
Tubuh Bumi bergetar dengan hebat, ia tidak percaya ada dua kolom yang telah terisi tanda tangan dirinya dan juga Kanaya.Siapa yang berani-beraninya melakukan ini.
"Tidak...ini tidak mungkin, aku gak pernah menceraikan dia.Tidak." ucapnya.
"Nay, kamu dimana sayang, jangan tinggalin Mas.Ini bukan tanda tanganku, jangan salah paham ya." Bumi panik, ia kembali mencari kesetiap sudut ruangan, di kolong ranjang dan toilet ia geledah berharap istrinya ada disana.
"Nay, jangan bikin Mas takut sayang, kamu dimana?" teriaknya lagi.Dimas yang baru saja tiba, memberitahu Bumi bahwa di sudut lain mereka tidak menemukan keberadaan Kanaya.
"Apa yang kamu bawa?" tanya Dimas saat melihat sesuatu ditangan Bumi.
Dengan tubuh gontai ia memberikan map itu pada Dimas,setelah itu ia duduk dengan lesu.
Karena rasa penasarannya yang besar Dimas segera membuka isi dalam map dan membacanya, ia sedikit mengerutkan dahi lalu menatap ke arah Bumi yang sedang terduduk dengan lesu.
"Kau yakin tidak menandatangani ini semua?' tanya Dimas penasaran.
"Aku bersumpah tidak pernah melakukannya."
"Lalu tanda tangan Naya?" ucap Dimas lagi.
"sepertinya ini direncankan oleh mereka untuk membuat Kanaya pergi darimu." lanjutnya.
Bumi mengangguk.
"Aku berpikir juga begitu,Kanaya tidak mungkin melakukan ini jika tidak di ancam oleh mereka."
"kau benar.Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Tentu saja aku akan membalas perbuatan mereka satu persatu dan yang paling penting mencari istriku tercinta."
Dimas menepuk Pelan bahu Bumi,"Bangkitlah, kita cari kembali istrimu."
Bumi dan Dimas mencari Kanaya sampai keluar Villa berharap wanita itu ada disana dan sedang bersembunyi, para polisipun ikut membantu,dan sebagian lagi kembali ke kantor untuk memproses Leo.Sedang Nesa,bagaimanapun juga Dimas adalah sepupunya dan ia tidak setega itu menyerahkan Nesa pada polisi.
__ADS_1
Dimas secara diam-diam telah mengirim Nesa ke rumah sakit jiwa, dia butuh disembuhkan disana.
Di sisi lain,
Kanaya sudah sampai di pelabuhan , ia melihat perahu komersil yang akan menyebrang ke muara Angke. Tak ingin tertangkap oleh Leo dan Nesa buru-buru ia masuk ke dalam perahu. Dari kejauhan terlihat juga Bumi yang baru saja sampai di sekitar pelabuhan, ia mencari sekita namun tak menemukan sosok istrinya. Tanpa mereka sadari keduanya berada dalam jarak yang dekat namun takdir belum mempertemukan keduanya.
***
Empat tahun berlalu,
Sebuah mobil BMW keluaran terbaru baru saja berhenti di depan gedung perkantoran yang tinggi menjulang, lalu keluarlah seoarng pria matang berpenampilan rapi lengakp dengan stelan jasnya tidak ketinggalan kacamata hitam yang selalu melekat menambah aura ketampannya, setiap orang yang melihatnya akan berhenti hanya sekedar menikmati keindahan makhluk Tuhan ini.
"Ting." Suara lift berhenti di depannya, setelah menunggu beberapa orang keluar dari ruangan sempit itu, pria itu kemudian masuk dan menekan tombol lantai 20.
Terlihat sebuah ruangan luas dengan konsep minimalis, di atas meja kerja yang tertata rapi terdapat bingkai foto seorang wanita yang tengah mencium sebuket bunga, ada juga foto pasangan dimana lelaki dan perempuan berpakaian pengantin tengah menjalankan prosesi ijab qobul.Yang menarik adalah sebuah pahatan papan nama yang terbuat dari kayu jati Jepara,sebuah nama yang terukir dengan indah. "Direktur Bumi Mahesa Erlangga."
