Jodoh Untuk Kanaya

Jodoh Untuk Kanaya
Bab 60 leo semakin menjadi


__ADS_3

Leo menggerutu kesal pada Kanaya yang dianggapnya tidak tahu terimakasih, padahal ia sedang membelanya kali ini, namun Kanaya terang-terangan seolah sedang mendukung Bumi yang mengekangnya. Padahal jika diterangkan memang tidak seperti itu kejadinya.Mungkin Leo masih terbawa dengan kehidupannya saat di California dulu, Dimana tidak ada batasan apapun, meski pria dan laki-laki sudah terikat pernikahan.


Sedang Kanaya yang memang dididik dengan sangat baik oleh orang tuanya, selalu memegang teguh pendirian, terlebih dia seorang istri.


Suasana makan malam berlangsung tegang karena perbincangan yang tak berfaidah ini. Bumi dengan cepat menyelesaikan makan malamnya karena sangat tidak mood berada di sana.


Begitupun dengan kanaya, yang tahu perasaan suaminya saat ini.


"Pah, Mah kami ke kamar dulu ya, mau lanjutin bikin cucu." ucap Bumi sambil melirik pada Kanaya yang sudah merona merah.Bu Nngsih dan Pak Arif hanya menanggapi dengan senyuman pada pasangan bucin ini. lalu beralih pada Leo yang sejak tadi menampilkan muka yang cemberut.


''Lain kali jangan bicara sembarangan Le, Kanaya benar, dia memang harus mendapat izin dari suaminya setiap dia mau bepergian, jadi kamu jangan sembarangan lagi atau seenaknya mengajak Kanaya kemanapun. Beruntung dia perempuan yang patuh pada saminya sendiri, Di luar sana banyak para istri yang dengan seenaknya melakukan sesuatu yang membuat para suami murka dan akhirnya perceraian tak bisa di hindari." ucap Bu Ningsih mencoba menasehati sang ponakan.


"Tapi di tempat tinggalku dulu gak seperti itu, Tan.Mereka enjoy aja tu, gaka kaya Kanaya dan Bumi yang lebay." ungkap Leo.


"Jaga bicaramu Leo disini masih menganut adat ketimuran, dan Kanaya adalah istri yang baik." tegur Pak Arif.


"Sudah pah, Le ayo lanjutkan makannya lagi. setelah itu kamu istirahat."


Namun, Leo sepertinya sudah kehilangan selera makan, maka tanpa permisi ia langsung pergi dari meja makan, meningglkan dua orang tua yang menatapnya dengan bingung.


"Anak itu dulunya terlalu di manjakan dan kakakmu juga tidak mengajari adab sopan santun, hingga dia tidak punya rasa hormat sekalipun dengan yang lebih tua." gerutu Pak Arif ksal. Bu Ningsih sebenrnya setuju denga ucapan suaminya namun ia hanya diam saja tidak menanggapi.


Di dalam kamar,


pasangan pasutri yang sedang bucin-bucinya ini ini tengah berdiri di balkon kamar sambil memandangi bintang-bintang yang bertaburan dengan indah, sambil bercanda dan membahas tentang masa depan.

__ADS_1


“Sayang, jujur sama Mas, memang selama ini kamu merasa terkekang di luar?” tanya Bumi yang sebenarnya sedikit tersinggung dengan ucapan dari leo tadi.


Kanaya menggeleng.


“Tidak Mas, Naya sama sekali gak keberatan ko seperti yang tadi Kanaya bilang, Mas adalah suami kanaya, jadi Naya wajib patuh dengan semua yang Mas katakan.”


“Tidak sayang, tidak seperti konsepnya, kamu bikin gemes Mas tau. Mas cuma khawatir akan ada Dimas-Dimas lain yang manfaatin kepolosan kamu, makanya Mas pengen kamu selalu pake cincin nikah karena mereka gak akan berani dekatin kamu karena mereka tahu kamu sudah ada pemiliknya.Salah ya jika Mas takut tentang itu?”


Kanaya kembali menggeleng.


“Udah ya Mas , jangan bahas itu lagi. Pokoknya Naya akan selalu patuh sama omongan Mas, karena Naya yakin itu yang terbaik untuk rumah tangga kita.”


Bumi tersenyum dan memeluk tubuh mungil itu.Gadis kecil yang dulu selalu ia asuh,sekarang menjadi teman hisupnya.


