Kan Kukejar Mimpi

Kan Kukejar Mimpi
Hobby berdebat


__ADS_3

Rehan dan Arsen udah mendarat dengan sempurna di bandara Soekarno Hatta. Mereka berdua berjalan beriringan sembari menarik koper masing-masing.


"Arsen, kamu mau ikut mobil Om atau bagaimana?" tanya Rehan, ketika mobil jemputannya sudah tiba.


"Sepertinya tidak usah, Om. Aku naik taksi saja, soalnya kita beda arah," sahut Arsen dengan sopan.


"Oh, seperti itu ya? baiklah! kalau begitu Om duluan ya!"


"Iya, Om!"


Rehan masuk ke dama mobil dan melambaikan tangannya sebelum si supir melajukan mobilnya.


Arsen menatap kepergian mobil yang membawa Rehan sampai menghilang dari pandangannya. Pria itu kemudian menghela napasnya dengan panjang. Raut wajahnya seketika berubah sedih.


"Kak, apa kabar di sana? aku sudah kembali lagi, dan sudah menyampaikan pesanmu buat adik kita. Bahagia ya di sana. Sekarang aku hidup sendiri di rumah kita. Aku pasti akan kesepian sekarang," batin Arsen sembari menyeka butiran cairan bening yang sempat keluar dari sudut matanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mobil yang membawa Rehan kini berhenti di depan sebuah gedung, yang merupakan perusahaannya sendiri.


"Pak, Bapak pulang ke rumah dulu dan bawa barang saya. Aku akan menghubungi Bapak nanti kalau aku mau pulang," titah Rehan pada sang supir yang langsung menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


Ya, Rehan memutuskan untuk langsung ke kantor, ingin melihat perkembangan perusahaan di bawah pimpinan Nicholas selama dia tinggal.


Pria setengah baya itu berjalan masuk dan tentu saja akan selalu mendapat penghormatan dari para karyawan yang berpapasan dengannya.


Ketika pria setengah baya itu sedang berjalan melewati sebuah divisi keuangan, dia mendengar ada keributan yang sedang terjadi. Rehan mengrenyitkan keningnya dan sontak berhenti untuk melihat apa yang sedang terjadi.


"Hei, kamu jangan belagu ya jadi orang! kamu itu hanya sekretaris magang Pak Nicholas, jadi jangan bangga dulu! selesai magang, paling kamu langsung didepak dari sini," bentak seorang wanita pada seorang wanita lainnya yang tidak lain adalah Anisa. Di samping Anisa berdiri seorang wanita lain yang memakai seragam OG. Wanita itu terlihat menundukkan kepalanya, ketakutan.


"Yang sombong itu saya atau situ, Mbak? aku hanya menegur, Mbak agar gak semena-mena terhadap orang lain. Mbak sadar nggak sama yang Mbak lakukan tadi? Mbak dengan sengaja membuang tissue bekas melap ingus di lantai, padahal dengan jelas Mbak melihat ada tempat sampah di bawah kakimu. Kenapa Mbak harus meminta mbak ini untuk membuangkannya untukmu? Mbak punya tangan kan?" Anisa membalas ucapan Wanita yang dilihat dari kartu karyawan bernama Sarah.

__ADS_1


"Hei, itu kan kerjaan dia! kerjaan dia kan emang bersih-bersih. Ribet banget sih hidup kamu. Jangan sok jadi pahlawan deh!" wanita bernama Sarah itu tidak mau kalah.


"Pekerjaan dia memang bersih-bersih, tapi apa salahnya sih kita bantu meringankan pekerjaan seseorang? Meringankan pekerjaannya bukan kita harus ikut bantu bersih-bersih, tapi, dengan Mbak, membuang sampah sendiri, itu sudah termasuk membantu. Mbak punya hati nggak sih? atau jangan-jangan Mbak punya hati, tapi tidak digunakan. Dibiarkan menganggur begitu saja. Kasihan banget hatimu dianggurin!" sindir Anisa dengan nada yang sarkas.


"Hei, berani sekali kamu ya!" tangan Sarah terayun hendak menampar wajah Anisa. Akan tetapi, dengan sigap tangan Anisa menangkap tangan Sarah dan menghempaskannya.


"Aku memang hanya karyawan magang, tapi aku tidak pernah takut dengan yang namanya senioritas apalagi seperti Mbak. Kalau salah, aku tidak akan tinggal diam. Kalau tadi Mbak bertengkar dengan kekasihmu atau siapapun itu, aku tidak akan peduli. Tapi, kalau Mbak sudah berniat menindas orang lemah, sumpah demi apapun, aku tidak akan tinggal diam. Tadi, seandainya Mbak, meminta tolong padanya, karena sedang sibuk, masih boleh dimaafkan, walaupun memang sedikit tidak masuk akal, karena kamu masih punya tangan. Tapi, tadi yang kamu lakukan itu memerintah, tahu nggak! Coba posisikan kalau seandainya Mbak yang ada di posisinya," ucap Anisa yang mengeluarkan keahliannya yaitu 'berbicara cepat'.


