
Eza benar-benar tidak membiarkan ayahnya pergi sejengkal pun dari sisinya kemanapun Bumi pergi ia akan selalu mengekorinya.
Bahkan saat pria itu ke kamar mandi anak lelaki itu selalu membuntutinya dan menunggu di luar pintu.
" Eza Ayah nggak akan kemana-mana kok jangan begitu nak, kasihan Ayah dibuntuti terus." Sahut Kanaya.
" tidak Bunda Eza takut ayah akan pergi, Eza nggak mau kehilangan ayah lagi bunda. Pokoknya Ayah nggak boleh pergi lagi.." jawab Esa dengan bersikeras.
Pintu kamar mandi terbuka Bumi baru saja membersihkan badannya setelah seharian penuh tak mandi.Iya senang ternyata putranya sangat takut kehilangan dia, Eza Kenapa berdiri di depan pintu kamar mandi nak?"tanya Bumi. Padahal Ia sangat tahu kenapa putranya itu menunggu di sana.
"Ayah hari ini bobo sama Eza kan? tanyanya kemudian.
" Iya sayang Ayah bobo sama Eza Kok." Jawab Bumi senang. Dengan ekor matanya ia melirik ke arah Kanaya istri kecilnya yang saat ini tengah bingung.Ya, bingung Akankah mereka Malam ini tidur bersama dalam satu ranjang?
" tapi sayang ngomong-ngomong kalau Ayah bobo sama Eza nanti bunda bobonya di mana dong kan cuman ada satu ranjang? Tanya Bumi sambil menyeringai licik kearah Kanaya.
Tentu saja perempuan itu merona merah mendengar godaan dari Bumi.
"Bunda bobo sama kita lah ayah." Jawab Eza dengan polosnya.
" kalau Bunda tidak mau bagaimana nak?" tanya Bumi lgi.
" Bunda pasti mau Ayah, kan Eza yang minta!"
" Iya kan Bunda nanti ayah bobo bareng sama kita kan?" Tanya Eza pada sang ibu.
" Bunda bukannya..."ucap Kanaya.
"Nggak mau pokoknya Ayah harus bobo sama kita." ucap Ezza lagi tidak ingin permintaanya di tolak. Dalam hati Bumi tertawa dengan riang.
'yess akhirnya langkahku menuju istriku terbuka lebar.'
Kanaya Hanya bisa menarik nafasnya panjang Iya tidak bisa menolak apa yang putranya inginkan. Akhirnya mau tidak mau ia menuruti apa yang Eza mau,untuk malam ini mungkin lebih baik Memang mereka tidur bersama karena ia juga tidak bisa menolak Eza karena ini kali pertama putranya bertemu dengan sang ayah.
Sebelumnya Kanaya sudah melaporkan kedatangan Bumi kepada ketua RT dan menyebut bahwa Bumi adalah suaminya. Ini bertujuan untuk mencegah para warga yang menduga yang aneh-aneh. Bukti mereka suami istri diperkuat dengan Surat nikah yang Bumi tunjukan pada ketua Rt. Ya pria itu memang selalu membawa kemana mana buku nikahnya.
__ADS_1
" kamu sekarang percaya kan Nay kalau kita masih sepasang suami istri pokoknya buku nikah kita masih ada." Kata Bumi saat mereka sudah tiba di rumah.
Kanaya tidak bicara banyak lagi, ia terlalu fokus memikirkan malam ini akan seperti apa mereka.
Hari sudah sangat larut malam Eza sudah tertidur pulas sejak pukul sembilan malam tadi,Akhirnya tinggal Kanaya dan Bumi yang masih terjaga.
Kebetulan malam ini Zora tidak bisa pulang ke rumah karena harus menjaga Ani di rumah sakit, jadi di rumah itu hanya tinggallah mereka bertiga Kanaya bumi dan juga Eza.
Bumi menatap langit-langit kamar Kanaya yang di cat dengan gerli.
" sudah sangat lama aku menunggu saat-saat seperti ini Nay."kata Bumi.
Kanaya yang tertidur di sebelah kanan Eza yang tertidur di tengah dan bumi yang tidur di sebelah kiri.
" Menunggu Seperti apa Mas? tanyakan Naya
Pria itu terkekeh Pelan mendengar pertanyaan sang istri. Apakah sepolos itu Kanaya atau memang pura-pura tidak tahu bahwa Bumi sangatlah merindukannya.
