
Arsen, menghempaskan tubuhnya duduk di sofa, di mana ada Angga, kakaknya.
"Lho, Kak, kok ada di rumah? bukannya ini masih jam kantor ya?" tanya Arsen basa basi.
"Dari mana kamu? kok sepertinya capek sekali?" bukannya menjawab, Angga malah balik bertanya.
"Capek, bolak-balik, Kak. Tadi pagi aku ke kampus sebentar, habis itu aku ke sekolahan Nathan. Habis dari sekolah Nathan aku ke kampus lagi untuk gantiin dosen yang katanya nggak bisa kasih kuliah hari ini. Eh, pas nyampe di kampus, ternyata dosennya masuk, jadinya aku pulang deh!" tutur Arsen.
"Emm, tahu nggak Kak, Nathan lulus. Dan asal kakak__"
"Aku tidak tanya! aku sama sekali tidak butuh informasi tentang dia," Angga dengan cepat langsung menyela ucapan Arsen.
"Kakak memang tidak tanya, tapi aku akan tetap memberitahukan ini pada kakak. Nathan lulus, dan kakak pasti kaget, mendengar kalau Nathan lulus dengan nilai yang nyaris sempurna. Bukannya itu Nathan sudah berhasil membuktikan kalau dia tidak bodoh? dia hanya kurang dukungan aja selama ini," Arsen tidak peduli dengan sikap apatis yang ditunjukkan oleh kakaknya.
Angga mendengus dan tersenyum sinis. "Aku rasa itu hanya kebetulan saja. Tidak ada sama sekali yang patut dibanggakan," Angga menanggapi dengan nada meremehkan.
"Kakak salah! dia mendapatkan nilai bagus itu murni karena usahanya bukan karena kebetulan,"
"Terserah kamu! aku mau masuk ke kamar dulu," Angga berdiri dari tempat duduknya dan melangkah meninggalkan Arsen.
"Kenapa Kakak pergi? Kakak merasa malu ya dengan pencapaian Nathan?" langkah Angga langsung terhenti, mendengar ucapan Arsen. "Kakak merasa malu kan, karena Nathan bisa mematahkan keyakinan kakak selama ini tentang dia?" lanjut Arsen kembali.
Angga menghela napasnya dan tidak berniat untuk membalas ucapan adiknya itu. Pria itu kembali mengayunkan kakinya, dan mulai menaiki tangga.
"Kak, jangan jadi pengecut!" Arsen meninggikan suaranya dan lagi-lagi membuat Angga menyurutkan langkahnya.
"Kakak, sebenarnya sayangkan pada Nathan? hari ini Kakak sengaja cuti kan agar bisa datang ke sekolah Nathan? Kakak datang kan tadi?" ucap Arsen dengan sedikit emosional.
Angga memutar tubuhnya dan menatap Arsen dengan tatapan yang sangat tajam.
"Aku emang cuti hari ini, tapi buka n karena ingin ke sekolah Nathan. Aku hanya merasa butuh istirahat,jadi tidak ada kaitannya dengan Nathan sama sekali. Paham kamu!" ucapnya dengan tegas.
"Kakak bohong! jelas tadi aku lihat, begitu aku hendak meninggalkan sekolah Nathan, mobil kakak juga pergi lebih dulu," ucap Arsen dengan sudut bibir yang tersenyum smirk.
"Sekali lagi aku bilang tidak ya tidak! kamu itu salah lihat!" Angga masih berusaha untuk menyangkal.
"Aku belum buta ataupun rabun, Kak. Apa Kakak kira aku tidak hapal mobil Kakak?" Arsen masih kekeh dengan apa yang dia lihat.
Angga sama sekali tidak menjawab lagi. Pria itu hanya mendengus dan memutuskan untuk melanjutkan langkahnya, tidak peduli dengan Arsen yang kembali berteriak memanggilnya di bawah sana
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari berganti hari, hari yang ditunggu oleh siswa kelas XII di sekolah Nathan sudah tiba. Semua siswa dan siswi sudah memakai pakaian terbaik mereka dan yang perempuan berdandan secantik mungkin.
Bastian dan Dava dari tadi terlihat berkali-kali melihat ke arah pintu masuk, menunggu Nathan yang belum datang juga.
"Dimana sih dia? apa benar dia akan datang malam ini?" tanya Bastian memastikan pada Dava.
"Katanya sih iya. Kita tunggu saja dulu!" jawab Dava.
