
Nicholas berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan wajah kusut seperti pakaian yang belum disetrika. Hal itu tentu saja menarik perhatian Rehan. Sedangkan Naura bersikap biasa saja, karena wanita setengah baya itu, sudah bisa memprediksi kalau hal itu pasti akan terjadi.
"Nicho, kamu kenapa? bukannya kamu baru saja makan malam dengan Renata? tapi, kenapa mukamu nggak bersemangat seperti itu?" tanya Rehan dengan alis yang bertaut tajam.
"Tidak apa-apa, Pa. Aku hanya capek aja. Aku ke kamar dulu ya!" tanpa menunggu jawaban, Nicholas langsung berlalu pergi, naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Naura menghela napasnya. Jujur, wanita itu sangat bingung sekarang. Jika dia mengatakan agar Nicholas jangan terlalu berharap dan membatalkan perjodohan, dia takut kalau dianggap pilih kasih dan mengaitkannya dengan kenyataan di mana Nathan anak kandung sedangkan Nicholas anak sambung.
"Sayang, coba kamu ke atas dan tanya baik-baik pada Nicholas. Dia pasti akan lebih terbuka padamu," ucap Rehan.
"Emm, sepertinya untuk kali ini, aku sarankan papa aja yang bicara padanya," tolak Naura dengan halus dan lembut.
"Kenapa seperti itu? bukannya selama ini dia lebih terbuka padamu dibandingkan ke aku?" Rehan mengrenyitkan keningnya.
Naura terlihat semakin bingung dan merasa dilema.
"Emm, aku tahu, Pa. Tapi, kali ini aku merasa kalau aku yang bertanya, dia pasti tidak akan mau terbuka," ucap Naura ambigu.
Rehan terlihat semakin bingung dan menatap Naura dengan mata yang memicing curiga. Namun, hal itu tidak berlangsung lama, detik berikutnya pria itu menghela napasnya dan berdiri dari tempat duduknya.
"Baiklah! aku yang akan pergi bertanya padanya," Rehan melangkah pergi, setelah Naura menganggukkan kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rehan mengetuk pintu kamar Nicholas dengan pelan. Karena tidak mendapat tanggapan dari dalam, Rehan mencoba untuk membuka pintu yang ternyata tidak dikunci dari dalam.
Rehan mengrenyitkan keningnya, melihat Nicholas berbaring dengan menutup wajahnya dengan bantal. Pria setengah baya itu, kemudian mengayunkan kakinya melangkah menghampiri Nicholas.
"Nicho, apa kamu boleh menceritakan pada papa, apa yang terjadi padamu?" tanya Rehan sembari duduk di tepi ranjang.
Nicholas menyingkirkan bantal yang menutupi wajahnya dan langsung duduk.
"Pa, aku sekarang sedang dilema, mau terus melanjutkan perjodohan ini atau membatalkannya," ucap Nicholas dengan lirih.
Kening Rehan semakin berkerut, bingung.
__ADS_1
"Emangnya kenapa? bukannya ini semua permintaan kamu. Karena kamu yang mintalah makanya papa mendatangi Rajendra. Tapi, kenapa sekarang kamu malah bimbang?"
"Renata tadi memintaku untuk menolak perjodohan ini, Pa. Dia tidak mau dijodohkan denganku," Wajah Nicholas terlihat semakin sendu.
"Kenapa?"
"Karena dia tidak memiliki perasaan apapun padaku, dan mencintai laki-laki lain,"
Rehan bergeming, diam seribu bahasa untuk sepersekian detik.
"Emm, tapi kan perasaan seseorang itu bisa berubah, Nicho. Bisa saja perasaan Renata pada laki-laki itu tidak terlalu dalam dan cepat berubah kalau kamu memberikan perhatian lebih padanya," Rehan mencoba menyemangati putranya yang semakin dewasa itu.
"Awalnya aku berpikir seperti itu, Pa. Tapi, masalahnya aku nggak yakin karena laki-laki itu adalah orang dekat kita . Aku takut kalau aku tetap nekad, akan membuat hati mama sedih dan sakit,"
Kening Rehan semakin berkerut, berusaha mencerna ucapan Nicholas. "Apa hubungannya dengan mama kamu? kenapa mama kamu bisa sedih dan sakit hati?" gumam Rehan.
Kemudian, pria setengah baya itu tersadar akan sesuatu dan menatap Nicholas.
"Jangan bilang, kalau laki-laki yang kamu maksud itu Nathan. Apa dugaan papa benar?" tanya Rehan dengan nada menuntut penjelasan.
