ayo Ayah. Kedua orang beda generasi itu pun akhirnya ke kamar mandi menggosok gigi dan membersihkan badan. Dengan pelan Bumi memandikan Sang putra, karena selama di Bandung kemarin ia tidak sempat melakukan itu karena Eza yang masih terlihat canggung meski keduanya menempel bak perangko.


Setelah selesai mandi dan berwudhu mereka berdua keluar dari kamar mandi lalu Bumi membantu Eza memakai bajunya. Bumi melihat semua barang istri dan putranya telah tertata rapi di lemari, Bumi kini merasakan lemarinya yang sangat sempit karena ditambah baju-baju Eza.


Hari ini ia berencana akan mengajak anak dan istrinya shopping ke mall, untuk masalah pekerjaan dia akan minta bantuan Doni untuk menyelesaikannya.


Bumi dan esa melakukan salat subuh dengan berjamaah, anak kecil itu ternyata sudah hafal gerakan-gerakan salat Jadi ia tidak begitu kesulitan mengikuti.


Setelah mengucapkan salam segera mencium punggung tangan Bumi.


" Semoga jadi anak yang sholeh ya nak terbakti sama Bunda dan Ayah."


"Amin Ayah."


Lalu beberapa saat kemudian terlihat Kanaya membuka matanya, dia menoleh ke kanan dan ke kiri melihat sang suami dan putranya sudah tidak ada di tempat tidur. Ada sedikit rasa khawatir namun begitu melihat dua orang yang beda generasi Tengah mengaji ia menjadi sangat lega.

__ADS_1


" Oh kesayangan kesayangan bunda manisnya, kok Bunda nggak dibangunin sih sayang?" tanya Kanaya sedikit heran.


" Bunda Kelihatan capek banget tidurnya pulas lagi ya kan yah?" kata Eza.


"Ia, Eza lihat nggak Bunda sampai keluar ilernya Ioh jorok."


Biarin yang penting Bunda kesayangannya Ayah sama Eza. " wanita itu menenggelamkan kepalanya di antara leher sang Putra dan suaminya.


" Ampun Bunda geli bau bunda jauh-jauh bau! "Teriak Eza dengan tertawanya yang menahan geli.


Pukul 09.00 pagi ketiganya telah keluar dari kamar, Kanaya membawakan tas kantor Bumi sedangkan dirinya menggendong si tampan.


" sayang mas lupa Padahal nggak usah bawain tas. Mas rencananya cuma sebentar kok ke kantor habis itu Mas jemput kalian kita belanja ke mall ya." Ujar Bumi.


Mendengar kata-kata Mall membuat Eza sangat sumringah, Ia ingin sekali menginjakkan kakinya di mall terbesar di Jakarta. Selama ini ia hanya bisa melihat dari televisi dan video di media sosial.


Yah dengan pengawasan dari Kanaya.


" hari ini mau beli apa sayang Kakek juga mau ikut." Sahut Pak Arif tidak mau kalah.


Rupanya pria paruh baya itu pun tidak mau kalah, ingin mengajak Bumi jalan-jalan.


"Kakek juga ikut kami?" Tanya Eza dengan senang.


" Iya dong Masa cuma Ayah aja yang bisa beliin mainan buat Eza kakek juga."


" Yeh asik Eza bakal punya banyak mainan." Eza bersorak-sorak gembira sambil melompat-lompat di atas kursi. Semua orang dewasa yang ada di Sana hanya menggeleng namun membiarkan Eza tetap melakukannya, karena itu bentuk ekspresi gembira dari seorang anak kecil.


" Ya sudah habis sarapan sarapan pagi kita langsung siap-siap ya, Bum kamu kalau mau ke kantor ke kantor ajakin nanti ketemu sama mama dan papa di mall,kamu beresin dulu urusan kamu. Biar kamu tenang."


" Oke mah."

__ADS_1


Kanaya menoleh ke kanan dan ke kiri di meja makan hanya ada mereka berlima dia mencari sosok yang dari kemarin menemaninya dari Bandung hingga Jakarta.


" Zora ke mana ya Mah pah?" Tanyanya dengan penuh khawatir.


" oh Zora Sebelum kembali ke Bandung ia sedang menemui temannya."


"Temennya?siapa ya." Tanyakan Naya dengan heran sebab selama ini ia tidak pernah mengetahui jika corak mempunyai teman yang ada di Jakarta.


Karena khawatirnya Naya Langsung kembali ke kamar untuk menghubungi sahabatnya, tidak akan tenang jika belum mendapat kabar dari Zora sendiri.


" Halo Zo kamu di mana?" Tanyakan nanya begitu panggilan itu tersambung.


[" Halo Nay ini aku lagi di Blok M lagi di tempat temen aku. Jangan khawatir aku nggak akan lama kok habis itu langsung pulang. Kamu mau dibawain apa?'] Tanya Zora dari ujung telepon sana.


" Syukur deh aku khawatir tahu, aku nggak mau apa-apa coba kamu lagi di Blok M udah aja kamu diam dulu nanti kita nyusul. Kebetulan Mas Bumi juga mau ngajak kami "ke sana. Nggak apa-apa kan?"


"Ya nggak apa-apa sih aku malah senang kalau kalian mau datang ke sini nanti aku kenalin sama teman aku ya!"


'" oke." Setelah itu panggilan pun diakhiri. Kanaya segera kembali bergabung bersama keluarga besarnya di meja makan.


Pukul 11.00 siang semua anggota keluarga besar kecuali Bumi telah berada di Blok M Plaza. Mereka menunggu Bumi yang saat ini tengah berada di tempat parkir. Pria itu baru saja menyelesaikan urusannya bersama Doni di kantor.


Eza yang sudah tidak sabar ingin segera ke tempat playground lalu menyeret sang Bunda.


" Bunda ayo Eza pengen ke sana itu tempatnya bagus Bunda."


" sebentar Sayang Kan nungguin Ayah dulu sama Tante Zora Mereka lagi di jalan loh." Balas Naya dengan lembut dan mencoba memberi pengertian pada anak kecil itu.


" Yah lama nungguin mereka mah." Eza kali ini menampilkan mukaknya yang cemberut.


Kanaya hanya tersenyum Lalu setelah itu ia melihat dari kejauhan BUmi yang sedang mendekat tampak sedikit mengerutkan dahi, melihat Bumi yang sedang menerima telepon dari seseorang, entah iya pun tidak tahu. Yang jadi perhatiannya adalah muka datar Bumi dan tanpa ekspresi. Mengingatkan kanaya awal-awal mereka menikah dulu.

__ADS_1


Ada sedikit rasa takut ketika Bumi sudah benar-benar mendekat.


__ADS_2