
Hari berganti hari, tidak terasa hari ini adalah hari di mana diadakannya pameran lukisan di galeri milik Nurdin. Banyak lukisan yang dipamerkan di dalam galeri itu termasuk milik Nathan.
Galeri itu kini mulai ramai didatangi oleh pengunjung pecinta lukisan-lukisan, yang pastinya kebanyakan konglomerat di Negara Inggris itu.
"Wah, lukisan ini sangat bagus dan sepertinya memiliki makna yang sangat dalam!" seru seorang pengunjung pria,mengagumi sembah lukisan seorang pria yang duduk menyindiri di atas sebuah bukit berawan, dan dikelilingi banyak lembah yang curam di sekelilingnya. Tangan pria dalam lukisan itu dan mengangkat tangan ke atas, seperti ingin menggapai langit.
Mendengar seruan pria itu, beberapa orang langsung berkerumun dan membenarkan ucapan pria itu.
"Siapa pelukisnya ini? aku mau bertanya berapa harganya, karena aku mau memilikinya," ucap pria itu lagi.
"Aku juga mau!" ucap beberapa orang lagi.
"Aku sudah lebih dulu menginginkannya. Sebaiknya kalian cari yang lain saja! masih banyak lukisan yang bagus dan sarat akan makna di sini. Aku benar-benar tertarik dengan lukisan ini dan tidak boleh ada yang memilikinya kecuali aku," ucap pria itu dengan tegas. Sepertinya pria itu termasuk orang yang berpengaruh, buktinya orang-orang yang juga menginginkan lukisan itu terlihat ciut dan menyingkir satu per satu.
Kemudian pria itu terlihat berbicara dengan seorang wanita yang merupakan pemandu dari pameran itu, yang bertugas untuk menerangkan makna dari lukisan.
"Kalau boleh tahu siapa pelukis lukisan ini?" tanya pria itu dengan gaya formalnya.
"Pelukisnya masih sangat muda, dan datang dari negara yang sama seperti Pak Nurdin, Tuan. Namanya Alexander. Dia belum lama di negara ini, dan suka melukis keliling,"
Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar keterangan pemandu wanita itu.
"Kalau begitu, apa Nona tahu makna dari lukisan ini?"
"Hallo Mr, Dawson! apa kabar?" belum sempat pemandu wanita itu menjawab pertanyaan pria yang ternyata bernama Albert Dawson itu, tiba-tiba muncul seorang pria dan menyapa Albert. Di belakang pria yang baru saja muncul itu, tampak ada Nathan.
"Hei, Tuan Nurdin! seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Dan sepertinya anda juga baik-baik saja," sahut Albert tersenyum sembari menjabat tangan Nurdin.
"Ya, anda benar! aku memang baik-baik saja!" jawab Nurdin sembari tetap membiarkan senyumnya bertengger di bibirnya.
"Bagaimana, Tuan Dawson? apa ada yang menarik perhatianmu?" lanjut Nurdin kembaly bertanya.
"Seperti biasa, Tuan Nurdin. Aku selalu suka dengan semua lukisan yang dipamerkan di galeri seni kamu ini. Makanya setiap anda mengadakan pameran, aku akan pastikan kalau aku pasti hadir," Albert terkekeh ringan.
"Oh ya, aku memang suka semua lukisan yang dipamerkan tapi entah kenapa lukisan yang ini, membuatku sangat tertarik untuk memilikinya." Apa aku bisa bertemu dengan pelukisnya?"
__ADS_1
"Kebetulan sekali. Pelukisnya ada di sini, Tuan Dawson. Ini dia orangnya," Nurdin meminta Nathan untuk maju dan memperkenalkan dirinya.
"Alex!" Nathan menyebutkan namanya sembari menjabat tangan Albert.
"Albert Dawson!" pria itu juga menyebutkan namanya. "Ternyata kamu masih sangat muda, tapi kami sudah bisa sehebat ini, menghasilkan sebuah karya sangat bernilai seperti ini,", Albert memuji sembari menunjuk ke arah lukisan Nathan.
"Terima kasih, Tuan Dawson! tapi, aku tidak sehebat itu!" Nathan merendahkan dirinya.
Albert Dawson tersenyum penuh makna dan menatap kagum pada Nathan. Menurutnya pemuda di depannya itu, tidak angkuh dan rendah hati.
"Kamu jangan terlalu merendah, Alex. Lukisan ini, seperti dilukis oleh tangan seorang yang sudah memiliki jam terbang yang banyak. Aku tidak menyangka kalau ternyata pelukisnya masih sangat muda. Kalau boleh tahu, apa makna dari lukisan ini?"
