Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Kecurigaan Nicholas


__ADS_3

"Lepaskan, Pak! sakit!" rintih Anisa.


Nicholas tidak mengindahkan rintihan Anisa. Pria itu mendorong paksa tubuh Anisa masuk ke dalam ruangannya dan menutup pintu kembali.


"Jadi, apa kamu memiliki maksud tertentu mendekati Renata?" tanya Nicholas dengan tatapan yang sangat dingin.


"Maksud Bapak apa? aku bahkan baru tahu kalau ternyata Renata dan Nathan ada hubungan dan saling mencintai. Tapi, sumpah demi apapun, aku benar-benar tidak ada niat untuk merebut Nathan dari Renata. Justru kamulah yang memiliki niat untuk menghancurkan hubungan mereka," Anisa terlihat tidak gentar dengan tatapan Nicholas. Wanita itu justru membalas tatapan pria di depannya itu.


"Sejak kapan kamu mengenal Nathan?" Nicholas kembali menyelidik.


"Sudah sangat lama. Dia kebetulan hanya menolongku dari kejaran beberapa preman. Aku merasa dia sangat baik, sehingga tanpa sadar aku jatuh cinta padanya. Hari itu adalah pertemuan pertamaku dan terakhir dengannya. Aku sudah lama mencarinya, tapi tidak pernah berhasil. Mungkin hanya aku yang tahu namanya, tapi tidak dengan dia. Karena saat itu, hanya aku yang menanyakan namanya dan dia sama sekali tidak menanyakan namaku," kenang Anisa dengan raut wajah sendu. "Tapi, sumpah demi apapun, walaupun aku menyukainya, aku sama sekali tidak berniat untuk merebutnya dari Renata," lanjutnya kembali.


Nicholas diam, dan memicingkan matanya. Pria itu menelisik wajah Anisa untuk memastikan apakah ucapan wanita di depannya itu jujur dalam hati atau bohong.


"Awalnya tadi malam aku memang berniat untuk merebut Nathan, karena merasa kecewa dengan Renata. Dia sudah sudah cukup lama berbohong padaku mengenai siapa dia sebenarnya. Dia menutupi statusnya yang ternyata putri seorang pengusaha, tapi setelah aku pikir-pikir, tidak ada gunanya sama sekali aku membalas dengan cara licik seperti itu," lanjut Anisa kembali, karena melihat raut wajah Nicholas yang sepertinya belum sepenuhnya percaya padanya.


"Oh, jadi kamu sudah tahu identitas Renata sebenarnya? Kamu tahu darimana? apa kamu mencari tahu sendiri?" Nicholas terlihat semakin curiga. Dia mengira kalau perempuan di depannya itu, hanya sedang berpura-pura tidak mau bergaul dengan orang kaya, sebagai pencitraan kalau dirinya baik dan tidak gila harta.


"Aku tahu dari seorang laki-laki yang bernama Roby. Aku bertemu dengan dia kemarin di sebuah kafe tempatku bekerja sampingan. Dia mengatakan kalau dia mengenal Renata dengan sangat baik. Awalnya aku tidak percaya, tapi dia menunjukkan bukti berupa photo Renata dengan keluarganya," jelas Anisa.


Nicholas memicingkan matanya, mencoba mengingat nama pria yang baru saja disebut oleh Anisa. Pria itu tiba-tiba tersenyum smirk begitu mengingat nama pria yang disebutkan oleh gadis di depannya itu.


"Roby ya? aku ingat siapa pria itu." ucap Nicholas dengan tersenyum sinis.

__ADS_1


Kemudian, Nicholas menceritakan pada Anisa, siapa Roby sebenarnya, pria yang pernah dekat dengan Renata, karena memiliki maksud dan tujuan untuk memanfaatkan kekayaan gadis itu. Tidak lupa, juga Nicholas menceritakan kalau Roby bekerja sama dengan sahabat Renata yang ternyata memiliki niat yang sama dengan Roby. Nicholas tentu saja menceritakan semuanya sesuai dengan apa yang dia dengar dari cerita Renata ketika hubungan mereka masih baik-baik saja dulu, atau ketika gadis itu masih duduk di bangku SMA.


"Itulah alasan, kenapa Renata selalu menyembunyikan statusnya. Dia tidak mau ada orang lain yang mau berteman dengannya hanya karena memandang hartanya," jelas Nicholas panjang lebar.