"Tidak mungkin aku seperti dia. Aku punya pendidikan, sedangkan dia ... dia pasti hanya lulusan __"


"SMA, SMP, begitu kan yang mau Mbak katakan? Hei, dengan atitude yang kamu tunjukkan barusan, tidak mencerminkan kalau kamu berpendidikan. Seharusnya kalau kamu berpendidikan, kamu tahu mana yang benar dan mana yang salah, Atitude pasti kamu jaga. Sekali lagi, kamu harus ingat pendidikan itu tidak melulu hanya akademik, tapi harus disertai dengan moral. Buat apa pintar di dalam akademik, tapi moral tidak ada. Dan satu lagi, jangan pernah memandang rendah orang yang pendidikannya hanya sampai SMA atau SMP, belum tentu pengetahuannya lebih rendah dibandingkan anda. Bisa saja pengetahuannya lebih tinggi, hanya saja dia harus menyerah dengan kondisi ekonomi, yang tidak memungkinkan dia bisa melanjutkan pendidikannya. Oh ya, Jangan pernah menatap remeh juga pada mereka, karena bisa saja dia lebih sukses dari kamu. Apa sih yang tidak mungkin di dunia ini. Aku tidak akan menyalahkan orang tua, Mbak, dengan mengatakan kalau orang tua Mbak tidak menanamkan nilai-nilai moral pada, Mbak, karena mungkin Mbak sudah diajarkan, tapi otak Mbak aja yang nggak terima, karena tertutup rasa sombong," Anisa berlalu pergi sembari meraih tangan OB tadi, meninggalkan Sarah yang menggeram sembari mengepalkan tangannya.


Wanita bernama Sarah itu benar-benar malu pada rekan-rekannya yang lain, karena seumur-umur baru kali ini ada yang mendikte sikapnya, apalagi itu hanyalah karyawan magang.


"Awas kamu nanti!" umpat Sarah dalam hati.


Sementara itu, Rehan tersenyum tipis melihat kejadian itu. Pria itu, dengan sengaja tidak menegur, tapi melanjutkan langkahnya.


Anisa berhenti dan menatap tajam ke arah OG itu. "Mbak, kamu jangan mau lemah. Kalau kamu diberlakukan tidak adil, kamu harus berani melawan. Kalau kamu diam saja, kamu pasti akan selalu ditindas. Walaupun kita orang lemah, kita ini masih punya harga diri," ucap Anisa dengan berapi-api.


"Aku tahu, Mbak. Tapi, perlawanan orang lemah sepertiku sama sekali tidak ada gunanya. Karena aku yang akan rugi sendiri. Aku bisa saja dipecat dan aku tidak punya kekuatan untuk melawan,"


Anisa seketika terdiam mendengar ucapan OG itu.


"Maafkan aku! kamu tenang saja, kalau nanti kamu ada masalah, kamu kasih tahu aku, dan aku akan pasang badan membantumu. Kalaupun harus keluar dari perusahaan ini, untuk menyelamatkan pekerjaanmu, aku bersedia." ucap Anisa, yakin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Masuk!" titah Nicholas dari dalam begitu mendengar ada yang mengetuk pintu ruangannya.


"Kami sibuk, Nicho?" sapa orang yang baru saja masuk yang ternyata adalah Rehan papanya.

__ADS_1


"Eh, Papa! Papa pulang kok tidak kasih kabar?" Nicholas berdiri dan langsung berjalan menyambut sang papa.


"Kenapa harus dikasih kabar? supaya kamu bisa mencari alasan mempekerjakan karyawan magang, dan langsung jadi sekretaris ya?" ucap Rehan, dengan alis bertaut.


"Eh, kok Papa bisa tahu? Papa menyelidiki aku ya?"


"Tidak sama sekali. Hanya saja aku dengar dia tadi ribut-ribut di divisi keuangan,"


Nicholas meringis dan memijat-mijat kepalanya. "Ish, dia ya. Di mana-mana selalu saja, ngajak orang berdebat. Berdebat itu hobbynya kali ya?" gumam Nicholas sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Siapa nama gadis itu? dan kenapa dia kamu kasih jabatan sebagai sekretaris?" sudut mata Rehan, naik sedikit ke atas, curiga.


"Nama dia Anisa, Pa. Dia sahabatnya Renata. Awalnya Renata yang aku minta jadi sekretarisku, tapi karena ada sesuatu hal, Renata aku berhentikan dan meminta dia menggantikan Renata," sahut Nicholas dan Rehan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Tapi, kenapa Papa menanyakan namanya? bukannya Papa harusnya sudah tahu? dia kan mahasiswi yang menerima bea siswa di kampus kita, Pa. Papa sendiri kan yang memberikan bea siswa itu padanya?" Nicholas melanjutkan ucapannya.


"Papa hanya menerima pengajuan dari rektor. Tidak semua Papa kenal orangnya. Papa pelajari kualifikasi yang disarankan oleh rektor, setelah itu aku tanda tangan. Selesai. Jadi dia itu, penerima beasiswa di kampus kita?" Nicholas menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


Bibir Rehan seketika menerbitkan seulas senyum penuh makna. Sementara itu, Nicholas mengrenyitkan keningnya, bingung kenapa papanya tersenyum.


"Pa, apa dia berdebat dengan kecepatan tinggi tadi?" entah kenapa Nicholas merasa penasaran.


"Ya, kira-kira seperti itulah,"


"Sudah kuduga," gumam Nicholas.


"Hmm, Maaf ya, Pa. Kalau dia membuat onar, nanti aku akan menegurnya," lanjut Nicholas lagi.


"Tidak usah! nanti kamu minta dia datang ke ruanganku saja. Ya udah, aku pergi ke ruanganku ya. Ingat, kamu suruh dia ke ruanganku!" Rehan berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Nicholas yang bingung.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2