Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Berat hati


__ADS_3

Kedatangan keluarga besar Nathan disambut baik dan bahagia oleh Lina mamanya Renata. Namun tidak dengan Rajendra. Raut wajah pria setengah baya itu terlihat datar, sukar untuk dibaca. Entah apa yang tengah dipikirkan oleh pria itu. Sepertinya sedang ada yang menggangu pikiran papanya Renata itu.


Setelah berbasa-basi beberapa saat, akhirnya Rehan buka suara mengutarakan maksud kedatangan mereka ke kediaman Rajendra, yakni ingin melamar Renata secara resmi dan juga ingin membicarakan tanggal pernikahan Nathan dan Renata.


Wajah Renata terlihat bercahaya, dikarenakan sangat bahagia, demikian juga dengan Nathan.


"Pa, kenapa diam saja? kasih tanggapan dong," bisik Lina persis ditelinga Rajendra, yang terlihat tidak fokus.


"Emm, baiklah! Pak Rehan, Ibu Naura, terima kasih atas niat baiknya untuk segera meresmikan hubungan antara kedua anak kita ke jenjang pernikahan. Aku memang sangat bahagia karena tujuannya sangat mulia, tapi sebelum aku jawab aku mau bertanya satu pertanyaan pada Nathan," Rajendra mengalihkan tatapannya pada Nathan.


"Nak Nathan, Om mau tanya, setelah kalian berdua menikah, di mana kalian berdua akan tinggal? apakah kamu akan memboyong putriku ke London?"


Nathan mengrenyitkan keningnya, merasa pertanyaan calon mertuanya itu sedikit aneh.


"Kenapa bertanya seperti itu? bukannya itu sudah menjadi suatu kepastian? tidak mungkin kan aku meninggalkannya di Jakarta," bisik Nathan pada dirinya sendiri.


Walaupun Nathan merasa pertanyaan Rajendra sedikit tidak masuk akal, tapi pria itu tidak mengutarakannya. Dia tetap berusaha untuk tersenyum.


"Emm, Iya, Om. Aku tidak mungkin meninggalkannya di Indonesia," jawab Nathan lugas.


Rajendra menarik napas dalam-dalam dan membuangnya kembali keluar.


"Ini yang membuat aku berat. Karena justru aku tidak ingin Renata kamu bawa ke London,"


Semua orang yang berada di tempat itu sontak terkesiap kaget mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Rajendra.


"Maksud Pak Rajendra apa?" bukan Nathan yang bertanya melainkan Rehan yang buka suara.

__ADS_1


"Pak Rehan, kamu tahu jelas kalau aku hanya memiliki satu putri pewaris dari perusahaanku, kalau dia ikut ke London siapa yang akan memegang kendali perusahaanku nantinya?" sahut Rajendra.


"Kenapa kamu baru memikirkannya sekarang? bukannya dari awal kamu sudah tahu kalau calon menantumu mengejar impiannya di benua lain? bukannya kamu juga sudah tahu jelas kalau perusahaan Nathan ada di London? kenapa setelah sampai sejauh ini, kamu terlihat keberatan? seharusnya kamu dari awal harus tegas dalam masalah ini, jangan setelah semua sudah direncanakan dengan baik, kamu jadi berubah pikiran," ujar Rehan yang sudah mulai geram.


"Pa, tenang! tahan emosimu!" Naura mengelus-elus dada Rehan suaminya.


"Pa, kenapa jadi seperti ini sih?" Renata mulai ikut protes.


"Pak Rehan,maaf kalau aku sudah membuat kacau! tapi, coba kamu tarik diriku menjadi dirimu. Kamu hanya punya seorang anak, dan itu merupakan perempuan, aku rasa kamu juga akan __"


"Aku tidak akan pernah jadi dirimu! kalaupun aku harus tarik ke diriku, aku pasti tidak akan plin-plan seperti dirimu. Dan yang pasti, aku sudah akan memikirkannya secara matang dari awal,apa konsekuensinya sampai yang terburuk sekalipun," Rehan dengan cepat langsung menyela ucapan Rajendra, sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya.


"Tolong jaga bicaramu, Pak Rehan. Aku tidak pernah plin-plan!" Rajendra mulai terpancing.


"Jadi, kalau bukan plin-plan, apa yang pantas kamu sebut tindakan kamu sekarang?" Rehan sudah mulai tidak sabaran lagi, walaupun Naura dari tadi sudah berusaha menenangkan suaminya itu.


Kenapa Rajendra, dulu menolak Nicholas dengan alasan untuk memberikan kesempatan pada Nathan, padahal akhirnya jadi begini? kenapa setelah Nathan benar-benar bisa membuktikan kalau dirinya bisa sukses, Rajendra baru memikirkan konsekuensinya, kenapa tidak dari dulu? Rehan benar-benar marah, karena merasa kalau Rajendra seakan sedang mempermainkan perasaan dua orang putranya.


"Pa, kenapa kamu jadi seperti ini sih? bukannya seharusnya kamu senang, kalau putrimu mendapatkan cinta yang tulus dari seorang pria? aku kecewa pada, Papa?" ucap Lina yang kini mulai emosi dengan suaminya itu.


"Aku kecewa juga pada Papa? mau sampai berapa kali,.Papa membuat putrimu sendiri kecewa?" Renata kembali buka suara.