Tiba-tiba terdengar suara riuh dari beberapa siswi melihat sosok yang baru saja datang, siapa lagi kalau bukan Nathan. Mata mereka seakan susah untuk berkedip melihat penampilan baru Nathan. Yang ada dibayangan mereka, kalau penampilan pemuda itu pasti akan sama seperti penampilannya ketika memakai seragam sekolah.
Penampilan pemuda yang memang dasarnya sudah tampan itu, kini terlihat semakin bersinar dengan tuxedo yang dia pakai, dan mode rambut yang disisir rapi.
__ADS_1
"Itu benaran Nathan kan?" tanya Bastian sembari mengucek matanya.
"Kayanya benar, Sob. Buktinya dia menghampiri kita," jawab Dava dengan kekagetan yang sama seperti Bastian.
"Hei, kenapa kalian bengong?" Nathan menepuk pundak Bastian dan Dava.
"Ini benaran kamu ya,Nath?" tanya Bastian sembari memutar-mutar tubuh Nathan untuk memastikan.
Bugh
Nathan yang terlihat kesal sontak memberikan tinju ringan di pundak sahabatnya itu. "Ya benaran aku lah. Masa kalian nggak kenal sama sahabat sendiri?" ucap Nathan.
"Habisnya kamu terlihat berbeda dari biasanya,Nath. Kamu tampan!" puji Dava.
Nathan sontak menjauhkan sedikit tubuhnya dari Dava dengan ekspresi wajah takut.
"Kamu masih normal kan Dav? bagaimana mungkin kamu memuji seorang laki-laki sepertiku?"
"Sialan kamu! normal lah. Emangnya salah ya, kalau seorang laki-laki memuji laki-laki lain tampan?"
Nathan terkekeh mendengar jawaban Dava.
"Nggak salah sih,cuma sedikit risih aja," ucapannya.
Kemudian mata Nathan mengedar seperti mencari seseorang, siapa lagi yang dia cari kalau bukan Renata, gadis yang membuat dirinya terpaksa datang ke acara perpisahan sekolah mereka.
"Kamu cari Renata ya? dia sepertinya belum datang. Soalnya dari tadi makhluk langka itu belum terlihat di mana-mana," Bastian buka suara.
"Siapa yang kamu bilang makhluk langka?" Nathan melirik sinis ke arah Bastian.
"Eits, nggak usah sinis seperti itu dong! segitu amat, tidak mau bebebnya dipanggil makhluk langka," ledek Bastian.
"Tenang aja,Nath! mau kamu jadikan pacar juga nggak pa-pa! toh dia juga udah putus kan dengan Roby," Dava buka suara.
"Tapi aku tidak __" ucapan Nathan tergantung di udara begitu suara riuh kembali terdengar. Semua mata menatap ke arah pintu masuk yang memperlihatkan sosok perempuan cantik.
"Siapa dia? apa dia murid di sekolah ini? tapi kenapa aku tidak pernah melihatnya?" ucap Bastian, menatap kagum gadis yang baru datang itu.
"Lihat, lihat! dia sepertinya berjalan ke arah kita," sorak Dava yang seketika langsung membenarkan rambut dan dasinya.
Sementara itu, Nathan yang sama sekali tidak tertarik memilih untuk mengedarkan pandangannya, untuk mencari sosok yang dia tunggu.
"Hai, Nath,Bas,Dav, maaf aku telat!" baik Nathan maupun Bastian dan Dava sontak terkesiap kaget mendengar gadis itu menyebut nama mereka satu persatu.
Mereka bertiga menatap gadis itu dari atas sampai ke bawah dan kembali lagi ke atas, mencoba untuk mengenali gadis itu.
"Kamu kenal kami?" tanya Bastian, dengan alis bertaut.
"Ya, tentu saja aku kenal. Justru aku yang mau tanya, kenapa kalian bertiga seakan tidak mengenalku?" gadis itu balik bertanya.
Nathan menatap dengan intens dan merasa kalau suara perempuan di depannya itu sangat familiar di telinganya. "Kamu, Renata?" tanya Nathan dan gadis yang ternyata Renata itu menganggukkan kepalanya.
Bastian dan Dava sontak saling silang pandang,tidak menyangka Renata yang mereka sebut makhluk langka itu, bisa berubah menjadi secantik itu. Di dalam bayangan mereka tadi, mereka akan mengira kalau Renata akan datang dengan penampilan seperti biasa, yaitu tidak lepas dari kaca matanya.
Namun, ternyata dugaan mereka salah. Renata hadir dengan balutan gaun yang sederhana tapi elegan, tanpa kaca mata dan riasan yang tidak terlalu menor tapi,bisa memancarkan kecantikan gadis itu.