"Kenapa kisah dia hampir mirip denganku? asal kamu tahu, aku juga pernah memiliki seorang kekasih dan teman-teman di SMA yang merupakan anak-anak orang kaya. Aku mengira mereka semua tulus, ternyata mereka hanya memanfaatkan kepintaranku saja. Mereka membuangku bahkan menghinaku ketika mereka semua sudah lulus dengan nilai yang bagus. Mereka mengatakan kalau aku tidak layak beeteman dengan mereka karena tidak selevel. Mereka mengatakan, kalau aku cocoknya berteman dengan para anak jalanan, dan yang ekonominya tidak jauh beda denganku. Mulai dari saat itulah, aku menjaga jarak dengan orang-orang kaya," jelas Anisa panjang lebar,. tidak sadar merasa nyaman menceritakan pengalamannya dulu.


Sudut bibir Nicholas tiba-tiba naik sedikit ke atas, membentuk sebuah senyuman misterius.


"Anisa bagaimana kalau aku menawarkan sebuah kerja sama denganmu?" ucap Nicholas yang terasa ambigu bagi Anisa.


"Kerja sama? kerja sama apa?" alis Anisa bertaut tajam.


"Bagaimana kalau kita bekerja sama untuk mendapatkan orang yang kita cintai. Kamu mendekati Nathan, agar aku bisa tetap bersama dengan Renata,"


"Bagaimana kalau aku menawarkan, akan menjadikan kamu karyawan tetap selepas kamu lulus kuliah, memiliki jabatan dan gaji yang sangat tinggi?" Nathan kembali memberikan penawaran yang sangat menggiurkan.


Anisa bergeming, merasa bimbang. Penawaran yang diberikan Nicholas benar-benar sangat mengiurkan dan merupakan impiannya yang ingin mengubah hidupnya dan keluarganya menjadi lebih baik.


Wanita itu terlihat menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya kembali ke udara dan memejamkan mata sekilas. Kemudian, wanita itu kembali menatap Nicholas dengan tatapan yang sukar untuk dibaca.


"Maaf, aku tetap tidak mau! apapun yang Bapak tawarkan aku tidak mau," akhirnya, kembali Anisa menolak dengan tegas dan mantap.


"Apa kamu benar-benar sudah berpikir matang-matang untuk menolak? Kalau kamu menolak, aku bisa saja membuat namamu masuk dalam daftar hitam. Sehingga tidak akan ada yang mau menerima kamu bekerja di manapun,"

__ADS_1


Anisa bergeming. Benar-benar merasa dilema. Dia tidak menyangka kalau pria di depannya yang katanya baik dan bijaksana itu bisa berbuat licik seperti itu.


"Bagaimana? kamu menerima tawaranku dengan berbagai keuntungan atau tetap menolak dengan konsekuensi yang sangat berat?"


"Aku tidak menyangka, kalau Bapak bisa selicik ini, yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang Bapak mau. Tapi, maaf Pak, aku memilih untuk tetap menolak. Karena aku tahu, kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan yang sempurna, di atas penderitaan orang lain. Seumur hidup kita akan merasa bersalah, melihat orang yang kita cintai tidak bahagia dengan kita. Satu hal yang aku percaya, kalaupun Bapak membuatku tidak bisa bekerja di manapun, Tuhan tidak akan pernah menutup rejekiku, selagi aku masih tetap berusaha. Mungkin, bukan rejekiku untuk memiliki sebuah jabatan, seperti yang aku impikan, tapi aku percaya, Tuhan sudah menyiapkan yang lebih baik untukku di bidang lain. Karena rejeki setiap individu itu berbeda. Untuk apa, kita memiliki materi yang berlimpah, tapi kita peroleh dari mengorbankan kebahagiaan orang lain? Itu sama sekali tidak akan berkah, Pak Nicholas,"


Nicholas tercenung mendengar untaian kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut Anisa. Dia tidak menyangka, kalau gadis di depannya itu, bisa mengeluarkan kata-kata sebijak itu.


"Maaf, Pak Nicholas. Sepertinya hari ini hari terakhir aku magang di kantor Bapak. Aku memutuskan untuk berhenti," pungkas Anisa sembari memutar tubuhnya dan mengayunkan kakinya.


"Tunggu, Anisa!" langkah Anisa sontak terhenti, karena tangan Nicholas yang tiba-tiba memegang tangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, setelah menempuh waktu lebih kurang 16 jam, pesawat yang membawa Renata mendarat dengan selamat di London Heathrow airport.


Renata terlihat turun dari dalam pesawat dan tersenyum bahagia.


"Welcome London! See you soon, Nathan!" gumam Renata dengan wajah yang berbinar.


"Emm, tapi bagaimana aku bisa menghubunginya? aku sama sekali tidak memiliki alamatnya, dan handphoneku tertinggal. Apa yang harus aku lakukan sekarang? nomor Dava dan Bastian juga aku tidak hapal sama sekali," raut wajah Renata seketika berubah sedih.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2