
Dari apa yang dilihat, Nathan bisa menyimpulkan kalau diary itu sudah sangat lama. Dugaan Nathan ternyata benar, ketika melihat tahun pertama kali kakaknya itu menorehkan penanya di halaman pertama. Kalau dihitung mundur, terlihat jelas kalau kakaknya itu mulai menulis ketika pria itu masih duduk di bangku SMA.
4 Oktober xxxx
Dear diary
Hari ini, ketika aku pulang sekolah, aku melihat anak itu sedang bermain sendiri an dengan mainan yang aku beli diam-diam kemarin. Ternyata Bibi sudah memberikan padanya.
Aku melengos pura-pura tidak melihatnya ketika berlari ke arahku dengan kaki kecilnya. Tahu, apa yang dia katakan ketika dia sudah berada di dekatku? dia meminta waktuku untuk bermain bersamanya. Ingin aku memeluknya dan mengatakan 'iya', tapi apa yang keluar dari mulutku, benar -benar tidak sesuai dengan kata hatiku. Aku menolaknya mentah-mentah, bahkan memintanya untuk pergi jauh-jauh dengan alasan 'aku capek, dan tidak Sudi bermain dengannya'. Aku melihat dia tertunduk dengan wajah sedihnya, dan berjalan menjauhiku. Tapi, tahukah, aku merasa hatiku sakit, dan tanpa sadar menangis saat aku masuk kamar. Begitu susahnya melawan egoku yang sebenarnya menyayangi adik bungsuku. Aku selalu menyembunyikan rasa sayangku di balik tembok yang aku bangun sendiri.
Sebenarnya bukan tanpa alasan aku bersikap seperti itu padanya. Itu karena aku selalu mengingat kalau dia lahir dari rahim wanita yang pernah membuat mama dan papaku bercerai. Walau aku akui, wanita yang melahirkannya selalu bersikap baik padaku dan Arsen, bahkan jauh lebih baik dari mama kandung kami sendiri. Namun, aku merasa Kalau kebaikan yang ditunjukkan wanita itu hanya kamuflase untuk menutupi rasa bersalahnya. Aku beranggapan, tidak mungkin ada wanita baik yang menjadikan wanita lain menjadi seorang janda.
Nathan seketika mengingat momen itu, di mana dirinya saat itu masih berusia 7 tahun dan kakaknya itu 16 tahun.
Nathan kembali membuka lembaran kedua, ketiga, ke empat dan seterusnya, yang isinya hampir sama yaitu tentang rasa ego Angga yanga menyayangi Nathan dalam diam.
Nathan sudah berkali-kali menyeka air matanya, karena merasa terharu dengan apa yang kakaknya tulis di diary itu. Kemudian Nathan kembali berhenti di lembaran yang sangat diingatnya dengan jelas.
8 Mei xxxx
Hari ini adalah hari pertama aku melihat Nathan memberontak. Dia sudah berani membalas kata-kataku dengan ucapan yang sangat menyakitkan. Dia berkata, kalau boleh meminta, dia juga tidak ingin memiliki seorang kakak sepertiku. Aku sangat marah sekaligus merasa sakit. Tapi, aku berusaha untuk menunjukkan kalau aku tidak peduli dengan ucapannya itu. Memang itu, karena kesalahanku yang bilang kalau aku boleh memilih, aku tidak ingin memiliki adik sepertinya. Tapi, di balik itu, ada rasa senang juga yang menyelusup ke dalam hatiku dengan keberanian Nathan menjawab ucapanku. Aku merasa kalau dia sudah tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Oh ya, hari ini juga, Arsen adikku sudah berani melawanku dan membela Nathan. Entah kenapa aku merasa kalau ini disebabkan oleh Nathan. Padahal hati kecilku, sangat membenarkan apa yang diucapkan oleh Arsen saat itu,"
Nathan menghela napas dengan berat, kemudian membuka kembali lembaran berikutnya.
9 Mei xxxx
Hai Diary ....