Sementara itu, Nathan terlihat diam saja. Dia tidak mau memperkeruh suasana, walaupun jauh di dalam hatinya, dia kecewa berat dengan sikap papanya Renata. Namun di balik diamnya Nathan, pemuda itu sedang berpikir keras apa solusi buat masalah ini.


"Kenapa kalian semua menyalahkanku? kalian semua sama sekali tidak tahu apa yang aku rasakan. Aku sama sekali tidak menolak lamaran Nathan, tapi aku hanya bertanya apa yang selanjutnya akan terjadi. Apa Renata dibawa ke London atau tidak, itu saja!_ suara Rajendra mulai meninggi dan bergetar. Sepertinya pria itu ingin menangis, tapi dia tahan karena tidak ingin terlihat lemah.


"Justru yang jadi masalah itu, pertanyaanmu, Pak Rajendra! bukannya kewajiban seorang istri untuk ikut suaminya? kalau kamu tidak mau Renata ikut dengan suaminya, ya kamu nikahkan saja dia dari awal dengan orang yang bisa kamu kendalikan dan jangan meminta laki-laki itu untuk sukses dulu," kemarahan Rehan semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


"Papa, Jahat!" pekik Renata tiba-tiba sembari berlari naik ke atas menuju kamarnya.


"Nathan, ayo kita pulang!" titah Rehan, tegas.


"Tapi, Pa aku ...."


"Kalau kamu tidak mau pulang, terserah!" Rehan beranjak pergi, dan langsung disusul oleh Naura. sepertinya Rehan memang benar-benar sudah sangat marah. Pria setengah baya itu, merasa usahanya dan putranya selama ini sia-sia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Pa, kenapa kamu bisa seperti ini? kenapa kamu tidak konsisten dengan apa yang kamu ucapkan?" Lina kembali melontarkan protesnya, setelah ruang tamu mereka sepi.


"Ma, coba kamu sedikit saja mengerti dengan perasaanku. Aku hanya tiba-tiba merasa sedih, ketika membayangkan kalau aku harus tiba-tiba berpisah dengan putriku. Dengan tangan ini, aku menggendongnya untuk pertama kali. Aku adalah pria yang pertama dia lihat. Dengan tangan ini, aku membantunya belajar berjalan, berlari dan bermain-main dengannya. Tapi, begitu sudah dewasa aku harus berpisah dengannya. Kalau berpisah tapi masih dalam satu kota aku tidak akan mungkin bisa sesedih ini, tapi ini beda negara, Ma. Yang jaraknya kita tempuh belasan jam, di pesawat. Entah kenapa, dadaku terasa sesak memikirkannya, Ma. Apa mama kira aku tidak sedih, begitu dia melihat dia menangis? tapi yang lebih membuat aku sedih ketika dia menangis, bukan karena akan berpisah denganku. Dia menangis karena pria lain yang dia kenal begitu dia dewasa. Rasanya sakit, Ma!" Air mata yang dari tadi sudah ditahan oleh Rajendra, kini tumpah ruah di depan Lina sang istri.


Lina, bergeming. Air mata wanita itu, kini ikut menetes membasahi pipinya.


"Aku tidak menyangka kalau putri kita ternyata sudah dewasa. Tapi walaupun dia sudah dewasa aku tetap menganggap dia, masih seperti anak kecil. Jujur, aku merindukan celotehannya dulu, dia bersorak ketika aku pulang dari kerja. Aku rindu bercanda tawa dengannya. Aku sadar kalau itu memang kesalahanku, aku selalu mengabaikan hal-hal kecil seperti itu. Aku bahkan selalu membatasi apa yang ingin dia lakukan. Sekarang, begitu dia ingin menikah entah kenapa aku sangat merindukan moment dia waktu kecil dulu," lanjut Rajendra lagi.


"Tapi, Pa. Ini adalah konsekuensi yang harus kita hadapi, di mana ketika seorang anak perempuan sudah menikah, dia harus ikut dengan suaminya. Mau tidak mau kita harus menerima kenyataan itu. Papa harusnya sudah siap dengan hal itu," Lina kini buka suara.


"Papa sendiri yang mengatakan kalau Papa kagum dengan pribadi Nathan yang kuat dan penuh semangat, dan pantang menyerah. Bukannya dia adalah menantu yang sangat kamu inginkan untuk bisa menggantikanmu membahagiakan putrimu? Kita akan semakin tua, Pa, dan bukannya Papa sudah yakin menyerahkan tugas melindungi Renata pada Nathan, menggantikanmu? yakinlah, Pa, walaupun mereka nanti tinggal di London, Nathan tidak akan pernah berniat menjauhkanmu dengan Renata," lanjut Lina lagi, berusaha membujuk suaminya itu.


Tanpa mereka sadari Renata, mendengar semua luapan hati pria yang boleh dikatakan adalah cinta pertamanya. Ya, seorang ayah adalah cinta pertama buat seorang anak perempuan. Kata-kata itu sangat benar adanya. Renata kembali masuk ke dalam kamar dan menangis terisak-isak.


Sementara itu, begitu Renata kembali masuk ke dalam kamar, Nathan yang ternyata belum pulang, masuk kembali ke dalam kediaman Rajendra.


"Om, boleh kita bicara?" ucap Nathan, tanpa basa-basi, hingga membuat Rejendra dan Lina kaget dan sontak menatap ke arah Nathan yang berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2