__ADS_1
Sementara itu, pandangan Nathan seakan tidak bisa lepas dari wajah Renata.
"Hai, Nath! kamu kenapa bengong?ada yang salah ya denganku?" suara Renata seketika menyadarkan Nathan dari lamunannya.
"Ti-tidak! kamu cantik!" puji Nathan tanpa sadar, hingga membuat pipi Renata merona.
Nathan yang tersadar dengan ucapannya, seketika salah tingkah dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Jangan lupakan Bastian dan Dava yang saling sikut dan tersenyum penuh makna.
"Nath, Renata mari kami ambil photo kalian berdua, mau kan?" celetuk Dava tiba-tiba.
"Boleh deh! aku mau," sambut Renata dengan antusias dan wajah yang berbinar.
"Harus ya?" tanya Nathan yang kembali ke mode awal, dingin.
"Kamu nggak mau ya? aku sengaja dandan seperti ini, supaya kamu nggak malu photo sama aku. Kalau kamu nggak mau photo, berarti sia-sia dong usahaku malam ini," Renata mengerucutkan bibirnya.
Nathan kembali menggaruk-garuk kepalanya merasa tidak tega melihat raut wajah kecewa Renata. "Ya udah! kalian ambil photo kami. Tapi, nanti kita bertiga, atau berempat juga harus ambil photo bersama." pungkas Nathan akhirnya.
Akhirnya Bastian mengarahkan ponselnya, sementara Dava berubah profesi menjadi pengatur gaya. Awalnya Nathan sangat grogi sehingga setiap photo yang diambil terlihat kaku dan tidak enak dipandang mata.
"Gini aja deh, Renata kamu lengkungkan tangan kananmu di atas kepala seperti ini, dan Nathan menggunakan tangan kirinya," Dava mencontohkan sebuah gaya yang bentu akhirnya menjadi bentuk hati. Karena ingin cepat selesai, Nathan tanpa berpikir panjang langsung melakukan sesuai dengan petunjuk yang diarahkan Dava.
"Nah begitu, cocok! satu, dua, tiga, senyum!" Renata dan Nathan tersenyum, dan Bastian tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia langsung menekan tombol untuk mengambil gambar kedua insan itu.
"Wah, bagus sekali!" sorak Bastian merasa puas.
"Coba lihat!" Renata sangat antusias melihat photo yang diambil oleh Bastian. Ketika melihat photo itu, seketika pipi wanita itu memerah, melihat hasilnya yang memperlihatkan kalau dirinya dan Nathan seperti sepasang kekasih.
Nathan terlihat seperti tidak peduli akan hasil photo itu, tapi diam-diam ekor matanya melirik melihat ke arah handphone Bastian. Mata pria itu seketika membesar melihat hasilnya.
"Kenapa jadi seperti itu?" tanya Nathan menatap tajam ke arah Bastian.
"Kenapa? kamu tidak suka? kalau tidak suka biar aku hapus!" ucap Bastian.
"Emm tidak usah! kirimkan nanti ke aku!" ucap Nathan tanpa menatap Bastian.
"Cih, tadi kaya nggak suka, eh minta dikirimin juga," celetuk Bastian.
"Nath, sekarang giliran kamu, ambil photo kami dengan Renata," Dava buka suara.
Dengan malas Nathan meraih ponsel dari tangan Bastian. Sementara itu Dava langsung berpose sebagus mungkin, seperti seorang model, demikian juga dengan Bastian.
"Sudah siap?" tanya Nathan.
"Siap!" jawab kedua sahabatnya, bersamaan.
"Satu, dua,tiga!" terdengar bunyi cekrek dari ponsel yang ada di tangan Nathan.
"Coba lihat hasilnya!" Bastian dan Dava dengan antusias meraih ponsel dari tangan Nathan.
Mata kedua pemuda itu sontak membesar melihat hasil photo yang diambil oleh Nathan. Tampak jelas, hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi, dimana terlihat jelas wajah cantik Renata yang tersenyum tapi kepala mereka tidak terlihat sama sekali, atau dengan kata lain, Nathan mengambil photo mereka berdua tanpa kepala.
Mereka berdua mengangkat kepala, hendak protes, tapi tidak jadi, karena Nathan menatap mereka dengan sangat tajam.
"Bagaimana hasilnya? bagus nggak?" tanya Renata antusias.
__ADS_1
"Bagus kok bagus!" jawab keduanya bersamaan. Bastian juga langsung memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celananya.
Tbc