
Hari ini adalah hari keberangkatan Nathan. Semua dokumen sudah ada padanya termasuk tiket.
"Kak, kenapa tiketnya ada dua?" tanya Nathan, bingung sembari memegang dua tiket dengan tujuan dua negara yang berbeda.
"Tiket ini, tujuannya ke negara Singapore. Hari ini kamu berangkat ke sana. Tiga jam kemudian, kamu langsung berangkat ke London. Kamu tahu alasannya apa?" Nathan menggelengkan kepalanya, benar-benar bingung dengan ucapan kakak sulungnya itu.
"Memang, otak kamu sama sekali tidak bisa berfungsi dengan baik ya. Bukannya kamu sendiri mengatakan, kalau kamu tidak ingin, ada orang yang tahu ke negara mana kamu akan pergi?
Nathan mengangguk walaupun dia belum paham ke mana arah pembicaraan Angga.
"Nah, karena itu, aku sengaja memesan tiket, ke Singapura lebih dulu, karena aku yakin kalau mereka tahu kamu pergi, mereka nanti akan menyelidiki sampai mengecek, nama daftar penumpang atas nama kamu. Nah, nanti mereka tahunya kamu berangkat ke Singapura. Mereka tidak akan berpikir kalau kamu pergi lagi ke negara lain," jelas Angga, dengan detail.
Nathan mengangguk-anggukan kepalanya, akhirnya paham maksud dan tujuan Angga.
"Kak, jadwal berangkatnya masih ada 4 jam lagi, aku bisa ke rumah sakit sebentar untuk melihat mama terakhir kali kan?"
"Itu terserah kamu. Yang jelas kamu jangan sampai terlambat,"
"Baik, Kak!"
Angga terlihat mengeluarkan sesuatu berupa kartu ATM.
"Nih, kartu buat kamu. Semua uangmu sudah aku masukkan ke dalam. Tidak ada tersisa saru sen pun padaku. Jadi, aku tidak punya hutang lagi padamu," Angga menyerahkan sebuah kartu ATM yang memiliki cabang di London. "Dan ini uang, cash buat kamu," lanjut Angga kembali sembari menyerahkan uang beberapa dollar Singapura dan beberapa poundsterling mata uang Inggris. Ternyata pria itu sudah mempersiapkan semuanya dengan baik dan matang. Angga memang sangat dikenal dengan ketelitiannya dalam melakukan sesuatu.
"Apa ini tidak terlalu banyak,Kak?" tanya Nathan.
__ADS_1
"Kamu akan sangat memerlukannya di sana. Pokoknya satu hal yang harus kamu ingat, apapun yang terjadi padamu, bukan urusanku lagi! dan terserah kamu mau menggunakan uangmu untuk apa, aku tidak peduli," ucap Angga sembari berbalik melangkah pergi meninggalkan Nathan. Namun,masih baru beberapa langkah, pria itu kembali berbalik menoleh ke arah Nathan.
"Oh ya, satu lagi, uang yang aku minta kamu transfer dari rekening kamu kemarin, semuanya sudah aku tukarkan ke dalam poundsterling dan sudah aku masukkan ke dalam bank accountmu," pungkas Angga, kemudian melanjutkan kembali langkahnya meninggalkan Nathan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di tempat lain Arsen duduk termenung.Wajah pemuda itu tampak sendu. Kenapa? karena dia masih merasa bersalah dengan apa yang menimpa Naura hingga membuat wanita setengah baya itu belum bangun sampai sekarang.
Dari arah yang tidak terlalu jauh, tampak sepasang mata menatap Arsen dengan tatapan penuh tanda tanya. Siapa lagi dia kalau bukan Murni, mamanya Arsen.
"Arsen, apa yang sedang kamu pikirkan? apa kamu ada masalah?" tanya Murni sembari duduk di samping putranya itu.
Kehadiran Murni yang tiba-tiba membuka Arsen tersentak kaget dan tersadar dari alam bawah sadarnya.
