
Kegaduhan terjadi di kediaman Rajendra, bagaimana tidak, pria itu menemukan sepucuk surat yang ditinggalkan oleh putri semata wayangnya, Renata.
Dalam surat itu, Renata mengatakan kalau dirinya memutuskan pergi ke London untuk menyusul Nathan. Rajendra dengan sigap merogoh saku celananya dan menghubungi anak buahnya.
"Kalian pergi ke bandara cepat! cari Renata dan bawa dia pulang sebelum dia benar-benar pergi ke London!" titah Rajendra dan langsung memutuskan panggilan secara sepihak lalu melangkah keluar dari kamar putrinya itu.
"Kamu mau kemana?" cegat Lina istri Rajendra.
"Aku mau ke bandara, untuk mencegah Renata pergi,"
"Kalau kamu masih berniat untuk pergi, jangan harap kamu akan bisa bertemu denganku lagi nanti!"
Rajendra sontak menghentikan langkahnya, begitu mendengar ucapan yang terlontar dari mulut istrinya. Pria itu kemudian berbalik, menatap Lina dengan alis bertaut.
"Apa maksudmu? jangan bilang kalau kamu kerja sama dengan Renata." tukas Rajendra dengan tatapan curiga.
"Kalau iya, kenapa? aku tidak mau kehidupan putriku selalu kamu batasi. Aku tahu dia putrimu, tapi asal kamu tahu, dia juga putriku dan aku ingin melihat putriku bahagia dengan pilihannya," tutur Lina dengan tegas.
"Sayang, kamu itu tidak mengerti apa-apa! semua yang kulakukan hanya demi kebaikan Renata ke depan," ucap Rajendra.
"Kebahagiaan yang kamu inginkan belum tentu bisa membuat Renata bahagia. Biarlah dia raih kebahagiaannya. Yang perlu kita lakukan hanyalah mendukungnya. Coba kamu pikirkan, putrimu itu sudah bertunangan selama 3 tahun lebih dengan Nicholas, tapi rasa cinta Renata tetap saja untuk Nathan. Seharusnya, kamu sadar akan hal itu," ucap Lina dengan lugas dan tegas.
"Ma, sekali lagi aku mau bilang, kalau kamu sama sekali tidak mengerti apa-apa. Aku ... ah sudahlah! pokoknya aku mau menyusulnya ke bandara. Aku pergi dulu!"
"Sekali kamu langkahkan kakimu keluar,aku tidak main-main dengan ucapanku tadi. Dengan segera, aku akan meninggalkan rumah ini juga," lagi-lagi Lina mengancam.
Rajendra yang nyaris melangkah pergi, kembali menyurutkan langkahnya.
"Dan lagi, Pa. Aku mau kamu menghubungi kembali anak buahmu dan minta mereka untuk kembali ke tempat mereka masing-masing!" titah Lina kembali dengan tatapan yang sangat tajam, bak pisau belati yang siap menghujam jantung.
__ADS_1
Rajendra menghela napasnya dengan panjang dan berat. Satu-satunya orang setelah almarhum ibunya, yang tidak bisa membuat dirinya berkutik adalah Lina istrinya. Ya, pria setengah baya yang selalu terlihat tegas itu, ternyata termasuk suami-suami takut istri. Sebenarnya tidak bisa didefinisikan dengan kata takut sih, tapi lebih ke arah sangat mencintai istrinya.
"Baiklah!" ucap Rajendra, sembari masuk kembali ke dalam kamar Renata.
"Kenapa kamu malah duduk di ranjang itu? bukannya aku memintamu untuk menghubungi anak buahmu?"
"Astaga, dia masih ingat! aku kira kalau aku masuk, dia sudah tenang," ucap Rajendra yang tentunya hanya berani dia ucapkan dalam hati saja.
Rajendra kemudian kembali merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya dan melakukan sesuai permintaan istrinya.
"Sayang, tapi bagaimana dengan magangnya Renata? walaupun dia magang di perusahaan kita, tapi dia tetap harus mengikuti prosedurnya. Jangan mentang-mentang, dia anak pemilik perusahaan, sesuka hatinya untuk datang dan pergi," Rajendra masih berusaha mencoba merubah pikiran istrinya untuk mencegah Renata pergi, menggunakan alasan magang Renata.