Tahukah kamu, hari ini Nathan sudah pergi meninggalkan rumah ini. Harusnya aku senang kan? tidak! tidak sama sekali! justru sebaliknya, aku tidak merasa senang sama sekali. Kamu tahu kenapa dia memilih untuk pergi? ya, kamu benar ... dia pergi karena akhirnya dia tahu kalau dia tidak terlahir dari rahim yang sama denganku dan Arsen.
*Tadi, aku menghinanya dengan kata-kata yang sangat kasar. Aku mengatakan, kalau dia anak yang tidak pernah diinginkan kehadirannya. Aku kira dia akan menangis ataupun marah. Tapi, dia malah tersenyum. Dia mengatakan kalau air mata sudah menjadi temannya selama ini. Dia bahkan dengan penuh percaya diri mengatakan kalau dia akan membuktikan bisa hidup sendiri tanpa bantuan keluarga dan akan sukses. Ternyata adikku sudah lebih dewasa dari usianya. Dia didewasakan oleh keadaan.
Aku mengatakan padanya, kalau dia berani melangkah keluar dari rumah, aku tidak akan mengeluarkan uang sepeserpun untuk biaya kuliahnya. Sebenarnya, aku mengatakan itu, agar dia gentar dan berpikir ulang untuk tidak pergi. Namun, aku benar-benar tidak menyangka. Dia tidak gentar dan malah tetap pergi*.
__ADS_1
Aku ingin sekali mencegah di saat dia akan pergi, tapi lagi-lagi egoku lebih mendominasi dibandingkan rasa bersalahku. Mulutku terasa kaku untuk memanggilnya kembali. Entah kenapa,aku merasa kalau dia tidak akan sanggup hidup sendiri nanti di luar sana. Apa aku salah jika berharap kalau dia akan kembali lagi besok? ya ... aku berharap dia akan kembali pulang besok.
10 Mei xxxx
Hai Diary, hari ini aku berkali-kali melihat ke arah pintu, seperti menunggu kedatangan seseorang. Kamu tahu siapa yang aku tunggu? ya ... aku menunggu Nathan pulang. Tapi, sampai larut malam ini dia sama sekali belum pulang. Kira-kira di mana ya dia sekarang? untuk melepaskan rasa rinduku, aku lebih memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Aku seperti merasakan kehadirannya di kamar itu.
14 Mei xxxx
Sudah hampir lima hari Nathan pergi dari rumah, dan sepertinya tidak ada tanda-tanda kalau dia akan pulang lagi ke rumah ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang, Diary? apa aku harus menurunkan egoku, meminta dia untuk pulang? Karena sejujurnya aku khawatir pada pendidikannya, yang sebentar lagi akan ujian akhir. Tapi, apa kamu tahu aku menjadi merasa lega setelah diam-diam aku mengikutinya sewaktu pulang sekolah. Ternyata dia tinggal di sebuah apartemen dan sedang belajar dengan giat bersama seorang gadis. Entah siapa pemilik apartemen itu, yang jelas aku ingin sekali mengucapkan terima kasih padanya.
Nathan ingin sekali berhenti membaca di lembaran itu yang baru saja selesai dia baca. Namun, rasa penasaran masih bergelora di dalam hatinya. Pemuda itu kembali membuka lembaran berikutnya dengan tangan yang masih bergetar.
10 Juni xxxx
Dear Diary ....
Hari ini, adalah hari yang sangat ditunggu oleh Nathan. Kamu tahu hari apa itu? ya ... hari ini adalah pengumuman kelulusannya. Entah bisikan dari mana, aku sengaja mengambil cuti dan dorongan dari mana, mobil kulajukan menuju sekolahnya. Tapi, aku sama sekali tidak berani masuk dan hanya memandang dari jauh.
Air mata Nathan kembali merembes, membayangkan kakak sulungnya itu berdiri di tempat jauh, dan melihat interaksinya dengan Arsen.
"Kenapa sih Kakak harus bersikap gengsi seperti itu? tahu nggak kak, kalau aku ingin seperti orang lain yang bisa akur dengan saudaranya. Berantem, karena hal kecil,berkongsi pakaian dengan kakak dan banyak lagi yang ingin aku rasakan, seperti yang orang lain rasakan."