Rehan mengembuskan napas dengan berat sembari mengusap wajahnya dengan kasar. Dia akhirnya mengerti kenapa tadi istrinya itu menolak permintaannya ketika diminta bertanya pada Nicholas. Sekarang pria itu benar-benar dilema. Kalau dirinya membatalkan perjodohan, dia kasihan dengan Nicholas yang merupakan anak kandungnya. Bagaimanapun sebagai seorang ayah, dia menginginkan kebahagiaan anaknya, tapi, kalau tetap bisa melanjutkan, ada dua hati yang akan terluka Naura istrinya dan Nathan anak sambungnya.
"Jadi, bagaimana keputusanmu?" tanya Rehan akhirnya.
"Biarkan aku pikirkan dulu, Pa! Karena kalau kita membatalkannya, om Rajendra akan merasa kalau kita mempermainkannya. Kita yang meminta tapi kita juga yang membatalkan,"
Rehan mengangguk-anggukkan kepalanya, karena apa yang dikatakan oleh anaknya itu sangat tepat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nicholas tampak keluar dari sebuah ruangan yang tidak lain adalah ruangan kerja Rajendra papanya Renata.
"Mau ngapain, Kakak datang ke sini?" Renata mencegat Nicholas sebelum pria itu sampai ke mobilnya.
Rehan tersenyum simpul, "Menurutmu aku ngapain?" Nicholas mengerlingkan matanya pada gadis yang dicintainya itu.
__ADS_1
"Jangan bilang kalau kamu mau terus melanjutkan perjodohan kita," tebak Renata dengan was-was.
"Exactly! pintar juga kamu!" ucap Nicholas sembari mengacak-acak rambut Renata. Ya, setelah memikirkan matang-matang, akhirnya Nicholas memutuskan untuk tetap melanjutkan perjodohan dengan sebuah pertimbangan yang hanya dirinyalah yang tahu.
Renata sontak menepis tangan Nicholas dengan kasar dan menatap pria itu dengan tatapan mengajak perang.
"Kakak gila! tidak punya perasaan! terserah Kakak mau apa, tapi yang jelas jangan harap aku bisa mencintai, Kakak!" cetus Renata dengan mata yang berkilat-kilat, amarah.
"Jangan terlalu yakin dulu! semua orang itu pasti bisa berubah, termasuk perasaanmu!" ucap Nicholas sembari tetap tersenyum.
"Tapi tidak dengan perasaanku! jadi jangan terlalu berharap! aku lebih baik tidak menikah seumur hidup dari pada harus menikah dengan kakak,"
"Dan aku pastikan itu tidak akan terjadi. Karena jika kamu menolak, perusahaan papa kamu taruhannya. Kamu tahu sendiri kan kalau perusahaan kami menarik semua investasi dari perusahaan papamu, perusahaan itu akan hancur," bisik Nicholas dengan sudut bibir yang menyeringai licik.
"Kamu licik! kamu tidak punya perasaan sama sekali. Kamu itu orang yang paling egois yang pernah aku kenal!" Renata mengumpat, menghilangkan panggilan kakak.
"Terserah kamu mau mengatakan apa. Yang jelas, minggu depan kita akan bertunangan. Siapkan dirimu!" pungkas Nicholas sembari pergi menuju mobilnya. Pria itu kembali melemparkan senyumnya sebelum masuk ke dalam mobil.
Sementara itu, Renata menatap penuh kebencian ke arah perginya mobil Nicholas. Kemudian, gadis itu berlari masuk ke dalam rumah untuk menemui sang papa.
"Papa!" panggilnya dengan suara tinggi.
"Kenapa kamu teriak-teriak! papa belum tuli," sahut Rajendra memasang wajah datar.
"Papa kenapa ingkar janji? bukannya Papa mengatakan pada Nathan, kalau Papa akan menunggu dia membuktikan kata-katanya? tapi kenapa sekarang papa mau menjodohkanku dengan Nicholas?" Renata menyampaikan protesnya dengan cepat, secepat kereta api.
"Itu semua demi kebaikanmu. Papa tidak yakin kalau pria yang bernama Nathan itu bisa menepati janjinya," Rajendra masih terlihat santai sembari menyilangkan kakinya.
"Papa, bukannya papa selalu dikenal dengan pria yang selalu memegang kata-katanya? tapi kenapa sekarang papa berubah? papa memang egois? aku tahu, papa menerima lamaran mereka demi kelancaran bisnis papa. Bukannya itu, papa menjadikanku sebagai alat pertukaran bisnis?"
"Diam! pokok kamu tidak boleh membantah lagi. Sekarang kamu masuk ke kamarmu!" titah Rajendra, dengan suara menggelar dan tatapan yang sangat tajam.
Tbc
Makin panas kayanya nih. Tenang ya Guys, ada sebuah hal yang dipikirkan Nicholas kenapa akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan perjodohan.😁
__ADS_1