"Kamu itu pemilik perusahaan! aku rasa tidak akan ada yang keberatan kalau Renata tidak masuk untuk sementara. Lagian, aku yakin tidak akan ada karyawanmu yang berani memberikan nilai yang buruk pada putri pemilik perusahaan," ucap Lina dengan santai, membuat Rajendra mengembuskan napas pasrah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Renata kini sudah berada di dalam pesawat yang dalam hitungan menit, akan segera terbang menuju London.
Ya, begitu mendengar dari Bastian apa yang menimpa sang kekasih, dan tahu kondisi Nathan sekarang, tidak serta merta membuat perasaan Renata berubah. Justru gadis itu berniat untuk menyusul dan memberikan dukungan buat sang kekasih.
Tidak menunggu lama lagi, tiba-tiba terdengar pengumuman kalau pesawat akan segera terbang, dan para penumpang diminta untuk menonaktifkan handphone atau mengubah ke mode pesawat untuk mencegah bahaya. Kenapa bisa berbahaya? itu karena Handphone mengganggu sistem Navigasi sehingga HP dapat memancarkan gelombang elektromagnetik. Pancaran gelombang tersebut akan menimbulkan bunyi yang mengganggu komunikasi pilot melalui headphones dengan ground control yang mengatur lalu lintas udara. Pilot akan mengalami gangguan untuk berkomunikasi dengan pihak pengawas lalu lintas udara.
Renata dengan cepat merogoh tasnya untuk mengambil handphone. Namun, gadis itu sama sekali tidak menemukan benda yang dia cari. Renata mencoba mencari kembali tapi hasilnya tetap nihil.
Tiba-tiba gadis itu menepuk jidatnya, begitu mengingat kalau tadi sebelum berangkat, dia meletakkan ponselnya di atas nakas dekat dengan ranjangnya. Namun, karena terburu-buru dia lupa untuk mengambil handphone itu.
"Aduh, mati aku! bagaimana aku bisa menghubungi Nathan, maupun Bastian dan Dava kalau ponselku tertinggal? mana aku tidak hapal nomor mereka lagi. Bodoh banget sih aku!" Renata merutuki kebodohannya sendiri.
"Bagaimana ini? tidak mungkin aku keluar dari pesawat ini," batin Renata lagi, bersamaan dengan mulai bergeraknya pesawat. Itu berarti pesawat akan take off.
__ADS_1
"Ya udahlah! bagaimana nantinya,aku serahkan semua pada Tuhan!" batin Renata pasrah.
Sementara itu, kembali ke kediaman Rajendra, terlihat wajah panik dari pria setengah baya itu. Bukan karena tidak diizinkan menyusul sang putri, tapi karena menemukan masalah baru di mana dia melihat ponsel putrinya yang tertinggal. Itupun karena ponsel putrinya itu berbunyi karena gadis bernama Anisa menghubungi putrinya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lampu yang berada di atas pintu ruang operasi, terlihat sudah padam, pertanda proses transplantasi kornea mata untuk Nathan sudah selesai.
Semua orang yang berada di depan ruangan itu seketika berdiri dari kursi masing-masing, dan menghambur ke depan pintu. Terlihat wajah mereka sudah tidak sabar untuk mengetahui hasil operasi Nathan.
Tidak menunggu beberapa lama, pintu yang menjadi penghalang itu pun terbuka dan memunculkan dokter yang menangani operasi Nathan.
"Bagaimana, Dok? apa operasinya berjalan lancar?" tanya Naura, tidak sabar.
"Sabar dulu, Nyonya! untuk operasinya memang berjalan lancar, tapi untuk mengetahui tingkat keberhasilannya, kita akan tahu begitu perbannya dibuka. Untuk sekarang, Tuan Nathan masih belum sadar." terang dokter itu dengan lugas dan tentu saja tidak lupa untuk tersenyum.
"Begitu ya, Dok? baiklah kalau begitu! kami akan menunggu," Rehan buka suara.
"Kalau begitu, aku permisi dulu ya, Tuan Nyonya!"
"Tunggu dulu, Dok! aku mau tanya apa yang mendonorkan kornea matanya pada Nathan ada di dalam?"
Dokter yang nyaris melangkah itu, seketika menghentikan langkahnya begitu mendengar pertanyaan Naura.
"Tidak sama sekali, Nyonya! karena kami __"
"Tan, kalau mau bertanya, tanya sama dia!" Dava dengan cepat menyela sembari menunjuk ke arah seorang pria.
Naura dan yang lainnya, sontak menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Dava. Mata Naura seketika membesar dengan sempurna, demikian juga dengan Rehan dan Nurdin.
__ADS_1
"A-Arsen!" gumam Naura di sela-sela rasa kagetnya.
Tbc