Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Kamu jadi sekretarisku


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa sudah 3 kali kalender berganti. Renata kini diharuskan untuk melakukan magang di sebuah perusahaan.


"Ren, kamu sudah menemukan tempat magang tidak? kalau aku belum sama sekali," tanya Anisa, sahabat Renata yang berparas cantik dan lucu. Anisa adalah mahasiswi yang berasal dari keluarga sederhana, dan mendapatkan bea siswa full karena memiliki kecerdasan di atas rata-rata, seperti Renata.


"Emm, belum juga sih. Susah Nis mencari tempat magang Zaman sekarang," ucap Renata.


"Emm, bagaimana kalau hari ini kita cari bersama tempatnya? kali aja, kita beruntung kan?" seperti biasa, Anisa selalu berusaha untuk berpikir positif dan mempercayai yang namanya keberuntungan. Baginya, keberuntungan itu tidak akan pernah salah alamat.


"Emm, ok baiklah! Semangat buat kita berdua!" aura positif dari Anisa benar-benar menular pada Renata.


Sebenarnya, kalau Renata mau, bisa saja dia menawarkan sahabatnya itu, untuk magang di perusahaan sang papa. Namun, gadis itu takut kalau dengan magangnya nanti sang sahabat di kantor papanya, statusnya yang merupakan anak orang kaya bisa terbongkar. Kenapa bisa seperti itu? itu karena Anisa selalu menghindar bergaul dengan anak-anak orang kaya. Mungkin, gadis itu pernah punya pengalaman pahit dengan yang namanya anak orang kaya. Karena alasan itu, jadilah Renata menutupi siapa dia sebenarnya dengan berpura-pura berasal dari keluarga sederhana juga sama seperti Anisa.


"Kalau begitu, ayo sekarang kita jalan! kita sudah tidak ada kelas kan hari ini?" dengan semangat Anisa menarik tangan Renata yang sama sekali tidak bisa menolak.


Ketika ke dua gadis itu sudah keluar dari pintu pagar kampus, tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti di depan mereka.


Renata mendengus kesal, karena dia tahu siapa pemilik mobil itu. Sementara Anisa, dia mengrenyitkan kening, bingung kenapa ada mobil mewah yang berhenti di depan mereka.


Seorang pria yang tidak lain adalah Nicholas, keluar dari dalam mobil dan tersenyum ke arah Renata. Namun, gadis itu sama sekali tidak membalas senyuman itu, justru dia memalingkan wajahnya, enggan melihat wajah pria yang sekarang masih menyandang status sebagai tunangannya.


Sementara itu, reaksi berbeda datang dari Anisa. Gadis cantik itu membesarkan matanya, terpukau melihat sosok Nicholas yang benar-benar sempurna di matanya. Namun, detik berikutnya wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya, menepis kekagumannya. "Tidak, hentikan rasa kagummu, Nisa! karena sepertinya dia orang kaya, tidak sebanding denganmu," bisik Anisa pada dirinya sendiri.


"Mau pulang, Sayang? ayo masuk ke dalam mobil!" Nicholas membukakan pintu mobil untuk Renata.


"Sayang? dia memanggil Renata sayang?" batin Anisa yang entah kenapa sedikit merasa kecewa "Apa dia pacarnya Renata? kalau iya ... berarti Renata punya pacar orang kaya dong," Anisa melihat Nicholas dan Renata, bergantian penuh tanda tanya.


"Jangan panggil-panggil aku sayang! aku bukan sayangmu!" cetus Renata memasang wajah sinis.


"Kenapa tidak boleh? aku kan tunangan kamu, jadi, pantas dong aku panggil kamu sayang," jawaban Nicholas, kembali membuat Anisa kaget. Gadis, itu sontak menatap Renata, dengan tatapan yang penuh tanya.


"Sialan! pakai diomongin segala, kalau aku tunangannya, pasti Anisa sekarang curiga," Renata menggerutu di dalam hati.


"Ren, benar dia tunangan kamu?" Anisa bertanya dengan sangat hati-hati.


"Emm __"


"Iya, benar! emangnya kenapa?" belum sempat Renata menjawab, Nicholas sudah main sambar saja.


"Aku tidak bertanya pada anda. Aku, bertanya pada sahabatku," jawab Anisa ketus dan mata yang menatap sinis.

__ADS_1


"Nis, dia memang tunanganku, tapi aku terpaksa bertunangan dengan dia. Dia memaksaku __"


"Apa? dia memaksamu! dia pasti memakai kuasanya kan untuk memaksa seorang gadis untuk mau sama dia, seperti di novel-novel itu! Iya kan?" tukas Anisa yang langsung memotong ucapan Renata, sebelum gadis itu selesai berbicara.


"Haish, ini lagi korban novel!" sungut Nicholas sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Exactly! kamu benar, Nis. Dia memang memaksaku, karena tahu kalau aku tidak punya apa-apa!" Dengan santainya Renata membenarkan tuduhan Anisa, hingga membuat mulut Nicholas terbuka dengan mata yang membesar.


"Benar-benar kurang ajar! dia pasti mengancam kamu, kalau kamu tidak mau, dia akan membuat keluargamu menderita, iya kan?" Anisa memang benar-benar sudah terpengaruh dengan novel-novel online yang dia baca.


"Ho-oh!" Renata mengiyakan sembari berusaha menahan tawanya.