"Ma, sejak kapan ada di sini?" tanya Arsen setelah rasa kagetnya mereda.
"Sebenarnya aku tidak punya masalah, Ma.Aku hanya merasa bersalah saja, karena gara-gara aku, Tante Naura belum bangun dari komanya sampai sekarang," terang Arsen dengan nada suara yang lemah.
Murni sontak terkesiap kaget mendengar nama Naura yang baru saja terlontar dari mulut Arsen.
"Na-Naura? apa maksudmu Naura ibu kandung Nathan?" tanya Murni memastikan. Murni kembali kaget melihat Arsen menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana bisa? bukannya dia sudah ...." Murni menggantung ucapannya, karena tiba-tiba teringat sesuatu.
"Sudah apa, Ma?" Arsen mengreyitkan keningnya, menyelidik.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa!" sahut Murni dengan cepat.
"Oh ya, kamu bilang tadi kalau dia koma,tapi kenapa kamu yang merasa bersalah?" lanjut Murni kembali menyelidik.
Arsen tidak langsung menjawab
Pria itu menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskan kembali ke udara dengan cukup berat. Setelah merasa sedikit tenang, akhirnya Arsen mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Naura selama ini, di mana wanita itu ditabrak lari 18 tahun yang lalu, hingga menyebabkan wanita mengalami amnesia. Arsen juga menceritakan, kenapa Naura bisa koma, yaitu gara-gara dirinya yang berusaha membuat wanita yang merupakan ibu kandung Nathan itu mengingat kembali masa lalunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nathan membuka pintu ruangan dimana Naura masih terbaring dengan sangat pelan. Begitu melihat tidak ada orang di dalamnya, Nathan masuk dan menutup pintu kembali. Kemudian, pria itu duduk di sebuah kursi kecil yang sengaja diletakkan di dekat ranjang Naura.
Dengan perlahan, Nathan meraih tangan mamanya itu dan menggenggamnya erat. Dengan gemetar, Nathan membawa tangan wanita setengah baya itu ke bibirnya, kemudian mengecupnya dengan penuh perasaan.
"Ma, maafin Nathan! mungkin ini terakhir kali aku bisa melihat mama. Hari ini,aku akan pergi jauh, Ma. Doakan aku, agar aku bisa sukses. Aku benar-benar tidak ingin mama merasa sakit jika mengingatku. Aku berharap Mama bisa bangun dan melupakan anak yang bernama Nathan, karena nama itu akan membuat mama sakit lagi," ucap Nathan dengan lirih. Tanpa dia sadari air matanya sudah menetes membasahi pipinya juga punggung tangan Naura.
"Ma, aku tidak membencimu, aku justru sangat menyayangimu. Karena aku sangat menyayangimulah, aku memutuskan untuk pergi, agar Mama bisa hidup normal dan bahagia seperti dulu, sebelum kehadiranku. Terima kasih untuk waktu belakangan ini, di mana aku bisa merasakan perhatian seorang ibu, yang sama sekali tidak pernah aku rasakan mulai dari aku kecil. Aku sangat bersyukur untuk itu, walaupun memang hanya sebentar, setidaknya aku sudah memiliki sebuah kenangan terindah bersama Mama yang bakal aku kenang selamanya," air mata Nathan semakin deras keluar.
"Ma, aku pergi dulu ya! aku sayang Mama!" Nathan berdiri dari duduknya dan mencium kening mamanya dengan cukup lama dan penuh perasaan.
Kemudian, pria itu menatap sekali lagi wajah Naura yang terlihat damai. Setelah itu, Nathan mengembuskan napasnya, dan melangkah ke luar daerah ruangan itu dengan mantap.
Di saat bersamaan, setelah Nathan keluar jari-jari Naura bergerak begitu juga dengan kelopak matanya. Dengan sangat berat, Naura membuka matanya dengan perlahan, Wanita itu terlihat meringis, karena masih merasakan sakit di kepalanya. Kemudian wanita itu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan.
"Nathan!"pekik wanita itu tiba-tiba.
__ADS_1
Tbc