Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Tuduhan


__ADS_3

"Pa, ternyata Nathan bukan anak kandung mamanya. Dua orang kakaknya satu papa dengannya tapi beda ibu," lapor Nicholas pada papanya setelah dia kembali ke rumah utama.


"Jadi kecurigaan kita benar ya?"


"Belum tentu juga, karena saat aku bertanya, apa dia sudah bertemu dengan ibu kandungnya, dia jawab 'belum'!" jawab Nicholas.


Rehan menganggukkan kepalanya dan mengembuskan napasnya dengan keras.


"Emm, begitu ya? itu berarti Nathan bukan anak mamamu. Kalau iya, tidak mungkin dia berbohong kan?"


"Menurutku juga sih iya, Pa. Tidak mungkin juga seorang anak yang sudah belasan tahun tidak bertemu, tidak antusias bertemu mamanya," Nicholas membentuk dugaan papanya


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Renata kini sedang berada di sebuah taman yang dihiasi dengan warna-warni bunga, dan cahaya lampu. Gadis remaja itu, menatap kagum keindahan yang tersaji di depan matanya.


"Bagaimana? apa kamu suka dengan kejutan yang aku berikan ini?" tanya Roby yang sudah berdiri di sampingnya.


Ya, hari ini Renata memenuhi ajakan Roby untuk bertemu di sebuah taman, karena mereka berdua kembali menjalin kasih, dikarenakan Roby meminta maaf dan mengatakan kalau dirinya tidak benar-benar ingin putus dengan Renata. Renata yang bodoh karena masih mencintai Roby atau karena ada alasan lain, hanya gadis itulah yang tahu kenapa dia bisa menerima Roby kembali.


"Wah, tentu saja aku suka, Beb! apa semua ini kamu yang lakukan?" tanya Renata dengan wajah yang berbinar bahagia.


"Iya, dan ini semua khusus untuk kamu. Gadis yang bisa membuatku jatuh cinta," ucap Roby dengan rayuan mautnya.


"Emm, Beb ... kamu bisa aja deh!" Renata dengan manjanya bergelayut mesra di lengan Roby.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari berlalu begitu cepat. Tidak terasa pengumuman kelulusan sudah tiba. Raut wajah Nathan terlihat santai, tapi tidak dengan hatinya. Seandainya isi hati bisa dilihat dengan kasat mata, bisa dipastikan kalau jantung pemuda itu sekarang sedang berdetak tidak karuan.


Pengumuman kelulusan kali ini tidak ditempelkan di papan pengumuman, tapi akan diberikan dalam bentuk amplop dan harus ditemani oleh orang tua atau wali murid.

__ADS_1


Para siswa-siswi yang hendak melihat kelulusan terlihat datang ditemani oleh orang tua masing-masing, tapi tidak dengan Nathan. Pemuda itu terlihat datang sendiri dan juga duduk sendiri.


"Nathan! maaf kakak telat, tadi kakak harus ke kampus dulu!" tiba-tiba dan tidak disangka, Arsen muncul dengan napas yang tersengal-sengal.


"Kak Arsen? kenapa Kakak bisa ada di sini?" tanya Nathan benar-benar kaget.


"Lho, bukannya kamu hari ini lihat hasil kelulusan? ya, walaupun aku bukan papa, kan sebagai kakak, aku bisa jadi wali kamu," Arsen menepuk-nepuk pundak Nathan.


"Terima kasih, Kak!" ucap Nathan, tulus. Dari raut wajahnya, dia tidak bisa berbohong ada perasaan bahagia dengan kemunculan kakaknya itu.


Sedari tadi sudah banyak orang tua teman-temannya yang keluar dari ruangan kelas, dengan membawa amplop yang bisa dipastikan isinya lulus dan tidak lulus anak masing-masing. Dari wajah para orang tua itu terlihat berbinar pertanda kalau anak mereka dipastikan lulus.


"Nathan Alvaro Pramono!" nama Nathan akhirnya dipanggil oleh wali kelas dari dalam kelas.


Nathan akhirnya berdiri, disusul oleh Arsen. Kedua kakak beradik itu, melangkah masuk ke dalam kelas.


Dua orang, yang tidak lain adalah Roby dan Tania, menatap ke arah Nathan dengan tatapan merendahkan. Mereka berdua sangat yakin kalau Nathan hanya akan lulus dengan nilai seadanya.


Sementara itu Nathan di dalam sana sudah dipersilahkan duduk oleh sang wali kelas. Sedangkan Arsen langsung menyapa wali kelas Nathan yang dulu juga pernah menjadi wali kelasnya.


