
Hari berganti hari, tidak terasa sudah Seminggu lamanya Renata ada di London. Gadis itu menyewa sebuah apartemen karena dirinya tidak tahu di mana Nathan tinggal. Sudah seminggu itu juga , Renata mencari keberadaan Nathan tapi, hasilnya nihil. Sebenarnya gadis itu sudah membeli sebuah handphone baru, dan menghubungi nomor Nathan yang sudah dia hapal, tapi entah kenapa nomor sama sekali tidak aktif lagi.
Renata benar-benar merasa khawatir, dan ingin tahu bagaimana kondisi Nathan sekarang, apakah operasinya berhasil atau tidak.
"Sudah seminggu, tapi nomor Nathan tidak pernah bisa dihubungi lagi. Apa aku harus pulang tanpa bisa bertemu dengannya?" Renata bermonolog pada dirinya sendiri.
"Lagian,kenapa aku teledor dan bodoh sih? kenapa aku bisa sampai ketinggalan handphone dan kenapa pula aku tidak menanyakan pada Dava, rumah sakit tempat Nathan dirawat? masa aku harus mengunjungi rumah-rumah sakit lagi dan menanyakan Nathan." Renata menggerutu, merutuki kebodohannya sembari melangkah keluar dari apartemen. Ya, gadis itu beberapa hari kemarin keluar masuk rumah sakit untuk mencari Nathan, tapi sayangnya rumah sakit yang dia kunjungi, tidak ada pasien yang memiliki nama seperti nama pria yang dia cintai itu.
"Apa yang harus aku lakukan? apa aku harus tetap berada di kota ini, sampai bisa ketemu dengan Nathan, atau pulang tanpa hasil. Tapi, kan aku sudah sejauh ini melangkah. Kalau aku pulang tanpa hasil, selain mendapat murka dari papa, aku juga akan ditertawakan." lagi-lagi Renata berjalan dengan tatapan lurus, sehingga tidak memperhatikan ada Dava, Bastian yang berlalu di depannya. Renata, pergi keluar dan kedua orang itu masuk. Tanpa mereka ketahui, ternyata mereka ada di gedung apartemen yang sama, hanya beda unit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sob, sudah seminggu Renata ada di London, tapi kita sama sekali belum bisa menemukannya. Bagaimana ini?" tanya Bastian sembari menekan password apartemen milik Nathan.
Ya, kedua pria itu sebenarnya sudah mengetahui dari Nicholas, kalau Renata datang menyusul Nathan ke London. Nicholas meminta mereka mencari Renata, karena gadis itu tidak membawa handphone bersamanya. Namun, mereka berdua memutuskan untuk tidak memberitahukan masalah itu pada Nathan, agar sahabatnya itu tidak panik dan khawatir. Mereka takut, kalau Nathan nekad untuk keluar mencari keberadaan Renata sementara dia masih butuh pemulihan.
Mereka berdua bahkan mengambil handphone Nathan, dan berbohong pada pemuda itu, berasalan kalau handphonenya kemasukan air dan rusak. Mereka berdua juga mengatakan, ketika hendak mengeringkan ponsel itu, simcardnya hilang entah kemana. Rencana mereka memang benar-benar sempurna mengelabui Nathan. Namun, sekarang mereka sendiri yang bingung mencari keberadaan Renata.
Dava, tidak langsung menjawab. Pria itu, berjalan masuk,lalu mengembuskan napasnya sembari menghempaskan bokongnya, duduk di atas sofa.
"Aku juga sangat bingung,Sob. Kalau Nathan tahu, kita pasti kena murkanya," sahut Dava.
"Emm,apa kamu pernah mencoba untuk mengaktifkan nomor Nathan lagi?" tanya Bastian dan Dava menggelengkan kepalanya.
"Itulah kebodohan kita. Seharusnya sesekali kita harus aktifkan. Takutnya Renata menghubungi nomor itu," ucap Bastian.
__ADS_1
"Dengan apa dia menghubungi nomor Nathan? kamu tahu sendiri kalau handphonenya ketinggalan," sahut Dava.
"Hei, bodoh! kamu kenal Renata kan? dia itu berasal dari keluarga kaya, tidak mungkin dia tidak bisa membeli handphone baru di negara ini. Aku yakin kalau dia sudah membeli handphone dan berusaha menelepon nomor Nathan," Bastian terlihat yakin dengan dugaannya.
"Aku yang bodoh atau kamu? seandainya dia bisa membeli handphone baru, dia kan hanya beli handphonenya, tapi tidak disertai dengan nomor Nathan. Jadi, bagaimana dia bisa menghubungi Nathan, kalau dia sendiri tidak punya lagi nomor Nathan? sahut Dava dengan ekspresi kesal.
