
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tidak terasa sudah satu tahun berlalu. Hidup berjalan begitu saja tanpa ada sesuatu yang berarti terjadi.
Nathan dengan kesendiriannya di negara Inggris, London. Renata juga demikian walaupun masih menyandang status tunangan Nicholas. Ya, Nathan dan Renata akhirnya sudah tidak bersama lagi, dan bahkan tidak pernah berkomunikasi sama sekali.
Setahun yang lalu, di saat Renata masuk ke dalam rumahnya setelah pulang dari London. Wanita itu dengan cepat mencari handphone lamanya yang tertinggal. Gadis itu dengan semangat mengaktifkan handphonenya. Di saat bersamaan pula ada pesan yang masuk dari nomor Nathan. Alangkah kagetnya dia, ketika membaca pesan itu. Dengan jelas di sana Nathan mengatakan agar dia melupakannya, dan hidup bahagia bersama dengan Nicholas.
Renata sudah mencoba menghubungi Nathan berkali-kali ternyata nomor pria itu sudah tidak bisa dihubungi lagi. Renata juga sudah mencoba untuk menghubungi Dava dan Bastian, nomor kedua laki-laki itu juga tiba-tiba tidak bisa dihubungi.
Bagaimana dengan Nicholas, pria itu tentu saja terlihat semakin sukses walaupun masih belum mendapatkan cinta dari Renata.
Apa kabar dengan Anisa? gadis cerewet itu, benar-benar sudah menjadi manager keuangan, membawahi Sarah, yang menjadi lawan debatnya dulu.
"Hai, Ren! melamun aja. Kamu mikirin apa sih?" Anisa menepuk pundak Renata, kemudian duduk di depan wanita itu. Ya mereka berdua sekarang tengah janjian untuk makan siang bersama di sebuah restoran.
"Tidak mikirin apa-apa. Aku tadi hanya bosan saja menunggumu. Kamu kenapa bisa lama sih?" protes Renata. Raut wajah yang tadinya murung, berusaha dia rubah menjadi ceria. Padahal dengan jelas, keceriaan wanita itu terlihat sangat terpaksa.
"Aduh, maaf! tadi ada pekerjaan yang harus diselesaikan dengan cepat. Kamu sudah pesan makanannya?" Anisa mengalihkan pembicaraan.
"Belum! aku kan tidak tahu kamu mau makan apa," sahut Renata.
Anisa terkekeh, sembari mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan.
Setelah pelayan menghampiri meja mereka, merekapun mulai memesan makanan.
"Ren, sepertinya kamu kurang semangat. Apa kamu masih memikirkan Nathan?" tukan Anisa dengan nada yang sangat hati-hati.
"Tidak, tidak sama sekali. Buat apa aku memikirkan laki-laki pengecut itu? tidak ada untungnya sama sekali. Aku justru sekarang sangat membencinya," sahut Renata dengan nada yang berapi-api.
Anisa tersenyum tipis, tahu kalau apa yang baru saja terlontar dari mulut sahabatnya itu tidak sesuai dengan kata hatinya.
__ADS_1
"Tapi entah kenapa, aku merasa kalau itu hanya dari mulutmu saja. Hatimu pasti masih sangat mencintainya. Kamu tidak boleh munafik, Ren."
"Jangan asal bicara deh! aku benar-benar sudah membencinya. Dia itu benar-benar pecundang, sama sekali tidak pantas untuk dicintai," Renata berucap dengan nada sengit.
Anisa menghela napas dengan sekali hentakan dan terasa berat.
"Seharusnya kamu tidak boleh berasumsi sendiri. Ini semua sangat berat baginya. Dia sedang mempertaruhkan keharmonisan keluarganya kalau dia tetap mempertahankanmu. Kamu sepertinya lebih tahu, apa yang dia alami dari kecil. Dia baru saja mendapatkan keluarga seperti yang dia inginkan. Dia mungkin merasa tidak enak dan bisa-bisa keluarganya merasa tidak enak satu sama lain, karena kamu dengan Nathan. Menurut kesimpulanku ya, Nathan hanya menjaga hubungannya dengan Pak Rehan dan Pak Nicholas. Bukan cuma itu saja, bisa saja kan Tante Naura menjadi merasa tidak enak juga pada suami dan anak sambungnya. Kalau sudah tidak enak-enakan seperti itu, otomatis tidak ada lagi keharmonisan di dalam keluarga. Nathan mungkin hanya tidak mau itu terjadi. Dia tidak ingin lagi dianggap sebagai anak pembawa sial," tutur Anisa dengan panjang lebar tanpa jeda.
Renata tercenung mendengar ucapan Anisa. Dia tidak bisa membantah ucapan sahabatnya itu, karena memang jauh di dalam lubuk hatinya membenarkan ucapan Anisa.