Nathan kembali membuka lembaran demi lembaran.
20 Juni. xxxx
Hai Diary, hari ini aku merasakan sakit kepala yang amat sangat. Memang, aku sudah berkali-kali merasakan sakit di kepalaku tapi selalu aku abaikan dan menganggap kalau itu hanya sakit kepala biasa. Tapi, sakit yang kurasakan kali ini benar-benar sangat sakit,. hingga akhirnya aku memutuskan untuk memeriksakannya ke rumah sakit.
Tahu tidak, aku merasa langit seakan runtuh dan semuanya menjadi gelap, ketika mendapat kenyataan kalau aku mengidap penyakit tumor otak.
Ingin rasanya aku berteriak, hidup ini tidak adil, tapi, aku langsung teringat dengan adik yang aku abaikan selama ini. Dia saja bisa kuat dan berdiri tegak padahal dia sudah merasakan ketidakadilan selama belasan tahun. Kenapa baru diberikan penyakit ini saja, aku sudah merasa kalau hidup tidak adil? Tanpa sadar, bukan Nathan yang belajar dariku, tapi aku yang belajar darinya. Aku berpikir kalau aku harus kuat dan tidak boleh lemah di depan siapapun, dan bertekad tidak boleh ada yang tahu, sekalipun itu Arsen dan Nathan.
Oh ya, hari ini begitu ingin pulang dari rumah sakit, aku tidak menyangka kalau Nathan datang menghampiriku. Aku baru tahu kalau ternyata wanita yang kubenci itu, mengalami koma. Tapi entah kenapa aku justru tidak merasa bahagia? aneh kan? aku malah ingin memeluk Nathan saat itu dan menghiburnya. Namun, lagi-lagi tembok keegoisan yang begitu tinggi kembali melarang aku untuk melakukan itu. Aku justru mengeluarkan kata-kata pedas dan menyakitkan untuknya.
__ADS_1
Nathan merendahkan harga dirinya, dengan mengaku kalah padaku. Aku sakit mendengar itu, sungguh sakit. Dia rela mengemis agar aku mau membantunya pergi jauh, padahal seharusnya dia tidak harus melakukan hal itu kan?
Asal kamu tahu, sebenarnya saat itu aku berpura-pura tetap menunjukkan rasa benciku padanya, dan berusaha untuk berdiri tegak, padahal saat itu kepalaku sudah sangat sakit. Aku mengatakan padanya, kalau aku bisa membantunya tapi itu untuk yang terakhir kalinya. Dengan berat hati aku mengatakan agar dia tidak pernah menghubungiku lagi, ketika dia sudah pergi jauh. Aku begitu sakit ketika dia menyanggupinya. Kalau kamu jadi aku, kamu juga pasti merasakan sakitnya kan Diary?
27 Juni xxxx
Hai, Diary!
*Apa kamu merindukanku? sudah seminggu ini aku mengabaikanmu. Bukan sengaja, tapi aku sedang sibuk mengurus keberangkatan adikku Nathan. Aku harus mengurus surat-surat yang dia perlukan, ke Bank untuk membuat kartu yang memiliki cabang di luar negeri. Aku juga bahkan sudah berhasil menjual 4 lukisannya yang tertinggal di rumah dengan harga yang sangat tinggi. Aku memasukkan semua uang bersamaan dengan uang kuliah yang sudah disiapkan papa dulu, ke dalam kartu itu karena itu memang haknya. Aku juga dengan ikhlas memasukkan uang tabunganku untuknya. Untuk masalah pengobatanku, aku bisa cari lagi. Hanya satu lukisan yang tersisa, yaitu lukisan yang membuatku selalu merasa bersalah. Yaitu lukisan yang dia kasih judul 'A*ku anak yang tidak terlihat'.
Entah kenapa, aku percaya kalau Nathan pasti akan memanfaatkan uang itu untuk hal yang berguna, termasuk untuk melanjutkan kuliahnya. Segitu percayanya aku padanya. Aku yakin kalau dia akan bisa sukses seperti yang dia ucapkan selama ini.