"Ini judulnya, kan kukejar mimpi. Seperti judulnya, ini bermakna seorang pria yang ingin mengejar impiannya sampai bisa menggapai langit walaupun banyak rintangan yang dilaluinya. Rintangan itu, ditunjukkan dengan adanya jurang-jurang terjal yang mengelilinginya Tuan. Tapi, dengan perjuangan yang gigih, pria itu berhasil sampai ke puncak hingga mencapai awan." terang Nathan dengan jelas.
Albert mengangguk-anggukan kepalanya, dan semakin kagum mendengar penjelasan Nathan.
"Aku sangat tertarik dengan lukisan ini. Aku mau membelinya berapapun harga yang kalian ajukan," ucap Albert Dawson yang membuat Nathan terkesiap kaget. Nathan benar-benar tidak mengira kalau lukisannya dihargai dengan harga mahal.
Tiba-tiba terdengar ponsel berbunyi yang berasal dari dalam saku Nurdin.
"Maaf, Tuan Dawson, Nathan, kalian lanjutkan dulu pembicaraannya, aku mau angkat panggilan dulu!" ucap Nurdin yang menjauh sedikit setelah Albert dan Nathan mengangguk, mengiyakan.
"Hei, apa kabar kalian di sana?" sapa Nurdin sembari menerbitkan seulas senyum di bibirnya.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu, Kek," protes Nicholas memasang wajah manyunnya.
"Sudahlah! seperti yang kamu lihat kakek baik-baik saja dan kakek rasa kalau kalian juga baik-baik saja kan?"
"Exactly, Kek!" sahut Nicholas dengan semangat.
"Kenapa kamu menghubungi kakek? apa ada hal yang penting?" tanya Nurdin menghentikan basa-basinya.
"Tidak sih, Kek. Aku cuma mau bertanya tentang pameran di galeri Kakek. Apa semuanya berjalan lancar, Kek?"
"Tentu saja! apa kamu pernah mendengar kalau pameran lukisan di galeriku pernah gagal? tidak kan?" sahut Nurdin, yang kalau didengar, berkata dengan sombong atau angkuh.
"Tidak sih, Kek. Kakek memang hebat! puji Nicholas, jujur.
"Apa pengunjungnya ramai, Kek?"
__ADS_1
" Ya, lumayan ramai. Nih, coba kamu lihat!" Nurdin menjauhkan wajahnya dari layar handphone dan mengarahkannya ke segala penjuru untuk menunjukkan para pengunjung.
"Kakek, tolong stop dulu!" pekik Nicholas tiba-tiba.
"Ada apa?" Nurdin mengrenyitkan keningnya.
"Coba arahkan handphone kakek pada dua orang di belakang Kakek!"
Nurdin melakukan hal seperti yang diminta oleh Nicholas.
"Kek, apa Kakek mengenal pemuda di belakang Kakek itu?" tanya Nicholas, ketika matanya tertuju pada Nathan yang terlihat sedang fokus berbicara dengan Albert.
"Oh, dia ... katanya nama dia Alexander. Dia merupakan pelukis yang sangat berbakat. Dan sekarang dia sedang menjelaskan tentang lukisannya pada pria di depannya. Pria itu sangat tertarik dengan lukisan Alex,".
"Alex?" gumam Nicholas sembari mengrenyitkan keningnya.
"Iya. Namanya Alex. Apa kamu mengenalnya?" tanya Nurdin dengan alis bertaut.
"Ti-tidak, Kek. cuma seperti pernah lihat saja," sahut Nicholas, memberikan alasan.
"Oh seperti itu?" ucap Nurdin. "Oh ya,Kakek dengar dua hari lagi, kamu akan bertunangan. Setelah pameran ini selesai, aku akan pulang ke Indonesia,"
"Sepertinya tidak perlu, Kek. Nanti Kakek kecapean," tolak Nicholas dengan mata yang masih sibuk melihat ke arah Nathan.
"Tidak capek kok. Besok pagi Kakek akan berangkat! masa cucu bertunangan, kakeknya tidak datang?
"Ya udah deh,Kek. Aku tunggu Kakek di sini!"
Panggilan akhirnya terputus setelah Nicholas pamit .
Sementara itu, Nicholas di tanah air, mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu benar-benar yakin kalau yang tadi dia lihat adalah Nathan.
"Alex? kenapa namanya jadi Alex?" batin Nicholas bingung.
"Tunggu! bukannya nama lengkap Nathan itu, Nathan Alexander Pramono?" lagi - lagu Nicholas bermonolog pada dirinya sendiri.
Kemudian pria itu, tersenyum tipis. "Ternyata kamu ada di London Nathan dan kamu menggunakan nama tengahmu,"
Tbc
__ADS_1