"Kalau begitu, aku juga mau mundur dari pertunangan ini. Aku juga tidak mau membuat hubungan keluarga itu tidak harmonis lagi karena kehadiranku. Karena jika aku bersama dengan Kak Nicholas pun, hasilnya tetap sama. Akan ada rasa tidak enak yang timbul di dalam keluarga itu," ucap Renata dengan yakin.
"Semua orang itu pasti memiliki pemikiran yang berbeda. Karena mungkin Nathan memiliki pemikiran yang lebih bijaksana dari. Pak Nicholas, jadi walaupun kamu tetap melanjutkan pertunangan sampai ke jenjang pernikahan, Nathan pasti akan berusaha bersikap biasa,"tutur Anisa, seakan sudah mengenal lama Nathan.
"Tapi, hati tidak bisa dipaksakan. Aku akan tetap mengambil keputusan untuk memutuskan pertunangan ini," pungkas. Renata dengan tegas.
"Tapi itu tidak pernah akan terjadi. Pertunangan akan tetap berlanjut bagaimanapun caranya," tiba-tiba Nicholas sudah berdiri di belakang Renata.
Sementara itu, Nicholas menarik sebuah kursi dan duduk di samping Renata.
"Kamu tidak boleh memaksakan kehendak kamu! Kenapa sih kamu seperti ini? Kamu jelas tahu kalau aku dan Nathan saling mencintai. Tapi, kenapa kamu masih berusaha untuk tetap melanjutkan pertunangan ini?"
"Biar impas!" sahut Nathan ambigu.
"Maksudnya?" Renata mengrenyitkan keningnya.
"Dia sudah berhasil membagi perhatian mama dengannya. Jadi, aku ingin gadis yang dia cintai bisa bersamaku. Kan impas?" ucap Nicholas, santai seakan tidak memiliki beban saat mengucapkan ucapannya itu.
"Kami gila! Jadi, secara tidak langsung kamu menjadikanku sebagai alat agar Nathan bisa merasakan bagaimana sakitnya melihat wanita yang kita cintai ...."
__ADS_1
"Exactly! tebakanmu benar!" Nicholas tersenyum sinis.
Renata berdecak, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak menyangka kalau ternyata kamu selicik ini. Ternyata kamu sama sekali tidak mencintaiku. Kamu hanya menjadikanku sebagai alat untuk membalas Nathan,"
"Siapa bilang aku tidak mencintaimu? aku tetap mencintaimu," sahut Nicholas dengan tegas..
"Tapi, maaf! aku tetap akan meminta Papa untuk membatalkan pertunangan kita. Aku tidak mau hidup dengan pria egois dan yang sama sekali tidak aku cinta,"
"Sayangnya, aku tidak meminta pendapatmu. Aku bahkan sudah membuat rencana dengan papamu untuk mempublikasikannya pertunangan kita minggu depan dan semuanya sudah diurus,"
Mata Renata membulat, terkesiap kaget mendengar ucapan Nicholas.
"Kenapa sih dari dulu kamu dan papa selalu bertindak sendiri tanpa persetujuanku? aku benar-benar tidak habis pikir dengan sikap kalian berdua," ucap Renata, seketika kehilangan naf*su makan, walaupun di depannya makanan yang sangat ingin dia makan sudah terhidang dengan penampilan yang menggiurkan.
"Karena papamu ada di bawah kendali perusahaan kami. Sekali saja aku tarik semua investasi dari perusahaan papamu, bersiap-siaplah untuk hancur. Kamu tidak ingin kan perusahaan papa kamu hancur?" tutur Nicholas, lugas tanpa beban.
"Kamu benar tidak punya hati. Aku tidak akan perduli,mau kamu tarik investasi dari perusahaan papaku aku tidak peduli. Kamu kira aku tidak bisa hidup susah?" tantang Renata yang sudah jengah dengan sikap egois Nicholas.
"Kamu bisa, tapi bagaimana dengan mamamu? dengan kamu menolak pertunangan ini, itu berarti kamu yang membuat mamamu mengalami kesusahan di masa tuanya. Kamu tidak sekejam itu kan?" Nicholas menatap Renata dengan bibir yang tersenyum licik.
Renata bergeming. Gadis itu benar-benar tidak bisa membalas ucapan Nicholas lagi.
"Pak Nicholas. Sepertinya kamu sudah terlalu berlebihan. Kamu seharusnya tidak __"
"Kamu jangan ikut campur!" dengan dingin Nicholas menoleh ke arah Anisa yang baru saja buka suara.
"Kalau untuk masalah lain, aku bisa mengalah pada Nathan, tapi tidak dengan masalah perasaan. Bagiku, apa yang membuatku bahagia harus aku perjuangkan," lanjut Nicholas lagi.
Kemudian, pria itu berdiri dari kursinya. " Ingat Renata, persiapkan dirimu minggu depan. Jangan coba untuk kabur karena, itu akan semakin memperparah keadaan!" pungkas Nicholas sembari berlalu pergi.
__ADS_1
Tbc