" Berada satu kamar dengan istriku tercinta ucap" Bumi kemudian.
" Mas Boleh saya tanyakan sesuatu?" Ucapnya dengan ragu.
" Tanyakan saja Nay apa?"
Bagaimana kehidupanmu setelah aku pergi?"
Bumi tertawa sinis pada dirinya sendiri.
"Kamu mau tau seperti apa kehidupanku saat kamu gak ada Nay?" tanya Bumi akhirnya.
Kanaya mengangguk.
''Hampa Nay, tubuhku seperti tak bernyawa."
Kanaya menatap suaminya dengan perasaan bersalah.Apakah memang seperti itu yang terjad, kenapa semuanya tak sesuai dengan dugaanya.
__ADS_1
"Kenapa Mas tidak menikah dengan Nesa, bukankah wanita itu sangat ingin mas menjadi suaminya?"
Lagi-lagi Bumi tertawa dengan sinis.
"Memang kamu mau aku poligami Nay?"
Kanaya menggeleng.
"Pertama aku tidak mencintai perempuan itu bahkan dari awal sekalipun.Mungkin aku menjalin hubungan dengannya juga karena kasihan karena dia terlalu gigih mengejarku.Kedua ,aku mencintai Istriku yang sedari kecil Kami tumbuh bersama . Dia istri yang sholehah wanita cantik lembut dan pintar. Sampai saat ini aku tidak bisa melupakan sosoknya dari pikiranku, meskipun pada kenyataannya sekarang dia begitu mengecewakanku dengan menolak pulang ke rumah kami."
Kanaya berkaca-kaca mendengar penuturan Bumi sungguh bukan maksud hatinya berbuat seperti itu ia hanya ingin melindungi Eza dari semua orang yang ingin berbuat jahat. Bagaimanapun dia hanya manusia biasa.
" Mas Maafkan aku bukan maksud aku untuk menolakmu hanya saja aku takut."ucapnya menunduk.
" Takut? apa yang kamu takut Kak Nay aku ada di samping kamu,melindungi mu dan juga Eza Tolong percayalah!"
Katanya hanya diam saja.
" Naya tolong beri aku kesempatan untuk bisa membuktikan bahwa aku adalah suami dan ayah yang baik untuk kalian. Tolong Nay ayo kita pulang kembali ke rumah kita jadi keluarga seutuhnya. Apa kamu tega membiarkan Eza hidup tanpa kasih sayang kedua orang tuanya? Padahal dia masih punya papa yang begitu menyayanginya."
" Tpi Mas aku aku benar-benar takut Mas."
" Buang rasa takut kamu Naya tolong pikirkan Eza pikirkan Mama dan Papa yang setiap hari selalu memikirkan kamu dan menunggumu. Tidakkah kamu merindukan mereka juga Nay? Dan aku yakin selama kamu bersembunyi di sini kamu nggak tahu kan kabar tentang Eyang Nur Seperti apa sekarang?"
Kanaya Kanaya tersentak Ia baru ingat bahwa dirinya punya seorang Eyang yang tinggal di Jogjakarta. Ya sudah sangat lama dia tidak mengetahui kabar tentang Eyang Nur Bagaimana keadaannya sekarang.
"Eyang tiga tahun lalu sempat jatuh sakit, beruntung waktu itu aku datang ke tempat eyang untuk mencarimu. Jadi aku bisa langsung membawa yang ke rumah sakit."
Kanaya mulai mengeluarkan air matanya ia sangat menyesal karena tidak memberi kabar pada Eyang Nur.
" aku tidak bisa membohongi Eyang Nur tentang masalah kita,Nay.waktu itu mungkin yang Nur juga sempat kepikiran Sampai akhirnya dia meninggal.''
" Apa! Eyang meninggal kapan Mas?" Kanaya sangat terkejut mendengar berita yang baru saja disampaikan oleh bumi.
"Setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit Aku membawa Eyang ke Jakarta untuk tinggal bersama kami karena aku tidak bisa meninggalkan Eyang sendirian di Jogja, tetapi bukannya membaik kesehatan Eyang justru semakin menambah memburuk karena Eyang selalu teringat kamu ,sampai akhirnya Eyang menghembuskan nafas terakhirnya di sana."
__ADS_1
" Ya Allah Eyang innalillahi wainnailaihi rojiun, maafkan Kanaya Naya bersalah."