
Bumi menghela napasnya panjang, melihat orang yang ada di depannya ini bena-benar membuat moodnya rusak,apalagi dengan terang-terangan orang itu ingin berbicara dengan istrinya.(' Apa maksudnya coba? ')pikirnya dalam hati
"Apa bisa saya bicara sebentar dengan Kanaya, ini urusan tentang kampus, karena saya masih dosennya bukan?"
Ya orang yang menghampiri Kanaya dan Bumi adalah Dimas, sepupu dari Nesa sekaligus dosen Kanaya di kampus.
"JIka ingin berbicara silakan disini saja,Kanaya sudah bersuami jadi silakan bicara di depan suaminya." Kata BUmi.
"Mas..." Naya mengingatkan suaminya agar bersikap sopan.
"Mas Izinin Naya buat bicara sebentar dengan Pak Dimas, Naya janji gak akan lama.OK." Kata Naya.
Bumi kembali mengambil napas, sejujurnya ia sangat kesal, karena sang istri yang mau-maunya seperti itu.
" Saya kasih waktu selama sepuluh menit, setelah itu mau tidak mau istri saya akan saya bawa pulang." kata Bumi akhirnya.
"Ok tidak masalah.Mari Nay!"
"Naya kesana sebentar ya Mas." pamit Naya
__ADS_1
"Hemm." jawab Bumi singkat.
Naya mengikuti langkah sang dosen ke kursi yang yang lebih privat, tujuannya mungkin agar obrolan mereka tidak didengar oleh siapapun.
"Silakan duduk Nay. Saya pesankan minum dulu ya." kata Dimas setelah mereka duduk berhadapan dalam satu meja.
''Tidak perlu Pak, terimakasih sebelumnya." jawab Naya.
"Silakan apa yang ingin anda sampaikan, saya tidak bisa meninggalkan suami saya sendirian disana." lanjutnya.
Dimas menatap Kanaya dari ujung kaki berakhir di perut bulat itu, Sejujurnya ada rasa nyeri dalam hatinya.Secara diam-diam Dimas telah menyukai Kanaya saat perempuan itu masuk ke kampus untuk pertama kalinya, ia sedang menunggu kesempatan untuk bisa berkenalan dengan Naya,
"Kamu gak menunda kehamilanmu dulu,Nay?" tanya Dimas.
"Maksud Pak Dimas?
"Kamu masih sangat muda untuk jadi seorang ibu, bahkan kuliahmu pun belum sampai satu semester . Umurmu masih belasan tahun lo. Sayang mass mudamu akan terenggut nantinya karena status istri dan ibu." ucap Dimas.
Kanaya mengerutkan dahi kenapa dosennya bisa berkata seperti itu," Sepertinya ini bukan urusan Pak Dimas, saya hamil atau tidak dan umur saya yang masih muda juga itu menjadi urusan saya dan suami saya, Anda tidak berhak untuk ikut campur." Ucap Naya.
__ADS_1
"Ia saya tahu, hanya saja sangat disayangkan. Karena setelah ini kamu gak bisa menikmati masa-masa muda kamu seperti layaknya orang-orang."
"Sebenarnya apa tujuan Pak Dimas mengajak saya bicara berdua? seperti perkataan saya tadi, ini bukan urusan Anda, saya hamil juga gak masalah kan ada suami saya." jawab Naya yang mulai kesal.
"Bumi tidak mencintai kamu,Nay. Dia hanya menjadikanmu pelarian saja akibat kekecewaanya karena di hianati Nesa. Tolong kamu sadar itu.Tinggalkan Bumi dia tidak layak untukmu!"
mendengar ucapan dari sang Dosen benar-benar membuat Naya geram.Ia lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Anda tidak berhak menuduh suami saya seperti itu Pak Dimas. seburuk apapaun dia tetap suami saya, mengenai masa lalunya dengan Mba Nesa, itu hanya masa lalu.Karena sekarang Mas Bumi adalah jodoh saya.Permisi Pak."
"Tunggu Nay, saya minta maaf jika sudah menyinggung perasaan kamu, duduklah dulu." cegah Dimas kemudian.
"Untuk apa Pak, untuk mendengar Pak Dimas berusaha memisahkan saya dan Mas Bumi dnegan cara mempengaruhi saya seperti waktu itu? jika ia saya sama sekali tidak akan terpengaruh lagi Pak.Permisi!"
"Tapi Nay, ada hal lain yang ingin saya sampaikan. " kata Dimas lagi.
"'Apa? "
"Saya cinta sama kamu."
__ADS_1
Bersambung