28 Juni xxxx
Hari ini adalah hari di mana adikku akan pergi jauh. Aku bersikap seolah-olah tidak peduli, padahal dari jauh aku turut mengantarkannya ke bandara. Bodoh kan aku? aku melambaikan tanganku padanya padahal dia sama sekali tidak melihatku. Aku juga bahkan berucap 'selamat jalan adikku, semoga kamu bisa sukses dan tidak akan pernah dipandang rendah oleh siapapun bahkan dunia ini, padahal dia juga sama sekali tidak mendengar ucapanku.
Pulang ke rumah, alangkah kagetnya aku begitu mengetahui kenyataan kalau selama ini aku salah paham pada Tante Naura, ibu kandung Nathan. Aku mengetahui kenyataan kalau ternyata mama yang aku anggap baik, ternyata tidak sebaik yang aku kira. Aku mengetahui kenyataan kalau ternyata mama adalah penyebab kematian papa, dan ingin melenyapkan Tante Naura.
Aku datang untuk meminta maaf pada Tante Naura, dan karena kebesaran hatinya, wanita yang pernah aku benci itu memaafkanku dengan ikhlas. Tapi, walaupun aku sudah tahu kenyataannya, aku memilih untuk tetap bungkam, saat aku tahu kalau mereka mencari keberadaan Nathan saat itu. Mungkin terdengar jahat, tapi aku punya alasan untuk itu. Aku tidak ingin mereka meminta Nathan kembali, sehingga Nathan tidak fokus untuk menggapai impiannya. Aku merasa bersalah? ya tentu saja aku merasa bersalah, tapi kembali lagi ... aku hanya ingin adikku sukses, walaupun memang kalau dia kembali ke Indonesia, dia bisa sukses. Tapi, menurutku dia akan lebih merasa puas dengan pencapaian yang dia raih sendiri, dibandingkan jika dia sukses karena mendapat bantuan dari Tante Naura yang merupakan mamanya. Aku hanya ingin dia menghargai prosesnya, daripada menumpang nama besar mamanya atau papa sambungnya.
Nathan sudah tidak sanggup lagi melanjutkan membaca lembaran-lembaran berikutnya. Hatinya benar-benar terasa sakit membaca untaian demi untaian kalimat yang digoreskan oleh kakak sulungnya itu.
"Jadi, itulah alasan kenapa jumlah uang di kartu itu sangat banyak. Ternyata Kakak sudah memikirkan segalanya. Maafkan aku, Kak. Aku tidak tahu kalau ternyata kamu mencintaiku di dalam hinaan dan makianmu," desis Nathan dalam hati.
Nathan tiba-tiba kembali teringat, di mana yang di rekeningnya selalu bertambah setiap bulan. "Apakah ini ada kaitannya dengan kakak lagi?" Nathan sontak membuka lembaran demi lembaran diary itu dan akhirnya dia menemukan jawabannya di lembaran terakhir.
Sudah 4 bulan Nathan ada di London, tapi aku akan tetap mengirimkan uang ke rekening yang kuberikan sampai aku sudah tidak kuat lagi menahan penyakitku, karena aku sadar kalau itu adalah tanggung jawabku sebagai kakak sulung. Walaupun aku tahu uang yang dia bawa sebelumnya masih sangat banyak. Tapi, aku tidak mau menggunakan uang yang merupakan haknya. Setidaknya aku merasa bisa menjadi seorang kakak sekaligus menggantikan tanggung jawab almarhum papa.
Nathan menutup diary itu dan meletakkannya di atas meja. "Bukan tanggung jawab seperti itu yang aku inginkan Kak. Yang aku inginkan, adalah pelukan dan perhatian dari kakak. Itu sudah lebih dari cukup," gumam Nathan di sela-sela isak tangisnya.
Tbc
Wow, satu bab ini 2000 kata. Yang biasanya dua bab. Kasih hadiah dong guys. Like, vote dan komen juga ya.🙏🏻🥰
__ADS_1