"Mama sedang sibuk, Bu. Kak Angga juga sibuk, jadi beliau memintaku untuk mewakili mereka berdua," jawab Arsen, sopan.


"Oh, begitu. Aku kira tidak akan ada yang datang untuk mengambil surat pemberitahuan kelulusan ini,"


"Kenapa,Ibu berpikir seperti itu?" tanya Arsen dengan kening berkerut dan raut wajah tidak suka.


"Karena, aku pikir kalian semua sudah menyerah dan pasrah, kalau Nathan tidak lulus,"


"Kenapa, Ibu bisa berbicara seperti itu? apa Ibu mau bilang kalau adikku ini tidak lulus?" Arsen mulai panik. Sementara itu, Nathan masih berusaha untuk terlihat tenang, walaupun sebenarnya pemuda itu juga sudah panik.


"Bukan seperti itu Nak Arsen. Emm, Ibu cuma berpikir seperti itu awalnya, tapi pada kenyataannya Nathan lulus kok," sahut Ibu guru itu dengan lugas.

__ADS_1


Tanpa sadar Nathan menghela napas lega demikian juga dengan Arsen.


"Kalau begitu, terima kasih, Bu!" apa kami sudah bisa keluar?" tanya Arsen dengan sopan.


"Kenapa Nak Arsen tidak tanya nilainya?" apa kamu tidak peduli nilai yang didapatkan oleh Nathan?" Guru itu mengrenyitkan keningnya.


"Aku tidak peduli berapapun nilai yang didapatkan oleh adikku. Baik atau buruk sama sekali tidak masalah bagiku, karena itulah kemampuannya," jawab Arsen, bijaksana. "Sekarang apa kami sudah boleh keluar, Bu?" Arsen kembali mengulangi pertanyaannya.


"Boleh, Nak Arsen! tapi kalau boleh Nathan jangan pulang dulu ya, ada sesuatu yang harus ibu tanyakan padamu, tapi tunggu ibu selesai membagikan semua surat-surat ini,"


"Kenapa tidak sekarang aja tanyanya,Bu?" Arsen mengreyitkan keningnya.


"Maaf,Nak Arsen. Kalau ditanyakan sekarang akan membuat orang tua dan murid-murid, di luar sana lama menunggu," jawab guru itu dengan lugas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ruangan kelas kini tinggal Roby, Tania dan papa kedua orang itu, beserta Nathan dan Arsen. Entah apa maksud wali kelas itu mengumpulkan mereka bertiga di dalam kelas itu.


"Pak, Bu, dengan berat hati aku mau mengatakan kalau Tania lulus dengan nilai terendah. Karena itulah __"


"Apa? nilai terendah! bagaimana bisa, Bu? apa ada pihak yang memanipulasi hasil ujiannya?" suara papanya Tania menggelegar memenuhi ruangan itu. Sementara itu, mata Tania membesar dengan sempurna kaget mendengar ucapan wali kelas itu.


"Sabar dulu, Pak! karena itulah aku mengumpulkan kalian di sini." Kemudian, guru itu mengalihkan tatapannya ke arah Roby dan kedua orangtuanya. "Untuk Roby juga, Ibu sangat kecewa, karena nilai-nilaimu juga sangat jauh dari ekspektasi. Aku bingung kenapa bisa jadi seperti itu,"


Reaksi orang tua Roby tidak jauh beda dari reaksi orang tua Tania. Merasa benar-benar tidak menyangka kalau putra mereka yang terkenal pintar,bisa mendapat nilai buruk.


Ibu guru itu kemudian kembali menatap Nathan dengan tatapan yang mengandung kecurigaan.


"Nathan, ibu bingung kenapa kamu bisa mendapatkan nilai yang sangat tinggi, bahkan mendekati nyaris sempurna? apa rendahnya nilai-nilai ujian akhir Roby dan Tania, adalah ulah kamu? apa kamu menukar jawaban salah satu dari mereka ,dengan kertas jawaban milikmu?" tukas guru itu, menuduh Nathan.


"Bagaimana Ibu bisa menuduhku seperti itu? aku memang tidak pernah berprestasi seperti mereka, tapi, setidaknya aku tidak punya niat melakukan hal hina seperti itu," sahut Nathan, tegas.

__ADS_1


"Bu, aku tahu adikku sendiri! dia tidak mungkin melakukan hal itu. Jadi, Ibu jangan sembarang Menuduh! ucap Arsen dengan nada yang masih berusaha menahan amarahnya.


Tbc


__ADS_2