“Sayang, mulai sekarang Mas gak akan ngekang kamu di luar sana, kamu bebas bermain dengan siapa saja yang kamu suka, tapi ingat Naya harus tahu batasanya ok.Kamu boleh punya teman Laki-laki, Mas gak akan larang, dan jika kamu mau main ke luar Mas juga gak akan larang.”


“Bagus kalau begitu.”


“Sekarang Mas Bumi mau minta sesuatu boleh gak sayang?” tanya Bumi dengan seringai tipisnya.


“Mas mau apa?”


“Kita bikin dedek lagi yuk?”


Tanpa menunggu jawaban dari sang istri,Bumi langsung mencumbu bibir Naya, dan menggendongnya ke dalam kamar.

__ADS_1


Dari bawah,Leo mengepalkan kedua tangannya, melihat kemesraan yang di tunjukan Bumi dan Naya padanya. Entah mengapa ia sangat marah melihat pemandangan ini.Padahal dari awal Leo sudah tahu jika Kanaya dan Bumi adalah sepasang suami istri.


**


Keesokan harinya, Bumi berangkat lebih awal dari biasa, bahkan ia tidak bisa mengantar istrinya berangkat ke  kampus. Ia hanya berpesan pada Naya agar naik taksi saja, pagi ini ada rapat dadakan, dan mau tak mau ia harus ikut menghadirinya.


Hal ini tentu saja akan di manfaatkan oleh Leo, karena tidak akan ada gangguan nanti jika ia ingin mengobrol bersama Naya.


“Kita berangkat bareng saja Nay, kalau Mas Bumi lagi sibuk.”  ucap Leo ketika mereka sedang sarapan pagi. Kanaya hanya diam saja, ia sebenarnya merasa agak risih, apalagi setelah kejadian semalam.Namun Kanaya bingung cara menolaknya terlebih Leo adalah salah satu anggota keluarga di rumah ini.


“Ia Nay, bareng Leo aja sekalian.” sambung Bu Ningsih.


Meski enggan,akhirnya Kanaya meniyakan ajakan Leo untuk pergi bersama, karena merasa tidak  enak dengan sang ibu mertua. Ia pun telah mengirim pesan pada Bumi jika hari ini ia kan berangkat kuliah bersama Leo.


DI dalam mobil, Kaanya hanya diam saja menatap jalanan yang sudah mulai ramai dengan beragam aktifitas, sementara Leo bersiul-siul merasa senang karena wanita yang ditaksirnya kini bersama dengannya dalam satu mobil.


Nay, kok diam saja ngomong donk. Aku berasa kaya supir kamu deh.” ucap Leo.


Naya menoleh sejenak kemudian kembali menatap pinggir jalanan yang lumayan rame.


“Apa memangnya yang harus aku bicarakan aku tidak punya bahan.” jawabnya Naya.


“Eghhh Nay, kok kamu bisa nikah sama Mas Bumi sih, padahal dia kan lebih tua dari kamu, pasti kekuatan di ranjangnya gak sehebat yang seumuran dengan kamu, kamu gak kepengn apa dapetin yang lebih muda dari dia?” tanya Leo dengan frontal.


Seketika Kanaya melotot kearah Leo yang baginya sangat tidak sopan membahas masalah yang sangat sensitif begini.

__ADS_1


“Kamu jangan sembaranagn bicara Leo, kalau ada Mas Bumi denger ini pasti habis kamu di hajarnya. Satu hal yang pasti. Mengenai urusan ranjang itu menjadi rahasia kami, yang jelas dia menjalankan kewajiabnnya sebagai seoarang suami yang baik dan terlebih dia juga bisa menjadi imam yang baik. Tolong tepikan mobilnya, sepertinya keputusanku untuk bareng ke kampus sama kamu salah besar.” ucap Naya lagi dengan emosi yang ia tahan.


“Lo jangan gitu Nay, masih jauh lo perjalanan nanti kamu terlambat.Ok… aku minta maaf karena udah menyinggung hal pribadi sama kamu, aku cuma mau keluarin unek-unek aja ko.Maaf ya, udah jangan marah lagi, aku akan diam sekarang.” ucap Leo yang terus melajukan kendaraanya tanpa menuruti perinta Kanaya untuk berhenti.


__ADS_2