Bastian berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ini nih kalau kelamaan jomblo, gak ada ayang, pikiranmu jadi buntu. Bro,kalau kita memiliki seseorang yang kita cintai, jangankan nomor telepon, nomor sepatu, ukuran CDnya saja pasti kamu hapal," ucapnya dengan nada meledek.
"Sob, kamu dan aku sama. Sama-sama tidak ada ayang,"
"Tapi,aku tidak sengenes kamu," Bastian tidak mau kalah.
"Sekarang kamu coba ambil handphone Nathan dan aktifkan. Mudah-mudahan dugaanmu benar, yang Renata pernah menghubungi nomornya," Dava kembali buka suara.
"Tunggu di sini! aku ambil dulu handphonenya!" Bastian mengayunkan kakinya melangkah menuju kamar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di sebuah rumah besar yang tidak lain adalah kediaman Nurdin, tampak Nathan duduk di balkon kamarnya, memandang ke depan dengan tatapan kosong. Perasaan pemuda itu kini campur aduk. Dia bahagia bisa melihat lagi, tapi dia masih saja penasaran pada orang yang sudah mendonorkan kornea mata pada dirinya. Di samping rasa penasarannya, hati pria itu juga galau karena beberapa hari ini dia mencoba untuk menghubungi Renatan dengan nomor barunya, tapi tidak ada respon.
"Apakah dia percaya dan marah karena photo itu? tapi bukannya dia sudah tahu kenyataannya dari Dava? dia bahkan sudah memberikan semangat kan untukku ketika aku akan operasi? tapi, Kenapa sama sekali aku tidak bisa menghubunginya?" berbagai pertanyaan timbul di dalam hati Nathan, hingga membuat kepala pria itu terasa pusing.
"Nathan, sedang apa kamu,?" tiba-tiba Arsen sudah berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Eh, aku hanya menikmati keindahan malam ini aja, Kak," sahut Nathan, kurang bersemangat.
Arsen tersenyum, lalu mendaratkan tubuhnya duduk di samping adiknya itu. Pria berusia 28 tahun itu, ikut menatap ke depan, ke arah cahaya lampu-lampu yang tampak indah.
"Kak, apakah Kak Angga sudah menikah? pasti sudah kan?" pertanyaan Nathan, tiba-tiba membuat Arsen tersentak kaget. Namun, kekagetannya hanya berlaku untuk sepersekian detik. Detik berikutnya, raut wajah pria itu berubah sendu, bahkan matanya sudah mulai berembun.
"Kenapa Kakak diam? apa aku tidak pantas untuk mengetahui kabar kak Angga? walaupun aku tahu kalau dia membenciku, bahkan tidak pernah menganggap aku adik, aku tetap menganggap dia kakakku,"
"Dia tidak pernah membencimu! dia sangat menyayangimu, hanya saja dia tidak pintar dalam menunjukkan kasih sayangnya," Arsen tiba-tiba terlintas emosional.
"Kakak kenapa jadi emosional? bukannya dari dulu sudah terlihat jelas kalau Kak Angga selalu menganggapku tidak ada?" alis Nathan terlihat bertaut.
"Sekali lagi aku bilang, dia tidak pernah membencimu!" suara Arsen mulai meninggi, tidak terima dengan ucapan Nathan.
"Kakakmu benar! Nak Angga tidak pernah membencimu! dia sangat menyayangimu, hanya saja dia tidak menunjukkannya," tiba-tiba Naura datang menimpali ucapan Arsen.
Nathan dan Arsen sontak menoleh ke arah Naura. Tampak kening Nathan berkerut, mendengar ucapan mamanya.
"Kenapa, Mama berkata seperti itu? Aku yang merasakan sakitnya perlakuan Kak Angga padaku selama ini. Mama tidak pernah tahu kan, bagaimana sikap Kak Angga selama ini padaku? dia selalu melontarkan kata makian padaku. Dia selalu menganggapku benalu dan selalu merendahkanku! Nathan mulai terlihat emosional.
"Jangan berbicara buruk seperti itu tentang kakakmu. Kamu sama sekali tidak tahu pengorbanan apa yang dilakukan kakakmu itu padamu. Dia sudah banyak berkorban, bahkan kornea yang kamu pakai itu, diberikan oleh Nak Angga padamu!"
Bagai tersambar petir di siang bolong, mata Nathan membesar terkesiap kaget mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut mamanya
Tbc
__ADS_1