"Dasar brengsek! orang kaya memang jahat! selalu memaksa seseorang yang lemah menggunakan kekayaannya!" Anisa menggerutu tidak jelas, sembari menatap Nicholas dengan tatapan bengis. Rasa kagumnya hilang seketika.


"Hei, kenapa kamu melihatku seperti itu?". Nicholas bergidik melihat tatapan Anisa. Sementara Renata, memalingkan wajahnya, karena berusaha menahan tawanya.


"Kamu pergi dari sini, sebelum aku pukul kamu pakai, buku tebal ini! kamu jangan memakai kuasa kamu untuk memenuhi naf*su bejatmu," Cetus Anisa, mengusir Nicholas. Gadis itu benar-benar sudah percaya kalau pria di depannya itu bukanlah pria baik-baik.


"Hei, kamu jangan asal fitnah! Aku tidak pernah mengancamnya. Lagian siapa kamu berusaha mengusirku, hah? kamu tahu, kampus tempat kamu ini, adalah milik keluargaku. Apa kamu mau aku meminta kamu dikeluarkan dari sini?" Nicholas mulai berang.


Mata Anisa membesar, terkesiap kaget


"Oh, jadi kamu mendapatkan beasiswa di kampus ini? baiklah, kalau begitu aku akan meminta papaku mencabut bea siswa atas nama ... oh ya, siapa namamu?" Alis Nicholas bertaut karena sebenarnya dia belum tahu nama gadis di depannya itu.


"Kak Nicholas, jangan sampai seperti itu! itu sama saja kamu membuat cita-cita seseorang berhenti di tengah jalan. Lagian, aku yakin kalau Om Rehan juga pasti tidak akan setuju dengan keputusanmu," akhirnya Renata buka suara menghentikan perdebatan kedua orang itu.


"Om, Rehan? apa yang kamu panggil om Rehan itu adalah Pak Rehan Sanjaya?" tanya Anisa was-was.


"Iya!" singkat padat dan jelas.


"Jangan bilang, kalau dia ini putra Pak Rehan! dia bukan putra Bapak itu kan?" tanya Anisa memastikan.


" Sayangnya, dia memang putra beliau," Anisa melemah, seketika merasa tidak berdaya. Karena bagaimanapun, pendidikannya tergantung dengan bea siswa yang diberikan oleh kampus itu.


"Nah, sekarang sudah jelas kan?" Nicholas menyeringai sinis.


"Cih, walaupun kamu itu putra pak Rehan, tapi sikap kamu benar-benar bukan seperti beliau. Beliau orang yang bijaksana, sedangkan kamu, tidak sama sekali," entah dari mana datangnya keberanian Anisa lagi.


"Kamu ya ...." Nicholas terlihat benar-benar kesal.

__ADS_1


"Apa? mau pukul aku? ayo pukul lah!" tantang Anisa.


"Haish, kenapa jadi begini sih? tidak boleh jadi ini. Aku harus menghentikan perdebatan mereka berdua!" bisik Renata pada dirinya sendiri.


"Kak, ayo ikut aku sebentar!" Renata menarik tangan Nicholas, menjauh sedikit dari Anisa.


"Dari planet mana sih teman kamu itu? tidak ada takutnya sama sekali! protes Nicholas sembari menatap sinis ke arah Anisa yang kembali mengacungkan tinjunya dari jauh.


"Kamu juga, yang lebih dulu memancingnya," protes Renata.


"Hello, kamu duluan yang memfitnahku!" Nicholas tidak mau kalah.


"Ya, maaf deh. Aku melakukannya karena tidak ingin dia tahu siapa aku sebenarnya," ucap Renata.


" Maksudnya?" Nicholas mengrenyitkan keningnya.


Mau tidak mau, akhirnya Renata menceritakan kalau dia menutupi statusnya yang sebenarnya pada Anisa, karena sahabatnya itu selalu menghindar dari orang yang memiliki status orang kaya.


"Oh, seperti itu?" Nicholas mengangguk-anggukkan kepalanya dengan ekor mata yang melirik ke arah Anisa.


"Iya. Jadi, aku harap, Kakak jangan kasih tahu statusku padanya,"


"Mau sampai beberapa lama kamu berbohong padanya? asal kamu tahu, suatu saat kebohongan kamu akan terbongkar sendiri,"


Renata terdiam untuk beberapa saat, tidak membantah ucapan Nicholas. Detik berikutnya, gadis itu mengembuskan napas dengan berat.


"Untuk masalah itu, aku pikirkan nanti saja. Yang penting kamu jangan buka mulut," Renata berbalik badan, hendak meninggalkan Nicholas. Namun, tiba-tiba gadis itu menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menghadap Nicholas.


"Kak, boleh gak aku meminta, untuk menerima dia magang di perusahaanmu?"


Nicholas tidak langsung menjawab. Pria itu hampir saja menolak, tapi begitu melihat raut wajah Renata yang memelas, Dia langsung tersenyum dan menganggukkan kepala.


"Boleh saja, tapi dengan satu syarat," Nicholas tersenyum penuh makna.


"Apa tuh, Kak?"


"Kamu juga magang di perusahaanku dan jadi sekretarisku, bagaimana?" Nicholas mengerlingkan matanya.


Renata memutar bola matanya, merasa jengah dengan sikap pria di depannya.Ingin rasanya dia menolak, tapi demi sahabatnya akhirnya gadis itu mengangguk, mengiyakan.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2