Jodoh Untuk Kanaya

Jodoh Untuk Kanaya
BAB 36


__ADS_3

Nada suara tinggi Bumi ternyata mampu membungkam mulut Kanaya agar tidak lagi mengeluarkan suara tentang Nesa muapun bayi yang katanya sedang di kandung wanita itu, Sungguh Bumi sudah sangat muak mendengar nama itu selalu disebut-sebut.


"Maafkan Mas, Nay. Bisakah sekarang kamu tidak usah lagi membahas wanita itu,Mas datang kesini hanya demi kamu dan bayi kita, Mas gak mau merusak moment ini,tolong!"


Mata Naya kembali berkaca-kaca, baru kali ini ia dibentak oleh sang suami, meskipun ia sadar semua memang salahnya.


"Maaf Mas, bukan maksud Naya seperti itu tapi..." Naya tak sanggup lagi menerusakan ucapannya saat menatap tatapan tajam dari sang suami mengarah pdanya.


"Mas tahu tidak mudah bagi kamu untuk mempercayai bahwa yang dibilang Nesa ataupun Dimas itu tidak benar,tapi Mas bersumpah Nay,seandainya memang Nesa sedang mengandung, demi nama Mama, kamu dan anak kita itu bukan benih Mas."


Kanaya mencari kebohongan di mata sang suami namun tak ia temukan, apakah ini artinya Dimas dan Nesa berbohong?


"Percaya sama suamimu sayang, Mas Bumi tak pernah berbohong sama kamu.Ia Mas akui pernah hilaf, namun Mas yain itu bukan benihku."

__ADS_1


walaupun itu hanya masa lalu, namun Kanaya merasakan hatinya sangat sakit saat mendengar jika sang suami pernah tidur dengan mantan kekasihnya, apakah harus sejauh itu hubungan mereka?


"Baiklah Mas, Naya percaya. Tapi Naya mohon setelah ini Mas Bumi tidak akan dingin lagi dan tidak akan mengabaikan Naya,Mas itu sangat menyakitkan.Naya harus berspekulasi sendiri dan rasanya tidak enak.Selalu menduga-duga sesutu yang entah itu benar atau tidak.


Bumi memeluk tubuh sang istri yang sudah bergetar hebat.."Maafkan Mas ya, janji Mas gak akan kaya gitu lagi.Mas janji akan jadi suami dan ayah yang baik untuk kamu dan bayi ini.'


Bumi mengusap perut rata sang istri,membuat Kanaya semakin keras menangis.


"Lho kok tambah kenceng nangisnya sayang, Mas bikin salah lagi? maaf yaf cup...cup."


"Oh sayang, kenapa pikiranmu sangat pendek sekali sich, Aku adalah jodoh yanag dipilih Mama untuk kamu, mana mungkin aku ninggalin kamu yang sudah jelas-jelas rela berkorban untukku.Maaf ya sudah bikin kamu salah paham,"


Pasangan suami istri itu saling berpelukan menumpahkan perasaan yang terpendam selama ini.

__ADS_1


Eyang Nur menatap haru pada keduanya, kini ia bisa tenang karena cucunya sudah bersama suaminya kembali,


"Yo wis Nduk, sekarang sudah malam, istirahat sana di kamar kalian,Eyang juga sudah mengantuk.Nay jangan lupa kuci pintu sebelum tidur ya. Eyang ke kamar dulu."


Eyang Nur langsung melangkah menuju kamarnya, sejak tadi sebenarnya ia sudah sangat mengantuk, namun karena ingin mendengar penjelasan tentang cucu menantunya ia mengurungkan niatnya untuk tidur lebih awal.


Kanaya kembali ke dalam kamar setelah memeriksa pintu dan jendela rumah. Ia menatap Bumi yang kini tengah duduk bersandar pada kepala ranjang.Ia bingung saat ini apakah dirinya akan ikut bergabung di ranjang yang sama dengan Bumi,atau lebih memilih menggelar tikar saja di bawah, tapi Naya sudah bisa membayangkan udara jogjakarta sangat dingin saat malam, ia yakin tubuhnya tidak akan kuat jika harus merasakan kedinginan bila tidur dibawah.


"Kenapa masih berdiri disitu? Ayo sini..Ayah mau menyapa dede." ucap Bumi seakan sedang ingin berbicara dengan bayinya.


Dengan ragu, Kanaya mulai mendekati ranjang itu dan menempatkan diri di sebelah sang suami.Bumi langsung merunduk mendekati perut rata Kanaya kemudaian menempelkan telinganya di sana,


"Hai nak..ini Ayah. Maafkan Ya kita baru bertemu hari ini, Bunda mau sembunyikan kamu nak dari Ayah. kejam sekali ya." ucap Bumi seakan berbicara dengan bayinya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2