Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Bab 35


__ADS_3

Rehan pamit pulang karena tiba-tiba ada urusan. Sementara itu, Naura dan yang lainnya tetap berada di apartemen. Nathan terlihat sangat bahagia hari ini, karena merasa sudah memiliki sebuah keluarga seperti yang diimpikannya selama ini. Bahkan saking bahagianya, ponselnya yang bergetar dari tadi di dalam sakunya, dia abaikan.


"Paling juga Dava dan Bastian," begitulah yang ada di dalam pikiran Nathan. Pemuda itu benar-benar ingin menghabiskan waktu bersama mama, kakak dan adiknya seharian ini tanpa gangguan siapapun termasuk dua sahabatnya itu.


"Emm, kalian belum makan siang kan? biar mama masakkan sesuatu buat makan siang kita," ucap Naura sembari bangkit berdiri dari tempat duduknya.


"Gak usah, Ma. Sebaiknya kita pesan saja," sahut Nicholas memberikan saran.


"Nggak perlu.Biar mama yang masak saja," tolak Naura. "Ayo, Nabila, kamu bantu mama!" Naura menatap ke arah Nabila yang seketika memasang wajah masamnya.


"Ma, bisa nggak bantu masaknya dipending dulu? nanti kalau Nabila sudah SMA, aku janji akan belajar masak," Nabila mengacung-acungkan jari kelingkingnya.


"Tidak boleh! lagian yang minta kamu memasak siapa? mama hanya minta kamu membantu saja," ucap Naura.


"Sama aja, Mah. Kan tetap namanya membantu sembari belajar memasak," Nabila masih melanjutkan protesnya.


"No protes! sekarang kamu ikut mama!" titah Naura tak terbantahkan.


Nabila, akhirnya berdiri dan mengikuti mamanya ke dapur, dengan wajah yang benar-benar masam. Sementara itu, Nathan dan Nicholas hanya bisa tertawa melihat ekspresi kesal Nabila.


"Nath, di kulkas masih ada stok yang akan di masak kan?" Nicholas buka suara.


"Emm, yang ada hanya telur, sozis,mie dan nugget aja kak," jawab Nathan, menyebutkan makanan fast food yang sering dikonsumsinya selama ini.Ya, karena semua makanan itulah yang bisa dimasak dengan cepat oleh Nathan.


"Waduh! jadi mama mau masak apa dong?" Nicholas sontak bangkit dari duduknya dan menyusul ke dapur, demikian juga dengan Nathan.


Belum sampai di dapur, di depan mereka sudah berdiri Naura yang memasang wajah kesal.


"Di kulkas tidak ada apa-apa. Yang ada hanya makanan-makanan instan. Jadi, selama ini kamu selalu makan yang begituan ya?" Naura menatap Nathan dengan tatapan tajam.


"Nggak selalu sih,Ma. Aku jarang masak. Itu hanya kalau aku tiba-tiba lapar tengah malam saja," sahut Nathan sedikit berbohong.


"Karena tidak ada yang mau dimasak, berarti kita pesan makanan kan,Ma?"celetuk Nabila dengan wajah penuh harap.


"Tidak perlu! mama masak mie goreng saja. Bahan-bahannya lengkap kok. Kamu goreng nuggetnya aja," Nabila kembali lemas mendengar keputusan mamanya.


Tidak perlu menunggu lama, akhirnya Naura kini sudah berkutat menyiapkan bumbu-bumbu untuk membuat mi goreng.


"Aaaa!" teriak Nabila, begitu memasukkan sepotong nuget ke dalam wajan yang berisi minyak panas.


"Nabila! kenapa sih harus teriak, hanya menggoreng itu saja?" ucap Naura di sela-sela rasa kagetnya.


"Nabila takut, Ma. Nanti kulit Nabila kecipratan minyak," jawab Nabila sembari nyengir.

__ADS_1


"Goreng nugget tidak akan membuat minyak menyiprat, Bil. Jadi, kamu tidak perlu berteriak seperti itu?


Tawa Nicholas dan Nathan seketika pecah , mendengar ucapan Naura. Jujur, ini adalah pertama kalinya dalam hidup, Nathan bisa tertawa lepas.


"Ketawa aja terusss! Nabila menggerutu sembari mengerucutkan bibirnya.


"Sini, biar kakak saja yang menggorengnya," Nathan meminta sodet dari tangan Nabila setelah tawanya reda.


"Wah, terima kasih Kakakku yang tampan! seperti kata Boboy, kamu itu 'terbaik'! bukan seperti yang itu," puji Nabila dengan senang hati memberikan sodet dan membuka apron yang menempel di tubuhnya.


Nicholas seketika mendegus dan berdecih, karena dia tahu kalau yang dimaksudkan Nabila dengan kata yang itu, adalah dirinya.


"Lain kali, Nathan jangan mau membantunya, jadi kebiasaan nanti," ucap Nicholas.


"Yeee, iri ya, gak aku bilang tampan dan baik?" balas Nabila sembari menjulurkan lidahnya.


Nathan tidak menanggapi sama sekali. Pemuda itu hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mie goreng buatan Naura kini sudah tersaji di atas meja. Walaupun sangat sederhana, tapi aromanya benar-benar sangat menggugah selera.