"Ceklek." pintu terbuka, sang pemilik ruangan akhirnya tiba.Setelah melakukan perjalanan bisnisnya ke Padang, Bumi memutuskan untuk ke kantor dulu Sebelum kembali ke rumah.
Ya, empat tahun lalu hingga detik ini,Bumi tak pernah putus asa mencari keberadaan istrinya yang hilang bak ditelan Bumi. Ia sudah mencari keberbagaik kota di indonesia, namun belum ditemukan juga.
Di tengan pencariannya Bumi memilih resign dari tempatnya bekerja dan meneruskan usaha sang Papa, karena lelaki paruh baya itu sudah mulai terganggu kesehatannya.Usaha sampingan di bidang saham pun berjalan dengan sangat lancar, hingga makin menumpuklah pundi pundi rupiah di rekeningnya.
Namun, satu hal yang kurang dari dirinya saat ini yaitu ketidak hadiran istriya Kanaya,membuat kebahagiaanya belum sempurna.
"Sayang, kamu dimana? kenapa susah sekali mencari keberadaanmu." Bumi mengambil bingkai foto itu dan mengusapnya,seolah sedang bertanya pada Kanaya sendiri.
"Kring, kring.."Terdengar suara telepon.
Bumi segera menyimpan kembali bingkai itu pada tempatnya, lalu mengambil gagang telepon.
"Ia hallo."
"Suruh langsung naik keatas saja ya." Bumi kembali menyimpan gagang teleon itu pada tempatnya, baru saja ia sampai dari luar kota, sahabatnya sudah datang berkunjung.
__ADS_1
Sementara itu di lobby,
Seorang pria sedang berdiri di depan meja resepsionis, hari ini ia akan mengunjungi sahabatnya yang sudah lama tak ia jumpai, kebetulan saat ini ia sedang berada didaerah itu, jadi ia akan memutuskan untuk mampir.
"Pak anda diminta untuk langsung naik ke ruangan Pak Bumi,beliau sudah menunggu." ucap sang resepsionis setelah memutuskan panggilan dari atasannya.
''Oh baiklah, terimakasih ya." ucap Pria tersebut, ia kemudian berdiri di depan lift menunggu lift itu berhenti.
Suara ketukan pintu membuyarkan Bumi yang sedang memriksa beberapa berkas sebelum ia tandatangani,senyumnya langsung mengembang begitu sosok yang ia tunggu sejak tadi sudah masuk kedalam ruangannya.
"Hai Pak Dosen ada angin apa ni datang kemari?" Sapa Bumi pada teman yang beberapa tahun ini ikut membatu mencari keberadaan istrinya itu.
"Aku kebetulan sedang berkunjung kedaerah sini, lalu teringat dengan teman ku yang sekarang sudah menjadi Ceo di perusahaan besar, apa dia baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja, hanya saja..." Bumi tak melanjutkan kata-katanya, raut wajahnya sudah pasti bisa di tebak seperti pa
"Belum ada kabar terbaru darinya?"
"Belum,Naya benar-benar menghilang dari hadapanku, apa dia sangat percaya jika aku telah menceraikannya?" ucap Bumi sangat sedih.
"Aku yakin dia tidak semudah itu untuk percaya, aku rasa ada alasan lain yang membuatnya harus meninggalkanmu.Bersabaralah jika Tuhan sudah berkehendak, kalian akan segera di pertemukan diwaktu yang tepat."
Bumi menganguk dan tersenyum.
"Terimakasih untuk semua yang kau lakukan untukku,dan maafkan untuk semua kesalahanku yang dulu."
"Tidak perlu minta maaf justru harusnya aku, karena aku secara diam-diam membawa Nesa ke rumah sakit jiwa tanpa minta persetujuan darimu." Ucap Dimas menyesal.
"Tak masalah, toh wanita itu juga telah mendapatkan ganjaranya.
Ya, Dimas memang tidak main-main kala itu, ia langsung membawa Nesa ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan kejiwaan,Dimas memang menduga jika sepupunya itus edikit tidak waras.
Nesa berontak aplagi setelah dokter menganjurkan ia untuk dirawat disana.Hari- hari Nesa di lalui di rumah sakit jiwa, sampai ia melahirkan anaknya dan benar dugaan dokter bahwa bayi yang dilahirkan Nesa tidak seperti bayi pada umumnya.
__ADS_1