"Wah, udah matang rupanya. Aku sudah sangat lapar, ini sudah bisa di makan kan?" Nicholas menatap mi goreng dengan tatapan lapar sembari menggosok-gosok telapak tangannya.


Nabila beranjak mengambil empat buah piring dan meletakkannya di atas meja. Gadis remaja itu juga tidak lupa mengambil sendok dan garpu.


Setelah mie goreng sudah tersaji di piring masing-masing, dan sudah selesai berdoa lebih dulu, ke empat orang yang duduk di meja makan itu, langsung menyantap makanan sederhana mereka namun terasa sangat nikmat, khususnya buat Nathan.


Ting nong ....


Di saat sedang asik makan, tiba-tiba ada yang memencet bel di pintu, pertanda ada seseorang yang datang. Ke empat orang itu sontak saling silang pandang, bertanya-tanya siapa yang sedang berkunjung. Karena kalau Rehan papa mereka yang datang kembali, sangat tidak mungkin. Pria itu bisa masuk tanpa harus menekan bel, karena sudah tahu password untuk membuka pintu apartemen Nicholas.


"Siapa yang datang itu? apa kamu mengundang seseorang ke sini, Nathan?" Nicholas buka suara.


"Tidak sama sekali, Kak. Tadi kan kakak tahu sendiri kalau aku sempat mau ...." Nathan langsung menggantung ucapannya, karena tersadar kalau dia sampai keceplosan mengatakan kalau dia sempat mau pergi, pasti akan menimbulkan pertanyaan, dari sang mama, yang menanyakan alasan kenapa dia mau pergi.


"Kamu sempat apa?" tuh kan, Naura sudah terlihat penasaran.


Ting nong ...


Kembali bel berbunyi.


"Tidak ada, Ma. Aku buka pintu dulu ya! soalnya kasihan orang yang di depan,lama menunggu,". Nathan sontak berdiri dan langsung beranjak pergi.

__ADS_1


Saking gugupnya, Nathan lupa untuk mengintip lebih dulu siapa yang datang. Pemuda itu yakin kalau yang datang pasti dua orang sahabatnya. Namun, dugaannya salah. Pemuda itu benar-benar kaget melihat sosok yang berdiri di depannya.


"K-Kak Arsen!" gumam Nathan sembari berusaha menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa sulit untuk ditelan. Bagaimana tidak, pemuda itu benar-benar tidak bisa membayangkan kalau seandainya kakaknya itu melihat keberadaan Naura di tempat itu.


"Hei,Nathan, kenapa kamu bengong? ini kakak!" Arsen melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Nathan.


"K-Kak, kenapa tidak menghubungiku dulu kalau mau datang ke sini?" ucap Nathan sembari sesekali melirik ke arah dapur.


"Sudah! aku dari tadi menghubungimu, tapi tidak kamu angkat. Makanya kakak memutuskan untuk datang ke sini untuk melihat keadaanmu," sahut Arsen.


Nathan merogoh saku celananya untuk meraih ponselnya. Benar saja, tampak beberapa panggilan tak terjawab dari sang kakak dan sebagian lagi dari Dava.


"Sial! kenapa tadi aku tidak angkat sih teleponnya? kalau sudah begini, bagaimana caranya biar kak Arsen segera pergi ya?" batin Nathan, bingung.


"Kamu kenapa sih? kamu tidak senang ya, kalau kakak datang mengunjungimu?" alis Arsen bertaut, curiga.


"Bukan begitu, Kak. Tapi ... aduh bagaimana ya bilangnya? atau apa aku harus jujur saja. Tapi kayaknya butuh waktu lama untuk menjelaskan," batin Nathan, benar-benar mati langkah.


"Nathan, kamu kenapa? lagian kenapa kamu dari tadi melirik ke arah dapur? apa kamu lagi menyembunyikan sesuatu?" tiba-tiba Arsen mendengar suara seorang perempuan dari arah dapur.


"Nathan, apa kamu membawa seorang perempuan ke dalam apartemen ini? kamu jangan macam-macam ya!" Arsen bergerak hendak menerobos masuk, tapi langsung ditahan oleh Nathan.


"Aku tidak macam-macam, Kak. Kakak pergi aja dulu ya! nanti aku akan menghubungi kakak dan menjelaskan apa yang terjadi,"


"Menjelaskan apa yang terjadi? kok aku semakin bingung dan curiga ya?" alis Arsen naik ke atas, menatap Nathan dengan tatapan menyelidik.


"Nanti saja ya, Kak! aku pasti akan je__"


"Nathan, siapa yang datang,Nak? kenapa kamu lama sekali?" tiba-tiba Naura muncul. Wajah Nathan sekarang benar-benar sudah pasrah.


Sementara itu, mata Arsen membesar, benar-benar kaget melihat sosok wanita yang sangat dia kenal itu.


"Tante Naura?" ucap Arsen dengan lirih.


"Kamu mengenalku?" Naura mengrenyitkan keningnya.


"Tentu saja, Tante!" kemudian Arsen menoleh ke arah Nathan.


"Nathan, kenapa kamu tidak bilang ke kakak, kalau kamu sudah bertemu dengan mama kandungmu?"


"Mama kandung? apa maksudnya ini?" celetuk Naura, dengan kening yang semakin berkerut.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2